Batik Gedog Tuban di House of Sampoerna

Batik Gedog Tuban di House of Sampoerna

Sebanyak 35 batik Gedog yang berasal dari Kabupaten Tuban dipamerkan di Galeri Seni House of Sampoerna (HoS) 7-29 Oktober mendatang. Batik dengan berbagai ragam warna, corak dan motif sengaja tampilkan karena dibanding batik lainnya, Gedog punya keunikan dan ciri khas tersendiri.

Rani Anggraini, Manager Museum dan Marketing HoS mengatakan, pameran kali ini bekerjasama dengan sejumlah penggiat batik yang tergabung dalam Komunitas Batik jawa Timur di Surabaya (KIBAS).

“Macam batik Gedog diantaranya, Lisan Kotong, Rengganis, Gringsing, Kijing Miring, Kasatrain, Kembang Waluh, Kembang Kluwih, Guntung, Ganggeng, Lok Can dan Oal Awil ditampilkan lengkap dengan filosofinya,” katanya, Rabu (5/10).

Alasan ditampilkannya batik Gedog dalam pamerah bertema ’Another Side of Batik Gedog’ itu tidak lain karena Gedog proses pembuatannya dari kain tenun. Sedang bahan dasar kain batik kebanyakan dari mori atau katun.

Cara pembuatan kain juga melalui proses cukup panjang. Mulai dari pemintalan dari bahan kapas yang banyak di Tuban dibuat menjadi kain dengan menggunkaan alat tenun tradisional.

Suara dog…dog…dog yang keluar dari bunyi alat tenun itulah yang mengilhami para perajin tenun menamai batiknya dengan batik Gedog. Karena setelah menjadi sebuah kain, proses pembatikan dilakukan.

Keunikan lain juga terjadi saat proses pewarnaan. Tekstur kain Gedog yang cenderung kasar ini dibatik menggunakan pewarna alam dari tanaman disekitar yang disebut Nila atau Nila dalam bahasa Indonesia.

Ketua KIBAS Lintu Tulistyantoro ketika dikonfirmasi alasannya menampilkan batik Gedog mengatakan, banyak keistimewaan dibandingkan batik lainnya yang ada di Indonesia. “Batik Gedog dari Tuban itu sangat spesifik, unik dan tidak ada duanya di Indonesia,” katanya.

Diantaranya, batik Gedog benar-benar dibuat dari alam. Misalkan mulai dari proses pembuatan kainnya juga terbuat dari kapas, pemintalan untuk jadi tenun hingga pewarnaannya yang juga mengambil bahan-bahan tumbuhan dari lingkungan sekitar.

“Penggunaan bahan-bahan alami itulah yang menjadikan batik Gedog terlihat eksotik dan sangat spesifik,” kata Lintu yang juga dosen Universitas Kristen Petra Surabaya itu.

Batik Gedog yang banyak dihasilan dari Kecamatan Kerek Tuban Jawa Timur itu juga memiliki nilai filosofi tinggi. Nama-nama yang dipakai dalam batik Gedog memiliki fungsi tersendiri. Satu misal, motif Gringsing yang kerap dipakai selimut tidur oleh masyarakat, dipercaya dapat menyembuhkan orang sakit. Di daerah lain, motif Gingsing ini juga dapat digunakan secara turun temurun dalam sebuah keluarga jika ada yang tengah sakit.

Tidak hanya motif, batik Gedog juga punya fungsi. Gedog Tapeh yang berupa kain panjang, biasanya dipakai menggendong bayi atau barang. Ada juga Serang Buwuhan. Batik jenis ini sesuai namanya umumnya dikenakan saat menghadiri hajatan. Fungsi lainnya, batik Gedog dipakai saka guru atau pilar saat seseorang akan membangun sebuah rumah. Batik ini bisasanya digantungkan pada salah satu pilar bangunan rumah.

Selain itu, batik Gedog dikategorikan sebagai barang pusaka dan kebanggaan keluarga yang memiliki karena status ekonomi keluarga tersebut. “Inilah yang mendasari kami memamerkan batik Gedog,” tambah Lintu.

House of Sampoerna (HoS), yang merupakan salah satu bentuk kepedulian PT HM Sampoerna kepada Surabaya, terus berkomitmen mendukung perkembangan seni, budaya, sejarah dan pariwisata melalui berbagai agenda kegiatan yang mengedepankan nilai-nilai edukatif dan sosial bekerja sama dengan berbagai komunitas dan pemerintahan.

Usaha keras HoS mendapat apresiasi dari Indonesia dan internasional dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan nusantara dan asing yang mencapai 193.000 orang di 2015, dan diraihnya berbagai penghargaan, salah satunya adalah ‘Top 10 Museum di Indonesia’ dari TripAdvisor sejak 2013 – 2015 dan “Top Choice Destination” yang diberikan Lianorg.com dari China. (sak)

Bagikan artikel ini