Andika Berjuang Bisa Terus Kuliah

Andika Berjuang Bisa Terus Kuliah

Mohammad Andika Alfarisi sempat ragu untuk segera membuka pengumuman SNMPTN. Keraguannya makin bertambah manakala melihat teman-temannya di SMA Negeri 10 Padang menangis karena tidak lolos.

Andika yang saat pengumuman berada di sekolah ikut deg-degan dan cemas. Merasa khawatir tidak diterima, ia pun tak mau berlama-lama di sekolah dan memutuskan pulang ke rumah.

Di perjalanan pulang ke rumah, pikiran Andika berkecamuk membayangkan teman-temannya yang tidak lolos SNMPTN. Sesampainya di rumah ia sejenak menenangkan diri.

Di sudut ruang tamu rumah tinggalnya, Andika diam-diam mengeluarkan handphone. Kebetulan rumah saat itu lagi sepi, ia pun kemudian searching internet pengumuman SNMPTN.

“Di rumah, pas buka itu tanda langsung hijau, saya kepalkan tangan. Saya teriak kecil, lolos-lolos karena kalau tidak lolos merah, itu hijau, saya langsung sujud syukur,” ucap Andika, seperti dilaporkan Humas UGM.

Di lantai rumahnya, dengan sedikit terisak tak henti-hentinya Andika mengucap syukur. Ibunya, Mardanita, yang tahu dari dapur pun langsung memeluknya.

“Begitulah ceritanya, alhamdullilah seneng banget bisa lolos SNMPTN dan diterima di Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik UGM, ini pilihan pertama saya,” kata Andika saat ditemui di rumahnya di Jalan Raya Korong Gadang RT 003 RW 002, Kecamatan Kuranji, Padang, belum lama lalu.

Tidak mau lama larut dalam kegembiraan, Andika saat itu bergegas menuju masjid sebelah rumah untuk salat. Sebelumnya ia sempat meminta uang kepada ibunya untuk diinfakkan.

“Ya yang ada di dompet ibu hanya 10 ribu, saya minta, ya sudah seadanya pokoknya untuk infak,” katanya.

Begitulah kebiasaan Mohammad Andika Alfarisi jika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan dan membahagiakan, ia selalu teringat untuk membaginya pada orang lain. Apapun bentuknya, ia selalu berusaha berbagi dengan orang lain agar mereka juga merasakan kebahagiaan.

Mohammad Andika Alfarisi lahir di Padang, 11 Agustus 2000. Ia terbiasa cemerlang menyelesaikan pendidikan, baik di tingkat pendidikan SD di Madrasah Korong Gadang, Madrasah Ibtidaiyah Model Padang dan SMA Negeri 10 Padang.

“Alhamdullilah, sewaktu di SD ranking satu terus sampai tamat, di SMP sudah banyak persaingan karena SMPnya juga lumayan favorit. Jadi, saya waktu itu masuk lokal unggul, semua yang disitu siswa-siswa berprestasi yang nilainya hanya berselisih 0,1 atau 0,2 jadi cukup ketat untuk bisa bersaing di 10 besar dan itu berlangsung hingga SMA,” ucap Andika.

Andika bercerita selepas lulus dari bangku Madrasah Ibtidaiyah Model Padang, ia berusaha keras untuk bisa sekolah di SMA Negeri 10 Padang. Sebab, dengan bersekolah di SMA tersebut bisa menjadi pintu sekaligus membantu mewujudkan cita-citanya untuk kuliah di perguruan tinggi.

SMA Negeri 10 Padang memang merupakan salah satu sekolah favorit di Kota Padang. Atas kebijakan Walikota Padang maka beberapa sekolah favorit, termasuk SMA Negeri 10 Padang diperbolehkan menerima calon siswa dengan jalur tes.

“Sekolah-sekolah favorit itu, ada SMA I, SMA 3 dan SMA 10. Ketiga sekolah tersebut memang ada jalur tes untuk penerimaan siswa baru. Cara mendaftar dengan menggunakan seleksi rapor, lanjut ujian dan setelah itu dinyatakan lolos tidaknya. Penerimaan jalur lainnya adalah online dengan memakai nilai NEM,” terang Andika.

Lolos seleksi SNMPTN, Andika mengaku tidak memiliki jurus-jurus khusus. Ia hanya merasa beruntung memiliki teman-teman akrab yang enak untuk diajak belajar kelompok.

Kedua teman karibnya di SMA Negeri 10 Padang, itu pun juga lolos seleksi SNMPTN. Keduanya adalah M. Kevin Rozal dan Fauzul Akmal Huda.

Bahkan, keduanya juga diterima kuliah di UGM. Kevin Rozal diterima di Program Studi Ilmu Komputer FMIPA UGM dan Fauzul Akmal Huda pada Program Studi Ilmu Statistika FMIPA UGM.

“Tambah seneng, kami bertiga berkumpul lagi di UGM, meski beda fakultas,” katanya.

Dalam belajar, Andika mengaku kurang telaten dalam hal membaca buku. Apalagi, membaca buku-buku yang tebal. Baginya membahas soal lebih asyik karena bisa mendapatkan materi sekaligus terbiasa berlatih memecahkan masalah.

Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika nilai-nilai mata pelajaran matematika dan fisika paling menonjol. Semenjak semester X, XI dan XII nilai rata-rata rapor Andika di atas 90 dan memiliki kecenderungan naik.

“Jika di rumah saya sebenarnya jarang belajar, apalagi baca buku. Sukanya lebih sering bahas-bahas soal. Pulang sekolah kami bertiga sering bimbel untuk bahas-bahas soal-soal bersama,” katanya.

Kebersamaan Andika, Kevin dan Fauzul Akmal sudah seperti saudara. Ketiganya sangat dekat satu sama lain. Bahkan, Kevin dan Fauzul sering menyisihkan uang untuk Andika karena mereka tahu Andika berasal dari keluarga tidak mampu.

Seperti remaja lainnya, mereka bertiga pun tidak hanya belajar dan belajar. Ketiganya terkadang suka makan bareng, main hingga mendaki gunung bareng.

“Meski begitu kita tidak hanya hang out saja, kalau saatnya belajar ya belajar, waktunya libur yang ke luar main biar tidak tres,” ucap Andika.

Meski bertiga lolos SNMPTN dan diterima kuliah di UGM, hanya Andika yang kini berjuang untuk terus bisa lanjut kuliah. Sebagai anak tukang ojek yang bergaji antara 1 – 2 juta per bulan, dana tentu menjadi persoalan. Apalagi, Andika masih memiliki adik, Tasya Ratumelinda Indah Putri, yang masih bersekolah di MTs Kuranji, kelas VIII.

Andika menuturkan sesungguhnya ia mendaftar SNMPTN jalur Bidik Misi. Entah kenapa, sewaktu mau mendaftar ulang tidak lolos program Bidik Misi.

“Pas pengumuman UKT tidak lolos, harus bayar 4 juta dan masuk golongan III. Sempat kaget dan bingung, namun demi daftar ulang bapak mencarikan pinjaman. Takutnya semuanya lewat karena hanya dibatasi dua hari setelah pengumuman dan harus transfer,” tuturnya.

Andika memang memiliki pribadi yang tidak mudah putus asa, sewaktu diadakan ujian Accept dan pengambilan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM), ia coba-coba memberanikan diri datang ke Direktorat Kemahasiswaan, Gedung Pusat UGM. Ia menceritakan segalanya soal pengajuannya mengikuti Program Beasiswa Bidik Misi.

“Di bagian kemahasiswaan saya ketemu bu Utik, dikasih berkas lagi, mudah-mudahan pengajuan yang ini nanti bisa lolos, biar meringankan beban bapak dan tidak mencari-cari pinjaman,” ucapnya berharap.

Andika memiliki motivasi kuat untuk terus kuliah. Ia tidak ingin seperti kakaknya, Satria Mardiansyah, yang selepas lulus SMA hanya bekerja serabutan setelah gagal masuk kuliah dan gagal mendaftar polisi.

Andika berkeinginan menjadi contoh baik untuk adiknya, Tasya Ratumelinda, agar rajin belajar dan meraih prestasi. Ia pun berkeinginan suatu saat nanti bisa membantu keluarga setelah lulus kuliah dan bekerja.

Oleh karena itu, di saat libur menunggu dimulainya perkuliahan, ia pun mencoba sebagai tukang ojek di kota Padang. Seperti ayahnya, ia tak sungkan-sungkan antar jemput penumpang sebagai tukang ojek online..

“Ini tadi baru dapat dua penumpang. Iseng-iseng dari pada di rumah, siapa tahu nanti bisa untuk “sangu” ke Jogja,” ujar Andika yang bercita-cita ingin menjadi pengusaha.

Prestasi yang diraih Andika ini membuat bangga ayahnya, Irwansyah, dan ibunya, Mardanita. Bahkan, teman-teman dan tetangga Andika juga mengaku bangga dan senang karena ada anak dari Korong Gadang mampu menembus perguruan tinggi.

“Dari SD dan SMP sebenarnya sudah nampak, saya hanya berdoa saja sejak SMP karena sudah mulai-mulai ngarah kemana. Pokoknya saya berdoa saja, dan mudah-mudahan dapat SMA yang baik, nah dari situ semuanya berjalan. Saya hanya bisa berdoa, mau membimbing seperti apa tidak bisa,” ujar Irwansyah.

Irwansyah menuturkan, Andika sewaktu di bangku SMP mendapat beasiswa. Kemudian saat bersekolah di SMA 10 Padang yang notabene SMA favorit gratis alias tidak dipungut biaya.

“Kebetulan di SMA gratis, padahal sebelumnya uang masuk SMA Negeri 10 Padang sekitar 3,5 juta. Pas Andika masuk ada kebijakan Walikota tidak ada biaya pungutan untuk siswa baru,” tuturnya.

Kini, di tengah kegembiraan Andika diterima kuliah di Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik UGM, Irwansyah gundah memikirkan kelanjutan kuliah anaknya. Program beasiswa Bidik Misi yang pernah diajukan hingga kini belum mendapat kejelasan.

“Ya sebenarnya rumah saja, saya ini masih numpang di mertua. Dengan gaji 2 juta, tentu berat bagi saya. Tapi ya berdoa saja semoga ada jalan nantinya bagi Andika untuk terus belajar di UGM,” ucap Irwansyah berkaca-kaca. (ugm)

Bagikan artikel ini