Dosen Unair Raih PhD dari NCTU Taiwan

Dosen Unair Raih PhD dari NCTU Taiwan

Kabar gembira datang dari Ksatria Airlangga di Negeri Taiwan. Ialah Imam Yuadi, dosen dari Departemen Ilmu Informasi dan Perpustakaan (IIP) FISIP Unair yang meraih penghargaan bergengsi dari National Chiao Tung University (NCTU).

Pada lulusan tahun 2017, penghargaan ini diberikan oleh presiden NCTU kepada lima lulusan doktor dari lima departemen yang berbeda.

Meski Imam berlatar belakang dari ilmu sosial, tidak mematahkan semangatnya untuk menekuni bidang sains “Digital Forensics” yang merupakan rumpun ilmu komputer.

“Bahkan disertasi saya mengangkat judul ‘Digital Forensics of Printed Sources Identification’ yaitu investigasi terhadap dokumen tercetak untuk menentukan jenis printer asli dengan menggunakan metode ‘machine learning’,” jelasnya.

Selama studi, Imam telah menghasilkan 8 karya yang terpublikasi internasional yaitu 4 jurnal internasional yang terindeks di Science Citation Index (SCI) maupun Scopus dan 4 publikasi internasional pada Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) conference yang dipresentasikan di Seattle dan Arizona (USA), Lisbon (Portugal) dan Moscow (Rusia).

Demikian pula, tidak jarang ia memberikan presentasi tentang NCTU ke beberapa perguruan tinggi di Indonesia dan kegiatan ini juga memberikan nilai tambah tersendiri dalam mendapatkan penghargaan tersebut.

Salah satu pengalaman menarik adalah saat Imam merasa salah dan menyesal dalam memilih professor yang berlatar belakang teknik elektro, akan tetapi dengan semangat, kesabaran, dan ketekunan serta dukungan dari istri, keluarga dan teman-temannya, sehingga Imam dapat mengatasi kesulitan yang ada.

“Selama penelitiannya, sering menghabiskan waktu di laboratorium untuk melakukan eksperimen. Bahkan hampir tiap hari selalu tidur di laboratorium dan jarang pulang ke asrama kampus,” terangnya.

Walaupun sudah dinyatakan lulus, oleh advisor-nya Imam diharapkan selalu melakukan penelitian untuk menghasilkan karya tulis ilmiah. Penelitian terbaru yang dilakukan sekarang adalah identifikasi citra kanker dengan menggunakan ‘Machine Learning’ dan ‘Deep Learning’ yang sudah ter-submit di IEEE conference.

Bahkan, sekarang Imam sedang menyusun paper untuk penulisan jurnal international tentang klasifikasi ‘multi-colorectal cancer’.

“Setelah kembali ke Unair saya akan menekuni “digital forensics” untuk dokumentasi, arsip, dan perpustakaan. Demikian pula, tidak menutup kemungkinan melakukan penelitian tentang forensik digital di bidang arkeologi, linguistik, maupun kedokteran dan bidang sains lainnya,” tegasnya. (sak)

Bagikan artikel ini