Ajari Kepedulian Sosial Lewat Dongeng

Ajari Kepedulian Sosial Lewat Dongeng

Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) yang tergabung dalam kepanitiaan Desa dan Kampung Mitra (Deputra) BEM FIB UNAIR mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat di RT 1 RW 7 Karang Menjangan, Minggu (28/10) lalu.

Kegiatan serangkaian tersebut dilakukan tiap hari Minggu, dimulai dari (28/10) sampai (25/11). Sebagai pembuka, kegiatan ini dilakukan dengan memberi pengajaran kepada anak-anak melalui dongeng.

Tujuannya agar anak-anak lebih mudah menyerap hal-hal positif lewat cerita. “Karena mungkin dongeng itu lebih mudah dipahami anak-anak ya,” terang Intan, ketua panitia Deputra.

Pada pembukaan program Deputra itu, panitia sengaja memfokuskan kegiatan pada dongeng dengan menghadirkan pendongeng yang ekpresif.

Dongeng tersebut semakin seru dengan adanya boneka tangan yang dimainkan oleh komunitas Maja (Imaji Airlangga). Dihadapan belasan anak-anak, mereka menampilkan cerita persahabatan Yuli, Dodi, dan Riza yang diberi judul ‘Kepedulian Sosial’.

Tiga ratus lima puluh ribu, kamu serius dedi? Aku nggak mau ngrepoti kamu dengan bantu biaya pendidikanku.

Ya serius dong, segitunya apa coba, kamu temen aku, aku temen kamu, temen peduli sama kondisi temennya. Jadi kalau kamu sedang kesulitan, ya aku bantu. Aku bisa minta ke orang tuaku biar kamu nggak putus sekolah.

Ketika mendengarkan petikan percakapan antara tokoh Dodi dan Riza, anak-anak begitu asik memperhatikan. Bahkan pada sesi tanya jawab, mereka saling unjuk tangan untuk menjawab nama, alur, dan amanat yang disampaikan penyaji dalam dongeng.

Ketua RT 1 Wiji Lestari mengaku senang dengan kehadiran mahasiswa FIB yang mengadakan pengabdian masyarakat di tempatnya. Menurutnya, dongeng bisa menjadi penanaman pendidikan karakter yang efektif untuk dikembangkan.

“Bagus sekali dongengnya tadi. Anak-anak juga menikmati. Seharusnya mereka itu butuh kayak gini. Jarang lho, mereka mendapat kegiatan seperti ini. Mudah-mudahan ini bisa diteruskan, dan anak-anak bisa lebih semangat lagi untuk belajar. Biar nggak gadget-gadget terus,” tukas pegiat aktivis bank sampah Karang Menjangan tersebut. (ita)

Bagikan artikel ini