Efek Kejut Khoirizi & Disiplin Petugas Haji

Efek Kejut Khoirizi & Disiplin Petugas Haji

Lewat media terutama televisi, masyarakat hanya bisa menyaksikan seluruh jemaah haji Indonesia telah selesai menjalankan wukuf di Arafah dan kini berkemah di Mina.

Sejauh ini tak ada musibah berarti. Mereka yang sakit tetap dirawat di Mina, sementara mereka yang dirawat jauh sebelum masa wukuf tiba tetap didotong ke Arafah lewat program ’Safari Wukuf’.

Tapi, pernahkan mereka bayangkan bagaimana 221.000 orang yang semula tinggal di hotel-hotel bertingkat dan tersebar di sudut-sudut kota Makkah itu dievakuasi hanya dalam waktu delapan jam menuju Gurun Arafah?

Jika tak ada manajemen yang baik dan disiplin super tinggi para petugas, rasanya sulit memindahkan ratusan ribu orang hanya dalam waktu delapan jam.

Seorang jenderal tempur saja belum tentu menyebut mudah memindahkan 221.000 serdadunya ke satu medan tempur dalam hitungan jam, apalagi seorang sipil.

Padahal, serdadu adalah sekelompok orang muda yang kekar dan berotot, yang bertahun-tahun dididik berdisiplin tinggi.

Nah, apa jadinya jika ’serdadu’ yang kemarin dievakuasi oleh tim Kementerian Agama mayoritas adalah justru kakek-kakek dan nenek-nenek berisiko tinggi dengan mayoritas pendidikan lulusan sekolah dasar (SD).

Coba tengok data yang diungkap Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, saat ia menggelar rapat koordinasi di Makkah dengan jajaran anggota DPR RI tiga hari menjelang wukuf.

Ternyata, di antara jemaah haji tahun ini, ada 7.374 kakek atau nenek berusia di atas 74 tahun. Sementara jemaah menjelang jadi kakek dan nenek berusia antara 61 – 74 tahun berjumlah 47.397 orang. Lha mana para ’serdadu’ muda? Nyaris tak ada.

Jamaah termuda saja tercatat 41 tahun ke bawah, jumlahnya pun hanya 22.577 orang. Jumlah terbesar malah didominasi oleh jamaah antara 51 – 60 tahun sebanyak 71.871 orang.

Karena itu, bahkan seorang jenderal tempur sekalipun sesungguhnya akan merasa kesulitan menggebah para serdadunya yang sudah para uzur seperti itu ke satu medan laga hanya dalam waktu delapan jam.

Lalu memindahkan mereka lagi ke satu lapangan dalam waktu tujuh jam, dan akhirnya memindahkan mereka lagi ke sebuah perkemahan dalam waktu lima jam. Tapi mengapa panitia penyelenggara haji Kemenag bisa?

Jawabnya terletak pada penguasaan manajemen yang baik dan disiplin tinggi para petugasnya. Tanpa disiplin tingkat tinggi, tak mungkin hanya 4.756 petugas haji dan 70 maktab yang disewa Kemenag mampu mengevakuasi 221.000 orang yang kebanyakan sudah pada uzur itu hanya dalam waktu singkat.

Apalagi sebelum dievakuasi ke Arafah, para ’serdadu’ itu tinggal di hotel-hotel bertingkat 10 ke atas dengan jumlah lift terbatas dan tersebar di banyak sudut kota Makkah pula!

Pelatihan 10 hari buat para petugas haji di bulan Ramadan lalu, sejatinya memegang peran sangat signifikan untuk membentuk karakter dan disiplin para petugas.

Selama tinggal di Wisma Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, para calon petugas yang terdiri atas para profesor, doktor, master, dokter medis, para pejabat Kanwil Kemenag, bahkan perwira polisi dan perwira TNI dari tiga angkatan benar-benar dilatih disiplin tanpa kecuali.

Setiap jam 06:00 pagi mereka sudah harus berbaris layaknya anak SD, lengkap dengan seragam celana hitam, baju putih lengan pendek, dan dasi murah warna hitam. Usai upacara mereka lapar lagi padahal dua jam lalu baru sahur.

Orang di balik terbentuknya karakter petugas yang cepat, andal, dan berdisiplin tinggi ini adalah Khoirizi Dasir, Direktur Bina Haji di bawah Direktorat Penyelenggaraan Haji dan Umrah.

Lelaki setengah baya ini terkenal tegas, lugas, gemar berteriak, dan tak segan-segan menutup pintu pagar upacara buat peserta yang terlambat. Mereka yang terlambat sengaja dikumpulkan di luar pagar, lalu semua peserta upacara disuruh balik kanan untuk menonton mereka.

“Baru disuruh upacara saja kalian sudah terlambat, bagaimana nanti kalian di Arab Saudi, jemaah bisa datang sore bisa datang tengah malam. Kalau kalian tak bisa disiplin, mending bubar pulang kampung saja dari sekarang,” teriak Khoirizi lewat pengeras suara.

Di auditorium Khorizi tak kalah galak. Peserta tak memakai celana hitam dia tegur. Peserta berdasi warna-warni dia suruh kembali ke kamar, menggantinya dengan dasi hitam anak-anak SMA. “Kalian harus terbiasa dengan disiplin seragam,” jelas Khoirizi berargumentasi.

“Nanti di Saudi, selama 24 jam kalian harus menggunakan seragam yang kami berikan untuk menunjukkan kepada para jemaah bahwa petugas haji selalu hadir di samping mereka. Kehadiran kalian penting buat jemaah!” tegas Khoirizi kala itu.

Doktrin Khoirizi ternyata benar-benar efektif. Efek kejutnya bahkan luar biasa, terbawa sampai ke Makkah, Arafah, Muzdalifah dan Mina. Sambil menunggu saat wukuf dan melayani jemaah di hotel-hotel Makkah, tak pernah terlihat petugas menggunakan baju ’preman’.

Semuanya berseragam. Salat berjemaah lima waktu di masjid atau makan pagi di dapur tersembunyi mereka berseragam. Bahkan ketika tidur pun ada petugas yang masih memakai seragam.

Bukan hanya itu, beberapa petugas dengan kepala botak buru-buru mengganti baju ihram mereka dengan seragam, lalu berangkat keluar tenda lagi untuk melayani jamaah. “Petugas bersembunyi di balik baju ihram adalah haram,” kata Khoirizi berkali-kali.

Hampir semua petugas tak berani meninggalkan Arafah atau Muzdalifah sebelum jemaah benar-benar tak bersisa di sana.

Pokoknya mereka benar-benar berdisiplin dan taat menjalankan amanah. Ketika tadi siang berbaur dengan jemaah hendak melontar jamarat, saya melihat delapan petugas dengan seragam yang saya kenal berdiri bersama para tentara Kerajaan Arab Saud.

Sejak pagi-pagi sekali rupanya mereka sudah memantau gerak jemaah asal Indonesia di lokasi jamarat. Sejumlah petugas kesehatan bahkan terlihat mendorong-dorong koper kecil berisi obat-obatan di tengah ribuan jemaah yang bergerak lambat di terowongan jamarat.

Melihat disiplin mereka yang sangat tinggi, gerak mereka yang trengginas, saya tidak yakin mereka termasuk peserta upacara yang dulu pernah ’dikunciin’ di luar pagar oleh Khoirizi. (Ditulis Helmi Hidayat, Konsultan Ibadah PPIH, Dosen UIN Jakarta)

Bagikan artikel ini