Butuh 2.000 Kosakata Bahasa Daerah

Butuh 2.000 Kosakata Bahasa Daerah

Sedikitnya diperlukan sumbangan 2.000 kosakata bahasa daerah untuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) setiap tahun.

Hal tersebut dikemukakan Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hurip Danu Ismadi, pada pembukaan kegiatan Bengkel Leksikografi, pekan lalu.

Hurip mengatakan, untuk membantu memenuhi kebutuhan kosakata bahasa daerah untuk KBBI, sumber daya manusia dari setiap masing-masing balai dan kantor bahasa Kemendikbud sangat dibutuhkan.

“Tidak hanya untuk menyumbangkan kosakata baru, tetapi juga untuk menangani usulan dari pengguna KBBI Daring (online) yang berkenaan dengan kosakata budaya atau daerah,” tutur Hurip.

Menurut Hurip, sejak diluncurkan pada 28 Oktober 2016, KBBI Edisi Kelima terus dimutakhirkan dengan metode urun daya (crowdsourcing) melalui aplikasi KBBI Daring.

Aplikasi KBBI Daring memungkinkan tim redaksi bekerja dari jarak jauh, tidak menggunakan kertas (paperless), dan hasil seketika dapat diunggah. Usulan, baik berupa kata baru maupun perbaikan, dapat diberikan langsung oleh pengguna.

Badan Bahasa Kemendikbud menyelenggarakan Bengkel Leksikografi untuk meningkatkan kompetensi standar para editor KBBI. Bengkel Leksikografi direncanakan menjadi agenda rutin tahunan Pusat Pengembangan dan Pelindungan.

Pada Bengkel Leksikografi 2017, para peserta adalah calon editor dari balai dan kantor bahasa di seluruh Indonesia, dua editor dari perguruan tinggi, dan para editor dari Badan Bahasa.

Pada pelaksanaan berikutnya, akan diundang para calon editor dari luar Badan Bahasa, termasuk para pakar dari berbagai bidang ilmu yang akan membantu tim redaksi menyunting entri dan usulan entri bidang ilmu.

Materi yang diberikan dalam Bengkel Leksikografi adalah Pengantar Leksikografi dan Aspek-Aspek Penyusunan Kamus serta Pendefinisian, Morfologi, Terminologi, Fraseologi, Semantik Leksikal, dan Kamus Daring.

Para peserta juga diberikan materi Pengenalan Aplikasi KBBI Daring, dan diberikan latihan serta tugas. Mereka juga mempraktikkan cara mengusulkan entri baru atau perbaikan entri KBBI serta cara menyunting usulan yang diajukan oleh pengguna KBBI Daring.

Hasil dari bengkel ini akan dijadikan sebagai bahan untuk mengevaluasi kompetensi para calon editor dan editor KBBI. (sak)

Bagikan artikel ini