Aditya Brahmana: Cari Passion dan Fokus

Aditya Brahmana: Cari Passion dan Fokus

R Aditya Brahmana SKom mungkin tak akan bisa melupakan rasa depresi dan kecewanya saat tahun pertamanya mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Sebab, di ITS tidak seperti yang dia harapkan. Namun, seiring berjalannya waktu, ia akhirnya menemukan apa yang menjadi passion-nya. Bahkan, pria asal Jakarta itu berhasil mengharumkan nama ITS dengan menjadi Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Nasional 2015.

Mahasiswa S1 Teknik Informatika yang baru September lalu wisuda itu menyatakan bahwa siapapun bisa menjadi Mawapres.

“Jangan berfikir yang jadi Mawapres itu dia yang terlahir jenius dan sempurna, bukan. Itu mindset yang salah,” ujarnya dalam acara Talkshow Mawapres di gedung Pascasarjana ITS, pekan lalu seperti dirilis Humas ITS.

Menurutnya, semua orang bisa menjadi Mawapres asalkan mau mencari apa yang menjadi passion dan kekuatan pada diri masing masing.

Beban moral juga ia rasakan ketika didapuk menjadi Mawapres Nasional. “Karena yang sebenarnya bukan tentang sebelum menjadi Mawapres tapi apa yang bisa dilakukan setelah jadi Mawapres. Kita bisa bermanfaat tidak buat orang lain,” tutur Adit.

Menurut pria yang juga delegasi ITS untuk Harvard National Model United Nations (HNMUN) 2015 ini, memberikan manfaat bukan untuk diri sendiri tetapi juga ke lingkungan sekitar.

“Kalau hanya fokus buat belajar sendiri, memperkaya diri sendiri itu bukan prestasi buat saya. Bisa menjadi kebanggaan kalau apa yang kita lakukan dirasakan juga bagi orang lain,” sambung pembuat printer 3D ini.

Rasa malas tentu tidak bisa dipungkiri setiap orang, Adit membocorkan kunci melawan malas adalah dengan menemukan passion dan fokus pada passion itu. Ia bersyukur menemukan passion di tahun ke empat.

“Saya suka di electrical engineering dan komputer sains. Bisa tidak tidur bahkan sampai lupa makan kalau sudah mengutak atik sesuatu. Passion akan mengalahkan kemalasan kita,” bebernya sambil tersenyum.

Untuk mencari passion Adit menyatakan agar jangan mudah berpuas diri dengan apa yang sudah dimiliki saat ini. Terus mencari dan mengembangkan semua yang bisa dilakukan.

“Ibarat kapal di pelabuan itu aman, tapi bukan itu dibuat, kita harus menjelajah mencoba sebanyak banyaknya. Gagal itu biasa,” ujar pria yang saat ini menjadi marketing manager Go-Box & Go-Kilat di Go-Jek Indonesia.

Tahap belajar pasti dilalui semua orang, Adit mengatakan bahwa semua orang hebat mengawali dirinya dari seorang pemula dan kegagalan.

“Jangan membatasi diri kalian, ketika kalian tahu kekuatan kalian tentukan visi kalian mau jadi seperti apa, dan cari juga siapa role model kalian,” tutur Adit yang pernah menjadi Presiden Djarum Beasiswa Plus Surabaya Chapter.

Tidak hanya soal mengejar nilai ketika menjalankan perkuliahan, menurut pribadinya yang paling penting justru tentang segala macam pengalaman dan pembalajaran yang bisa didapat.

“Itu jadi bekal besar untuk hidup ke depan, tidak hanya sebatas nilai ada hal yang lebih besar. Yang dilihat adalah proses bukan nilai akhir,” ungkap peraih Technopreneurship Muda 2013 itu.

Pada akhir sesi dia mengatakan bahwa ada tiga tipe pemuda saat ini, yang pertama pemuda yang pintar tetapi tidak peduli dengan negara, hanya ingin memperkaya diri sendiri. Kedua pemuda yang tidak pintar dan tidak peduli dengan negaranya. Dan ketiga pemuda yang pintar dan peduli dengan negaranya.

“Kita semua harus bisa jadi pemuda yang ketiga. Kalau yang disini saja bisa menjadi pemuda yang ketiga, saya yakin Indonesia akan sangat maju kedepannya,” tutup Adit. (sak)

Bagikan artikel ini