Anomali Cuaca, Harga Kopi Naik
CANGKIR KOPI PERISTIWA

Anomali Cuaca, Harga Kopi Naik

Produksi kopi 2017 diperkirakan tidak jauh berbeda dengan tahun lalu. Anomali cuaca pada tahun lalu cukup berpengaruh. Dampaknya, harga kopi arabika maupun robusta mengalami kenaikan.

Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia (Apeki) Jatim Bambang Sriono menyatakan, pada tahun lalu produksi kopi Jatim tercatat sekitar 67 ribu ton. Sedangkan 2015 mencapai 65 ribu ton. ”Perkiraan kami, produksi kopi sama dengan tahun lalu. Kalaupun turun, jumlahnya tidak banyak, minimal sama dengan 2015,” katanya.

Dampak anomali cuaca pada 2016 baru terasa tahun ini. Sementara itu, mengenai proyeksi produksi kopi pada tahun depan, pihaknya berharap bisa tumbuh. “Mudah-mudahan intensitas hujan yang cukup tinggi pada tahun ini tidak berpengaruh signifikan ke produksi,” lanjut Bambang.

Biasanya, musim panen kopi jenis arabika berlangsung pada Mei. Lalu, jenis robusta mulai panen pada Juli. Karena produksi tahun ini (2017) tidak banyak, harga jual kopi terkerek. Sekarang harga robusta untuk jenis fine robusta bisa mencapai Rp 40.000 – Rp 50.000 per kg. Selanjutnya, kopi asalan dibanderol Rp 27.000 – Rp 28.000 per kg. Kalau dibandingkan dengan 2016 lalu, terdapat kenaikan harga.

Harga fine robusta saat itu hanya Rp 30.000 – Rp 35.000 per kg, sedangkan kopi asalan Rp 22.000 – Rp 25.000 per kg. ’’Harganya belum pernah setinggi sekarang. Tapi, harga kopi memang fluktuatif sesuai dengan suplai dan permintaan,’’ paparnya.

Begitu pula untuk jenis arabika yang sekarang mencapai Rp 75.000 – Rp 90.000 per kg. Harga tertinggi tersebut dibanderol untuk jenis specialty. Padahal, tahun lalu harganya hanya Rp 50.000 – Rp 65.000 per kg. (ant)