Bengawan Solo Rekatkan Indonesia-RRT

Bengawan Solo Rekatkan Indonesia-RRT

Mei Li De Suo Luo He, Wo Wei Ni Ge Chang! (Bengawan Solo, riwayatmu ini). Sepenggal lagu Bengawan Solo versi Mandarin itu didendangkan dengan penuh penghayatan oleh Wakil Sekjen Asosiasi Musisi Tiongkok (RRT) dan pencipta lagu ternama, Xiong Wei, di hadapan delegasi Yayasan Karya Cipta Indonesia (KCI) yang berkunjung ke kantor Asosiasi tersebut di Beijing, pekan lalu.

Delegasi Indonesia dipimpin Dharma Oratmangun selaku Ketua Umum Yayasan KCI dan didampingi Tedjo Baskoro (Sekretaris Jenderal), Christiena Sopacua (General Manager), Bagus Novantri Baskhoro (Divisi Digital) beserta perwakilan dari KBRI Beijing.

Hadir dalam pertemuan adalah Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Musisi Tiongkok Wang Jianguo dan Xiong Wei yang didampingi oleh Wakil Direktur bidang Pelayanan Hak Cipta, Federasi Seni dan literatur Tiongkok, Li Yulong beserta perwakilan Divisi Kerja Sama Luar Negeri Asosiasi Musisi Tiongkok, Cheng Guichao dan Liu Tianyu.

Sebagai Lembaga Manajemen Kolektif di bidang Karya Cipta Musik, Yayasan KCI menggalang kerja sama dengan lembaga terkait di Tiongkok dalam bidang proteksi karya cipta, baik untuk lagu Indonesia di Tiongkok maupun lagu Tiongkok di Indonesia.

“Indonesia dan Tiongkok adalah dua negara besar yang bersahabat. Persahabatan itu akan semakin kuat jika people-to-people contact antara kedua negara dapat terjalin erat,” ungkap Dharma Oratmangun.

Dari pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat dan bersahabat, kedua delegasi memperoleh banyak ide kerja sama antara lain pertukaran lagu, penerjemahan lagu-lagu Indonesia ke dalam Bahasa Mandarin dan sebaliknya, serta festival musik.

Saat ini, Yayasan KCI telah mempersiapkan sekitar 50 buah lagu yang siap diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin, untuk dipilih sesuai dengan selera penikmat musik Tiongkok.

Keakraban yang terjalin bahkan menjadi inspirasi bagi Dharma Oratmangun untuk menciptakan sebuah lagu bersama Xiong Wei berjudul Xin Yu Xin (dari hati ke hati). Lagu ini akan menjadi simbol persahabatan yang erat bagi masyarakat kedua negara.

Musik adalah bahasa universal yang tak mengenal batasan negara maupun bahasa. Kerja sama yang terjalin erat antar para seniman Indonesia dan Tiongkok adalah wujud nyata diplomasi Indonesia yang dilakukan oleh masyarakat.

Kerja sama ini juga menjadi salah satu elemen penting penguatan people-to-people contact yang mendorong terjalinnya saling pemahaman dan memperkokoh persahabatan antar masyarakat kedua negara. (ist)

Bagikan artikel ini