Barong Millenial di Pantai Serang Blitar

Barong Millenial di Pantai Serang Blitar

Berbeda dengan kesenian Reog konvensional, kesenian Reog Barong termasuk Jaranan banyak diminati para ABG dan millenial di daerah Mataraman Jawa Timur.

Pada Selasa (11/9) lalu, bertempat di Pantai Serang, Blitar diadakan festival Reog Barong untuk memperingati 1 Syawal 1440 yang diikuti 70-an paguyuban dibawah naungan Laskar Barong Nusantara.

Paguyuban ini anggota-anggotanya berasal dari Blitar, Kediri, Tulungagung, Malang, Nganjuk, Jombang dan Jakarta.

Dwi Handoko, Kepala Desa Serang yang masih berusia muda menjadi penggagas festival yang sudah masuk tahun kedua ini. “Ini festival dari, oleh dan untuk rakyat alias swadaya. Seluruh peserta datang secara mandiri dan bahkan berkontribusi kepada panitia desa,” katanya.

Festival ini istimewa karena para pemain usia muda mendominasi festival, termasuk adanya lonjakan jumlah partisipan perempuan yang sama lincahnya ketika menari memainkan Barong.

Pembuatan Barong juga mengalami kemajuan, menjadi karya seni bernilai tinggi, yang salah satunya mencapai harga Rp 20 juta.

Salah satu Barong unik menggambarkan kepala penyu, tampaknya dibuat untuk menguatkan keterkaitan dengan habitat pantai.

Kades Dwi Handoko menjelaskan sedang menggagas Barong khas Blitar yaitu Dewa Penyu. “Kami sedang siapkan koreografi khusus, gamelannya, dan kelak semoga bisa ditarikan secara masal,” imbuhnya.

Dalam sambutannya, Eva Sundari, anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan memberikan apresiasi atas kreatifitas manusia yang akan menjadi penentu untuk memenangkan kompetisi lokal dan global yang makin bernuansa robotik akibat kemajuan teknologi.

“Reog Barong bisa berperan dalam memajukan ekonomi kreatif berbasis budaya yang pasti diperlukan untuk mendongkrak indeks kompetisi Indonesia,” katanya.

Lebih lanjut, Eva Sundari berharap agar pembangunan Jalur Lingkar Selatan di wilayah Kab Blitar segera dieksekusi pemerintah pusat supaya potensi-potensi masyarakat terfasilitasi menjadi kekuatan ekonomi yang efektif.

“Blitar sebagai Bumi Bung Karno, tertantang untuk menunjukkan kecerdasan spiritual seni budaya yang menjadi roh pembangunan di wilayah ini,” kata Eva Sundari menyemangati para pembarong dan pekerja seni lainnya yang hadir. (sak)

Bagikan artikel ini