Cukai Rokok Naik, Harga Cengkeh Turun

Cukai Rokok Naik, Harga Cengkeh Turun

Terkait rencana kenaikan cukai cukai rokok tahun depan membuat harga cengkeh kini masih mengalami penurunan drastis. Jika pada April 2016 harga cengkeh masih dikisaran Rp 120 ribu per kg, kini harga di tingkat petani menjadi Rp 75 ribu per kg.

“Kenaikan cukai rokok yang terlalu tinggi akan membuat pabrik rokok mengurangi produksinya. Ini tentunya berdampak pada penyerapan cengkeh yang juga ikut berkurang. Dengan jumlah produksi yang sama dan penyerapan berkurang, maka harga jadi turun,” jelas Sekjen Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI), I Ketut Budiman kepada media, Selasa (4/10).

Menurutnya, hasil produksi cengkeh nasional mayoritas digunakan untuk industri rokok sebesar 94 persen, sisanya untuk kebutuhan konsumsi bahan campuran makanan dan obat-obatan.

Dengan murahnya harga cengkeh saat ini, banyak petani yang enggan menjual cengkeh ke pasar. Pasalnya, dengan harga Rp 75 ribu per kg dianggap belum memenuhi biaya produksi yang mencapai Rp 100 ribu per kg.

Ia memprediksi, penurunan harga ini bisa segera berakhir dan harga bisa naik kembali karena Oktober-Januari merupakan periode belanja bahan baku industri rokok.

“Kami sebenarnya sudah bersyukur curah hujan tinggi tahun ini tak mengganggu produksi dan tetap 110 ribu ton, tapi harga memang belum ideal dikisaran Rp 120 ribu per kg,” ujarnya.

Menurutnya, jumlah produksi cengkeh tersebut sesuai kebutuhan pabrik rokok, sehingga pihaknya optimis tidak akan ada impor.

Hal ini dikarenakan pola penyerapan tanaman rempah tersebut menyesuaikan dengan ukuran industri. Industri rokok besar memiliki persediaan 2 tahun, menengah 1 tahun dan kecil 6 bulan.

Dengan harga yang turun dan produksi tetap sama, ia berharap pemerintah tidak mengambil kebijakan yang semakin merugikan petani seperti mengimpor cengkeh.

Terlebih sejak tiga tahun terakhir ada data impor cengkeh maupun produk turunan (saos rokok) sekitar 5.000 ton. “Kami tentu menolak kalau ada impor karena itu akan mengganggu harga di tingkat petani,” tegasnya. (sak)

Bagikan artikel ini