Ekspor 2017 Tumbuh 16,22 Persen

Ekspor 2017 Tumbuh 16,22 Persen

Realisasi ekspor produksi dalam negeri sepanjang tahun 2017 telah mencapai 168,7 miliar dollar AS atau meningkat 16,22 persen dibanding realisasi yang dicapai sepanjang 2016, yaitu sebesar 145,1 miliar dollar AS.

“Untuk kawasan ASEAN, angka pertumbuhan ekspor Indonesia itu nomor dua setelah Vietnam,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Karyanto Supri pada Forum Tematik Badan Koordinasi Hubungan Kemasyarakatan (Bakohumas), di Hotel Santika Premiere, Yogyakarta, pekan lalu.

Menurut Karyanto, ada 3 (tiga) penilaian untuk ekspor yakni size, spread, dan sustainable. Dari ketiga aspek tersebut, lanjut dia, sustainable menjadi poin terkuat dalam ekspor Indonesia. Namun demikian, Karyanto seraya menyampaikan bahwa Kemendag terus memperbaiki aspek size dan spread dengan pembelajaran dari negara lain.

Ia menyebutkan, untuk tahun 2018 ini, Kemendag menargetkan pertumbuhan ekspor sebesar 11 persen, yang didukung oleh 59,2 juta jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah di tanah air.

Sementara itu Direktur Pengamanan Perdagangan Kemendag, Pradnyawati, menambahkan bahwa ekspor Indonesia belum sesuai dengan struktur permintaan pasar dunia, yakni 81% produk manufaktur dan 19% produk primer.

Vietnam, lanjut Pradnyawati, memiliki keunggulan karena berbasis produk high skill dan technology intensity. “Produk manufaktur seperti kedirgantaraan, robotik, high skill yang dibutuhkan dunia pada posisi pertama,” tutur Pradnyawati seraya menyampaikan bahwa produk Indonesia kebanyakan pada posisi low skill.

Adapun Manajer AEC Center, Primajoko, menyampaikan bahwa tahun ini Indonesia akan menandatangani kesepakatan dengan Jepang, Pakistan dan Uni Eropa. “Produk Indonesia yang masuk ekspor diantaranya bulumata palsu dari Purbalingga, PT PAL, PT Indofood,” ujarnya.

Sementara wakil dari Asosiasi pengusaha Tekstil, Liliek Setiawan, menyampaikan bahwa hanya 3 negara yang memiliki usaha hulu sampai hilir yakni India, Indonesia, dan Tiongkok.

Namun, ia menambahkan hanya Indonesia yang tidak memiliki bahan baku. “Memang bisa dilakukan impor namun tetap saja kita harus memiliki ketahanan bahan baku di dalam negeri,” kata Liliek.

Produk Kopi Indonesia, menurut Liliek, menempati peringkat keempat di dunia dan Ia menambahkan bahwa sekarang saatnya mencari pasar-pasar yang baru. (sak)

Bagikan artikel ini