Dr Purwati: Dokter Stem Cell Surabaya

Dr Purwati: Dokter Stem Cell Surabaya

Nama Dr dr Purwati Sp PD FINASIM makin populer dengan munculnya terapi stem cell di Indonesia. Staf pengajar Departemen Ilmu Penyakit Dalam Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi FK Unair itu getol melakukan penelitian sekaligus praktisi medis tentang stem cell.

Meski di Indonesia bisa dikatakan baru, tapi terapi stem cell banyak diperbincangkan, baik dunia dokteran barat maupun timur. Popularitas stem cell yang mempergunakan sel induk pasien itu sendiri telah menyembuhkan banyak penyakit.

Sampai Dahlan Iskan kala menjadi Menteri BUMN ikut mencoba dan rela jadi percobaan penelitian di RSUD Dr Soetomo Surabaya.

Sebagai Ketua Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell Unair, merupakan perjuangan Purwati mewujudkan stem cell sebagai produk obat-obatan. Pihaknya terus melakukan pendalaman tentang berbagai manfaat yang didapat stem cell.

“Saya berharap stem cell bisa dibuat kebijakan baku atau ada standard prosedurnya. Sehingga bisa dijadikan pijakan untuk pengobatan penyakit apa saja,” terang lulusan FK Unair 1998 itu.

Baginya, menjadi peneliti sekaligus praktisi medis memiliki kebanggaan tersendiri. Jika di luar negeri, seorang peneliti melakukan penelitian belaka. Namun di Indonesia ada Tri Dharma Perguruan Tinggi yang harus dijalankan.

Dosen tak hanya dituntut mendidik. Tapi juga melakukan pengabdian sekaligus penelitian. Meski perannya merangkap-rangkap, tapi produk penelitian dituntut berkualitas dan inovatif. “Ini memang kelebihan kita agar jadi bangsa yang maju,” terangnya.

Kendatipun sibuk sebagai peneliti sekaligus pengajar, Purwanti tetap ibu rumah tangga di rumah. Hanya saja diakui, waktunya bersama tiga anaknya jadi tersita. Toh keluarganya mensuport dan memahami profesinya di luar rumah sebagai peneliti, sekaligus dokter yang berjuang untuk kepentingan masyarakat.

“Saya tidak bisa jadi peneliti jika tidak ada suport dari keluarga dan anak-anak. Apalagi mereka tahu karir saya di luar. Harusnya waktu untuk kebersamaan lebih banyak, tapi berkurang karena saya harus ke lab maupun praktek,” ujar wanita yang juga sekretaris di Surabaya Regenerative Medicine Center ini. (it/foto istimewa)

Bagikan artikel ini