Budaya Makan ’Ampo’ yang Terlupakan

Budaya Makan ’Ampo’ yang Terlupakan

Mengangkat kembali budaya lama yang semakin dilupakan, yakni geofagi, yaitu kebiasaan masyarakat dan atau hewan di pedesaan daerah tropis untuk makan tanah di Kabupaten Tuban, Jatim, menarik perhatian Kemenristekdikti untuk memberikan dana hibah penelitian dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2018 kepada tim terdiri tiga mahasiswa Universitas Airlangga (Unair).

Tim PKM Penelitian Sosial Humaniora (PKM-PSH) Unair itu adalah Hendra Setiawan (ketua), Calvin Nathan Wijaya, dan Lia Agustina Subagyo, dari Prodi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair.

Mereka menyusun penelitian dengan judul ”Fenomena Unik Geofagi pada Masyarakat di Dusun Trowulan, Desa Bektiharjo, Kabupaten Tuban”.

Dijelaskan oleh Hendra Setiawan, kebiasaan geofagi itu umumnya ditemukan pada masyarakat pedesaan di daerah tropis. Di Jawa Timur antara lain bisa ditemukan di Dusun Trowulan, Desa Bektiharjo, Kabupaten Tuban. Disini, kebiasaan makan tanah yang disebut ampo itu dilakukan oleh beberapa masyarakat.

Menurut masyarakat setempat, memakan tanah liat yang diolah menjadi ampo, memiliki efek membuat perut menjadi nyaman (rasa enak), dan biasanya wanita yang sedang hamil selalu mencari ampo untuk memenuhi hasrat nyidam-nya.

Dihimpun dari berbagai kisah di masyarakat setempat, awal mula kebiasaan makan ampo pada masyarakat Trowulan di Kab. Tuban ini karena keadaan yang sulit pada kolonial Belanda.

Awalnya Tuban sebagai kota pelabuhan merupakan daerah yang sangat kaya. Disini menjadi salah satu jalur pedangangan yang penting pada masa itu. Pedagang dari berbagai penjuru dunia, termasuk Eropa dan Tiongkok, datang di Tuban.

Penjajahan itu kemudian membawa Tuban menjadi daerah yang sangat sulit akibat sistem tanam paksa (cultuurstelsel). Masyarakat menjadi hidup dalam garis kemiskinan, kesulitan pangan dan masalah kelaparan.

Akhirnya perdagangan dikuasai oleh elit-elit asing, yang tidak jarang menerapkan harga barang sangat mahal, khususnya beras. Keadaan itu membuat masyarakat harus memutar otak dan mencari cara agar dapat bertahan hidup.

Alternatif itu adalah ampo. Ampo pada awalnya dibuat dari endapan lumpur dari air di tepi sungai Bengawan Solo. Endapan lumpur itu merupakan tanah aluvial yang berbahan lempung. Sehingga endapan lumpur halus itu ditunggu dahulu hingga mengering untuk dapat dimakan.

Namun lambat laun masyarakat disini menemukan tiruan ampo yang dibuat dari endapan air tanah sawah dengan bahan dasar lempung di Desa Bektiharjo. Perbedaannya, tanah lempung yang sudah dikumpulkan itu diolah dahulu dengan cara diasapkan (dengan api).

Hingga saat ini di Tuban tinggal seorang saja produsen ampo yang masih aktif berproduksi, yaitu bernama Sarpik. Ia membuat ampo di Dusun Trowulan, Desa Bektiharjo. Sehari-hari ia membuat ampo dan menjualnya ke pasar.

Menurut Sarpik, ampo memiliki banyak kegunaan, yaitu bisa untuk obati sakit maag, melancarkan pencernaan, untuk wanita hamil yang sedang nyidam, untuk menghilangkan rasa pahit pada daun pepaya, dan untuk sekedar camilan sebagai teman minum kopi.

Selain dikonsumsi, ampo digunakan oleh masyarakat Tuban sebagai salah satu unsur dalam cok bakal yang biasa digunakan sebagai sesajen bagi leluhur dalam perayaan-perayaan tertentu. Ampo dimasukkan dalam salah satu unsur cok bakal karena masyarakat Tuban percaya bahwa para leluhur dahulu juga suka makan ampo.

Proses Pembuatan
Cara membuat ampo itu diawali dengan menyiapkan berbagai alat dan bahan yang diperlukan. Peralatan itu antara lain ganden (pemukul), seseh (pengikis), obongan (tungku), hirik (tempat mengasapkan bahan ampo), glangsing (alas yang digunakan untuk membentuk ampo), arit (penggali tanah), jarik (tempat membawa tanah dari sawah).

Bahan dasar ampo itu diambil dari tanah sawah hasil galian dengan kedalaman sekitar 20 cm menggunakan arit. Lalu tanah yang didapat dimasukkan ke dalam jarik.

Tanah sawah tersebut kemudian digelar di sebuah glangsing. Tanah harus dalam kondisi lembab. Jadi bila tanah terlalu kering maka harus diberi air, dan jika terlalu basah harus dijemur.

Tanah yang lembab itu kemudian dibentuk hingga berbentuk kotak dan dihaluskan dengan cara dipukul menggunakan ganden. Kemudian tanah yang sudah berbentuk kotak itu didiamkan minimal sehari dan dibungkus plastik agar kelembabannya terjaga.

Setelah didiamkan, tanah berbentuk kotak itu dikikis menggunakan seseh, sehingga berbentuk gulungan. Hasil tanah yang sudah dikikis itu kemudian dimasukkan dalam hirik untuk diasapkan diatas obongan.

Pengasapan itu menggunakan api dari kayu bakar selama kurang lebih satu jam. Barulah ampo siap untuk digunakan, baik konsumsi maupun keperluan ritual.

Saat ini banyak generasi muda di Tuban yang sudah tidak mengenali ampo, karena kebiasaan lama ini sudah banyak ditinggalkan. Dalam bertahan hidup masyarakat tidak perlu lagi harus makan tanah (ampo), karena bahan pangan sudah kembali berlimpah.

Namun, tentu sangat sayang apabila fenomena yang membudaya ini menjadi punah, sebab ampo sudah menjadi ciri khas bagi masyarakat Tuban, terutama Desa Bektiharjo. Sehingga sudah seharusnya Pemerintah Kabupaten Tuban memberikan perhatian lebih untuk melestarikan budaya tersebut agar tidak punah ditelan kemajuan. (ita)

Bagikan artikel ini