Aura Magis di Festival Jaranan Buto

Aura Magis di Festival Jaranan Buto

Festival Jaranan Buto bakal digelar 11 Maret 2017 di Lapangan Jajag, Gambiran, Banyuwangi. Lebih dari 30 grup kesenian yang masing masing terdiri dari penari dan penabuh akan tampil memeriahkan festival. Pertunjukan Seni Tari Jaranan Butho akan dipentaskan mulai pukul 10.00 hingga pukul 17.00 WIB.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas didampingi Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi MY Bramuda mengatakan, dalam perhelatan ini lebih dari 30 grup kesenian yang masing masing terdiri dari penari dan penabuh akan menghidupakan Lapangan Jajag, Gambiran, Banyuwangi tempat perhelatan tersebut.

Untuk memajukan pariwisata Banyuwangi, Pemkab tidak hanya melibatkan pemerintahan saja, tapi juga bekerja sama dengan komunitas dan masyarakat setempat.

“Penyelenggaraan Festival Jaranan Buto ini tidak hanya untuk mendongkrak sektor wisata, tetapi juga sekaligus untuk mewadahi dan menumbuhkan kreativitas rakyat Banyuwangi, maka dari itu, kami tunggu di Banyuwangi dan nikmati keindahan alam dan budaya kami, ini acara yang sangat menarik,” ungkap Bupati Azwar Anas.

Anas menambahkan, tari Jaranan Buto adalah tari yang menggunakan properti kuda buatan. Menyaksikan kesenian ini sepintas mirip dengan kesenian Kuda Lumping, Jaran Kepang atau Tari Jathilan.

Bedanya, properti kuda pada tarian Jaranan Buto yang digunakan tidaklah menyerupai bentuk kuda secara nyata, melainkan kuda tersebut berwajah raksasa atau Buto.

Begitu pula dengan para pemainnya yang juga menggunakan tata rias sadis dan menyeramkan layaknya seorang raksasa (buto) yang lengkap dengan muka merah bermata besar, bertaring tajam, berambut panjang dan gimbal.

Bramuda menambahkan, bahwa 30 grup bisa bertamabah sampai nanti hari Pelaksananan. Seni Tari Jaranan Butho 2017 akan dipentaskan mulai pukul 10.00 hingga pukul 17.00 WIB.

Satu grup biasanya terdiri 6-8 orang penari dengan 8-12 orang penabuh musik. Mereka nantinya akan menari dengan menggunakan replika Kuda Kepang yang terbuat dari kulit lembu yang dipahatkan karakter raksasa.

Tari Jaranan Buto dalam pementasannya diiringi alunan musik seperti kendang, dua bonang, dua gong besar, kempul terompet, kecer (seperti penutup cangkir) yang terbuat dari bahan tembaga dan seperangkat gamelan.

Seni tari Jaranan buto dalam perkembangannya memiliki inovasi yang diantaranya adalah variasi musik pengiringnya dan tata rias penarinya, kostum yang dikenakan oleh penarinya mengalami inovasi begitu pesat setiap tahun. “Klimaksnya para penari yang mentas bisa sampai kesurupan dan asik untuk ditonton,” katanya.

Bramuda menambahkan unsur magis kesurupan memang kerap malah menjadi atraksi yang ditunggu-tunggu pengunjung. Saat kesurupan penari tersebut tidak sadar dan akan mengejar orang yang menggodanya dengan siulan.

Bahkan saking agresif dan kegilaanya penari yang sudah dalam keadaan tak sadarkan diri tersebut mampu memakan kaca, api, ayam hidup dengan mengigit kepalanya hingga ayam tersebut mati.

“Tidak hanya para penari saja yang bisa kesurupan, bahkan para penonton yang berada di sekitar lokasi tak jarang terkena juga. Jadi sangat unik,” katanya berpromosi.

Tetapi jangan panik! dalam kesenian masyarakat paling timur ujung Jawa ini, telah dikendalikan pawang yang bertanggung jawab untuk menyadarkan kembali para penari atau penonton yang ikut kesurupan.

“Filosofi yang terkandung merupakan perwujudan upaya manusia untuk menjadikan hawa nafsu angkara murka buto di wujudkan gambaran kesatria yang menaiki sosok buto,” tambahnya.

Kesenian ini memiliki beberapa kisah (cerita) dan gerakan tari yang berbeda-beda, sehingga hal ini menjadi sebuah pementasan yang unik. Keunikan seni ini meliputi inti cerita, (sinopsis cerita) kostum penari, dan iringan gamelan yang berbeda dengan kesenian jaranan secara umum.

Kesenian Jaranan Buto sendiri adalah akulturasi kesenian jaranan Sendrewi, Pegon dengan budaya lokal Banyuwangi.

Istilah Jaranan Buto mengadopsi nama tokoh legendaris Minakjinggo, berdasarkan anggapan bahwa Minakjinggo adalah seorang yang berkepala raksasa, yang dalam bahasa Jawa disebut buto.

Sedangkan pemakaian replika kuda dalam kesenian ini ada filosofinya bahwa kuda menggambarkan semangat perjuangan, sikap ksatria dan unsur kerja keras tanpa kenal lelah didalam setiap kondisi.

Menurut literatur, sejarah kesenian Tari Jaranan Buto dimulai dari Dusun Cemetuk, yakni sebuah dusun kecil sebagai bagian dari wilayah administratif Desa Cluring dalam lingkup Kabupaten Banyuwangi.

Letak Dusun Cemetuk yang berbatasan dengan wilayah kecamatan Gambiran menjadikan masyarakatnya mendapatkan pengaruh kebudayaan masyarakat Jawa Mataraman dari wilayah Gambiran. Masyarakat Gambiran sendiri sebagian besar masih memiliki garis keturunan trah Mataram.

Dari pengaruh-pengaruh tersebut kelahiran kesenian Jaranan Butho dikatakan sebagai bentuk Akulturasi Budaya yang sangat unik, yakni merupakan perpaduan Kebudayaan Osing (Suku asli Banyuwangi) dengan kebudayaan Jawa Mataraman.

Beberapa tokoh yang menjadi pencetus kesenian Jaranan Buto adalah Darni Wiyono (76), warga Dusun Cemetuk, Kecamatna Cluring, Setro Asnawi dan Usik asal Dusun Tanjungrejo, Kecamatan Bangorejo.

Di Banyuwangi kesenian Jaranan Buto sangat populer. Ini bisa dibuktikan dengan adanya paguyuban Jaranan Buto di hampir semua Kecamatan di Banyuwangi. Setidaknya terdapat 150 kelompok Jaranan Buto yang terdaftar, namun yang aktif sekitar 126 kelompok.

Hal ini terjadi karena ada penari yang bergabung dengan dua paguyuban yang berbeda. Dan dalam setiap penampilan Jaranan Buto, bisa dipastikan selalu mengundang banyak penonton. (sak)

Bagikan artikel ini