Cangkang Kapsul dari Rumput Laut

Cangkang Kapsul dari Rumput Laut

Kolaborasi dosen Universitas Airlangga menciptakan cangkang kapsul dari rumput laut. Workshop pengembangan industri produk cangkang kapsul berbahan dasar rumput laut itu berlangsung di Aula Amerta, Kantor Manajemen Kampus C Unair pekan lalu. Workshop dihadiri akademisi dan praktisi dari kementerian, lembaga, pemerintah daerah, industri, dan asosiasi.

Mengenai hal itu, Agung Kuswandono Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman yang datang saat workshop mengatakan,

Keutamaan produk cangkang kapsul dari rumput laut ini pertama masalah kehalalan. Rumput laut halal. Selama ini cangkang kapsul berasal dari gelatin (biasa digunakan bisa dari sapi, bisa dari babi). Kita tidak tahu darimana. Ada proses sertfikasi untuk itu.

Kedua bahan baku rumput laut Indonesia melimpah. Melimpah pertama di dunia. Selama ini Indonesia hanya mengekspor rumput laut kering saja. Nilai tambahnya kurang. Cangkang untuk bungkus kapsul itu terobosan luar biasa.

Indonesia sebetulnya cukup mampu membuat rumput laut menjadi berbagai macam produk. Hanya saja masih dalam tahap laboratorium dalam bentuk penelitian. Belum diproduksi massal.

Cangkang kapsul dari rumput laut ini sudah ada insdustri yang membuat. Tinggal di-link-kan dengan pengusaha, supaya bahan baku lancar. Pangsa pasar juga besar. Kita ingin produsen tidak hanya menjual rumput laut kering tapi ada nulai tambah. Sekaligus meningaktkan kesejahteraan petani/nelayan.

Banyak sekali penelitian (di Indonesia) yang levelnya masih berhenti di pustaka. Proses yang kita kerjakan tidak pernah terintegrasi secara holistik. Penelitian masih masuk perpustakaan dan selesai. Padahal masalah di lapangan terus ada tidak pernah berjenti. Harusnya peguruan tinggi berkumpul, nelayan kumpul, pemerintah menjembatani.

Mudah-mudahan cangkang kapsul ini benar-benar teralisasi untuk dapat dimanfaatkan untuk masyarakat. Membangun Indonesia tidak dengan kata-kata yg berbunga-bunga. Namun dengan tindakan dan kerja yang nyata.

Sementara Wakil Rektor IV bidang kerjasama, bisnis, dan jejaring alumni Junaidi Khotib SSi Apt MKes mengatakan industri pengembangan rumput laut menjadi cangkang kapsul ini relatif lebih murah dari semula harga gelatin, bisa diturunkan sampai sepertiga.

“Pasti masyarakat akan milih yang lebih murah. Apalagi rumput laut sudah pasti halal,” katanya.

Problem selama ini ketika penelitian dilakukan, seringkali berhenti pada meja penelitian dan perpustakaan. Tidak lebih dari 15 persen yang dihilirisasi dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Maka dari itu pemerintah dan perguruan tinggi kerjasama agar produk akademik dihilirasi dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Tentu ini akan memberi dampak positif.

Dukungan dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia penting untuk membantu akselerasi. Kita sinkoronkan jadi satu pemilikiran yang menyeluruh.

Saat ini yang terpenting adalah menyambungkan link ekonomi. Kalau perguruan tinggi, standar laboratorium sudah ada. Saat ini bagaimana mempercepat penelitian ini diproduksi secara massal.

Beberapa peserta workshop berasal dari Universitas Trunojoyo, Universitas Brawijaya, Universitas Hang Tuah, Universitas Negeri Jember (Unej), dan Universitas Terbuka. Usai workshop di Aula Amerta, mereka diajak berkunjung ke Fakultas Sais dan Teknologi dan Lembaga Penyakit Tropik Unair. (ita)

Bagikan artikel ini