Bandara Banyuwangi Disuntik Rp 400 Miliar

Bandara Banyuwangi Disuntik Rp 400 Miliar

Pesatnya pertumbuhan pariwisata di Banyuwangi, direspons positif PT Angkasa Pura II. Bandara Banyuwangi akan digelontorkan dana hingga Rp 400 Miliar. Perpanjangan runway hingga perluasan parkir menjadi target utama.

“Pertumbuhan pariwisata di Banyuwangi sangat cepat. Banyuwangi punya prospek yang sangat bagus. Kondisi ini harus terus didukung. Untuk itu, anggaran Rp 400 Miliar disiapkan untuk pengembangan bandara,” ungkap Dirut PT Angkasa Pura II Bandara Banyuwangi M Awaluddin, akhir pekan lalu.

Bandara Banyuwangi ditargetkan bisa menampung 7 pesawat. Rinciannya, 6 pesawat berbadan ramping jenis Boeing 737-500. Ditambah tempat parkir 1 pesawat badan lebar ala Boeing 747. Untuk itu, apron bandara akan diperluas jadi 1,8 hektare.

Diterangkan Awaluddin, alokasi anggaran untuk bandara ini sebenarnya Rp 300 Miliar. Namun, jumlah investasi ditambah Rp 100 Miliar.

“Sebenarnya, anggaran pengembangan Bandara Banyuwangi Rp 300 Miliar. Tapi anggarannya sengaja kami tambah Rp 100 Miliar. Kami lihat potensi besar ada di sana, makanya digenapi menjadi Rp 400 Miliar. Ke depan Bandara ini banyak fungsinya,” lanjutnya.

Skenario besar telah disiapkan untuk Banyuwangi. Nantinya, bandara di sana akan diplot sebagai penyangga Bandara Ngurah Rai, Bali. Utamanya untuk pertemuan IMF-World Bank, Oktober mendatang.

Bersama Lombok, Banyuwangi akan menjadi lokasi alternatif parkir pesawat peserta pertemuan tersebut. Menurut Awaluddin, ada keuntungan lain yang bisa diraih dari kebijakan ini. “Kalau semua parkir di Denpasar itu tidak mungkin. Alternatifnya Banyuwangi dan Lombok. Mereka sekalian bisa berwisata di sana,” terangnya.

Untuk mendukung rencana itu, landasan Bandara Banyuwangi sedang diperpanjang menjadi 2.500 meter. Nantinya, bandara ini akan memiliki lebar 30 meter. Pengembangan runway ditarget kelar Agustus. Dijelaskan Awaluddin, panjang runway akan ditingkatkan lagi menjadi 2.800 meter dan lebar 45 pada 2019.

“Runway akan terus dikembangkan. Rencana ini harus didukung anggaran besar. Bandara Banyuwangi akan dikembangkan jadi internasional. Jadi, para wisman bisa langsung ke Banyuwangi,” jelasnya.

Untuk sementara, Bandara Banyuwangi masih melayani flight domestik. Ada empat maskapai yang melayani penerbangan rute Jakarta dan Surabaya. Mereka adalah Garuda Indonesia, Wings Air, Nam Air, dan Citilink. Total ada 14 flight yang keluar-masuk daerah yang dijuluki The Sun Rise of Java itu.

Awaluddin pun menerangkan, potensi kerjasama dengan beberapa maskapai internasional terus dilakukan. “Beberapa maskapai internasional sedang dijajaki. Salah satunya Jetstar dari Australia. Pihak Jetstar sangat tertarik. Mereka bahkan sudah buat analisa dan kajian-kajian. Survey lapangan juga sudah dilakukan. Jetstar juga meminta penambahan fasilitas bandara, seperti counter keimigrasian,” terangnya.

Potensi rute internasional ke Malaysia dan Singapura juga digali. Geliat bandara milik The Sun Rise of Java sebanding dengan arus masuk wismannya.

Pada 2017 lalu, sekitar 91.000 wisman masuk Banyuwangi. Padahal, pada 2010 kunjungan wisaman hanya tercatat 5.205 orang. Peningkatan ini membuat Banyuwangi mampu meraup devisa hingga Rp 546 Miliar.

Perkembangan tadi langsung direspon Menteri Pariwisata Arief Yahya. “Kemampuan Banyuwangi mendatangkan wisatawan sangat bagus. Hampir 100.000 wisman setahun. Angka ini sangat bagus, terutama bagi industri penerbangan. Sebab, pariwisata Banyuwangi baru saja berbenah,” jelas Menpar.

Lonjakan besar juga terjadi pada wisnus. Angka 497.000 wisnus di 2010, melonjak jadi 4,01 juta orang pada 2016. Menurut Menpar, destinasi Banyuwangi sangat memenuhi 3A, yaitu amenitas, aksesibilitas, dan atraksi.

“Kemenpar terus mendorong daerah untuk maju. Untuk Banyuwangi, atraksi, amenitas, dan aksesibilitas sudah bagus. Agar potensi ini terus berkembang, maka membuka rute internasional jadi opsi ideal,” pungkasnya. (ist)

Bagikan artikel ini