Bahan Industri Dominasi Impor Jatim

Bahan Industri Dominasi Impor Jatim

Sampai September 2017, impor Jawa Timur masih didominasi bahan baku dan penolong dengan nilai 1,54 miliar dollar AS dan memberikan peran sebesar 81,58 persen. Jatim masih membutuhkan impor bahan baku untuk kelangsungan industri.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Teguh Pramono dalam rilisnya kepada media Surabaya, Selasa (14/11) mengatakan, impor barang-barang konsumsi berada diurutan berikutnya dengan peran sebesar 9,90 persen atau 0,19 miliar dollar AS. Barang-barang modal merupakan golongan barang yang paling sedikit diimpor Jawa Timur dengan peran sebesar 8,52 persen atau 0,16 miliar dollar AS.

Sedangkan komoditi minyak kondensat menjadi komoditi impor dengan nilai tertinggi pada September 2017 sebesar 116,46 juta dollar AS yang naik 16,26 persen dibanding bulan sebelumnya.

Peringkat kedua dan ketiga ditempati oleh bahan bakar motor lainnya, tanpa timbal, dan komoditi hasil dari ekstraksi minyak kacang kedelai lain dengan nilai berturut-turut 111,18 juta dollar AS naik 33,77 persen dan 79,10 juta dollar AS naik 81,49 persen.

Selama Januari sampai September 2017, bahan bakar motor lainnya, tanpa timbal menjadi komoditi terbesar impor dengan nilai 620,34 juta dollar AS, sedangkan minyak kondensat menjadi komoditi terbesar kedua dengan nilai 594,23 juta dollar AS.

Jika dilihat menurut peranan impor, maka Tiongkok tercatat sebagai negara asal barang utama pada September 2017 baik diantara negara-negara Asia maupun dunia dengan peranan sebesar 28,54 persen.

Sementara Amerika Serikat memberikan kontribusi pada pasar impor Jawa Timur sebesar 6,89 persen, selanjutnya diikuti Thailand dengan kontribusi sebesar 5,00 persen.

Kelompok negara ASEAN masih menjadi salah satu pemasok utama barang komoditi nonmigas ke Jawa Timur pada Januari-September 2017. Thailand menjadi negara utama dengan peranan sebesar 4,46 persen dari total ekspor Jawa Timur.

Selanjutnya diikuti Singapura dengan peranan sebesar 3,69 persen dan Malaysia sebesar 2,95 persen. Pada kurun waktu sembilan bulan terakhir, hanya barang impor dari Thailand yang mengalami kenaikan tipis sebesar 0,20 persen,sedangkan negara lainnya mengalami penurunan.

Hampir semua negara di kelompok negara Uni Eropa mengalami penurunan impor. Hal ini perlu dicermati lebih lanjut, apakah ada penurunan minat beli dari kawasan Eropa, atau pengalihan pangsa pasar.

Diantara impor Jawa Timur dari negara-negara Uni Eropa, impor dari Jerman adalah yang terbesar pada Januari-September 2017 yaitu mencapai 3,75 persen dengan nilai impor mencapai 59,20 ribu dollar AS kemudian diikuti oleh Italia yang mencakup 1,78 persen dengan nilai impor mencapai 26,85 ribu dollar AS.

Selanjutnya negara Eropa lainnya yang merupakan negara pengirim barang ke Jawa Timur adalah Belanda dengan peranan sebesar 0,65 persen.

Nilai Impor Jawa Timur September 2017 mencapai 1,880 miliar dollar AS atau naik 6,50 persen dibandingkan Agustus 2017 sebesar 1,766 miliar dollar AS. Angka ini naik 25,33 persen dibandingkan dengan September 2016.

Sedangkan secara komulatif impor Jawa Timur Januari-September 2017 sebesar 15,976 miliar dollar AS naik 19,83 persen dibandingkan impor Januari-September 2016 sebesar 13,331 miliar dollar AS. (ita)

Bagikan artikel ini