Dobrak Dominasi Pria di Start Up Indnesia
PERISTIWA TEKNOLOGI

Dobrak Dominasi Pria di Start Up Indnesia

Dominasi pria di dunia startup Indonesia sangat signifikan. Bahkan, secara global fakta menunjukkan hanya 20 persen perusahaan rintisan berbasis teknologi dipimpin oleh perempuan.

Oleh karena itu, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) terus mendorong kaum hawa ikut berkecimpung di dunia start up tanah air dengan menghadirkan sesi khusus Woman in Technology pada penyelenggaraan Bekraf Developer Day (BDD), akhir pekan lalu di IPB International Convention Center, Bogor.

Sesi yang menghadirkan Monalisa Arcelia (Intel IoT Innovator), Tesya Nurintan (Engineer-Dicoding) dan Meytha Zennis Taliti (Android Engineer-Docotel) menghadirkan materi workshop seputar pengetahuan dan pengalaman ketiga nara sumber tersebut kepada para peserta agar bisa survive yang akhirnya diharapkan dapat mendobrak dominasi kaum lelaki di dunia startup tanah air pada masa yang akan datang.

Saat ini, diantara dominasi pria di lanskap startup tanah air sejumlah produk startup di bawah kepemimpinan wanita sudah muncul dan berhasil. Seperti Aulia Halimatussadiah yang dikenal sukses memimpin startup self publishing online Nulisbuku.

Lalu ada Chaterine Sutjahyo yang menjadi co-founder dan direktur sebuah raksasa e-commerce Zalora. Selain keduanya, ada Cynthia Tenggara sebagai founder BerryKithcen. Sebuah aplikasi layanan delivery katering yang bisa mengantarkan makan siang yang sebagian besar pelanggannya pekerja kantoran.

Oleh karena itu, melalui penyelenggaraan BDD Bogor kali ini, akan bermunculan sejumlah founder-founder berkualitas yang bisa mengikuti jejak langkah ketiga rockstar startup wanita tersebut.

Terlebih, Bekraf melalui Deputi Infrastruktur sudah terlebih dahulu meluncurkann sejumlah program unggulan di sejumlah kota besar berupa pelatihan bagi para calon developer seperti Bekraf for Pre-startup (BekUp).

Sebuah program penyiapan pre-startup pada subsektor aplikasi, games, animasi, desain, dan fashion untuk meninggkatkan tingkat keberhasilan startup pada periode awal pembentukannya.

Tahapan program ini meliputi pembangunan talenta (talent development), penyiapan pendiri (founder preparation), dan pra-inkubasi (pre incubation). “Kegiatan Bekraf Developer Day dimaksudkan untuk membangun ekosistem developer aplikasi dan game yang mendorong tumbuh dan berkembangnya industri aplikasi dan game Indonesia,” tutur Muhammad Neil El Himam, Direktur Fasilitasi Infrastruktur TIK Bekraf.

Acara yang mengusung tema Membangun Kemandirian Bangsa melalui Digital ini menghadirkan sejumlah keynote speakers seperti Kepala Bekraf Triawan Munaf dan Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto. Acara diselenggarakan kerjasama Bekraf dan Dicoding.

Serta mendapat dukungan dari Asosiasi Game Indonesia, Codepolitan, Dicoding Elite, DILo Bogor, Google Developer Expert, GDG Bogor, IBM Indonesia, Intel Innovator, Komunitas ID-Android, LINE, Microsoft Indonesia, Samsung Indonesia, dan perusahaan teknologi di Indonesia.

BDD sendiri saat ini memasuki tahun kedua dan akan digelar di 10 kota besar tanah air. Rangkaian kegiatan seminar dan workshop ini diawali di kota Manado kemudian Bogor, Solo, Denpasar, Palembang, Jakarta, Surabaya, Balikpapan, Makassar dan Bandung. (sak)