Doktor Pecahkan Masalah Hemat Listrik

Doktor Pecahkan Masalah Hemat Listrik

Dalam sidang terbuka yang dipimpin oleh Prof Dr Ir Mauridhi Hery Purnomo MEng tersebut, promovendus yang akrab disapa Jangkung ini menjelaskan masalah Economic Dispatch merupakan masalah multidimensi yang bergantung pada jumlah pembangkit yang dilibatkan.

Hal tersebut menyebabkan optimalisasi biaya pembangkitan pada sistem tenaga berskala besar menjadi sebuah masalah yang rumit.

Jangkung Raharjo juga menjelaskan bahwa selama ini metode yang digunakan untuk menganalisa peminimalan biaya pembangkitan kurang optimal. “Metode yang selama ini digunakan belum mencapai biaya yang terendah namun sudah berhenti,” tegasnya.

Berbekal ilmunya tentang telekomunikasi yang ia ambil ketika S2 dulu, akhirnya Jangkung menemukan ide untuk mencoba sebuah metode pengolahan video, yakni metode CFS.

“Saya mencoba berinovasi pada metode ini karena saya merasa ada kemiripan antara variabel pengolahan video dengan variabel dalam masalah Economic Dispatch tersebut,” ujar pria kelahiran Sukoharjo, 19 Januari 1966 ini.

Selama ini, metoda CFS digunakan pada persoalan optimasi pengolahan sinyal informasi, khususnya pada pergerakan sinyal video. Bagi Jangkung, metode ini bisa juga digunakan untuk mengurangi kompleksitas sistem pembangkit, sehingga waktu komputasi lebih cepat.

Dipromotori Prof Dr Ir Adi Soeprijanto MT dan Dr Ir Hermagasantos Zein MSc, dosen di Telkom University Bandung ini berhasil membuktikan bahwa metode CFS dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah ED tersebut dengan jaminan konvergensi yang metode ini berikan.

Selain itu, metode yang mulanya hanya digunakan untuk memecehkan permasalahan pada kasus dua dimensi dan paling besar tiga dimensi ini menjadi metode yang dapat menyelesaikan persoalan multidimensi. “Hal tersebut membuat metode ini dapat digunakan dalam dimensi tak terbatas,” jelasnya.

Untuk memvalidasi metode ini telah dilakukan pengujian pada system tenaga Jawa-Bali dengan tegangan 500kV. Pada pengujian tersebut fakta menarik kembali ditemukan, yakni metode ini juga dapat memecahkan persoalan ED untuk fungsi obyektif yang berorde tinggi (tidak dapat diturunkan).

Berdasarkan pertimbangan dari pemaparan hasil penelitian Jangkung dalam disertasinya yang berjudul Pengembangan Metoda Coarse to Fine Search (CFS) dalam Menyelesaikan Persoalan Economic Dispatch Multi Dimensi, Komisi Pertimbangan Fakultas yang diketuai oleh Prof Ir H Ontoseno Penangsang MSc, menyatakan Jangkung lulus dan berhak menyandang gelar doktor dengan predikat sangat memuaskan. “Selamat dan semoga ilmunya terus bermanfaat”, ungkap Ontoseno.

Pengujian sistem telah dilakukan pada tegangan 500 kilovolt (kV). Pengujian yang ditanamkan pada sistem tenaga Jawa-Bali ini menghasilkan sebuah fakta bahwa metode yang ditemukan Jangkung yaitu CFS sedikit banyak membantu permasalahan ED.

“Pertama saya uji untuk 8 pembangkit, 8 dimensi. Kita uji untuk sistem Jawa-Bali, hasilnya bagus. Di uji lagi dengan 47 pembangkit, hasilnya ternyata bagus juga,” pungkasnya.

Hasilnya berdasarkan yang diungkapkan Jangkung, metode ini mampu menghemat biaya pembangkit listrik hingga Rp2,2 Milyar per jam. Selama ini biaya pembangkitan listrik di Jawa-Bali mencapai di atas 8,4 milyar per jam.

Sedangkan dengan metode ini, biaya yang dikeluarkan bisa mencapai 6,2 milyar per jam. Terjadi penghematan 2,2 milyar per jam. Namun yang jadi persoalan adalah bagaimana metode ini dapat diaplikasikan kepada satu perangkat. “Ini yang kita sedang tindak lanjuti,” tutupnya. (ist)

Bagikan artikel ini