Epos Ramayana Lewat Busana Futuristik

Epos Ramayana Lewat Busana Futuristik

Berbagai karya kriya tekstil dan keramik yang indah buah hasil usaha dan totalitas mahasiswa Prodi Kriya menghiasi Aula Timur Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Rabu (6/6).

Karya-karya tersebut merupakan tugas akhir yang menjadi prasyarat kelulusan untuk sekitar 30 mahasiswa Prodi Kriya. Setiap mahasiswa diberikan kesempatan untuk menjelaskan hasil karyanya kepada pengunjung yang datang ke booth seluas 3×3 meter persegi milik mereka sendiri.

Karya yang mendominasi adalah produk fashion. Salah satu karya yang memikat mata pengunjung pameran ini adalah karya milik Elgana.

Untuk tugas akhirnya yang berjudul “Pengembangan Kostum Karakter Epos Ramayana dengan Teknik Utama Reka Latar”, terdapat 4 buah kostum megah dan indah untuk menghidupkan 4 karakter yang paling kuat dan menonjol dalam Epos Ramayana.

Seluruh kostum menggambarkan karakter dari masing-masing tokoh pewayangan dalam Epos Ramayana. Kostum milik Hanoman dibuat dengan warna putih untuk menggambarkan kesetiaan, kejujuran, dan keberanian.

Berbeda dengan kostum milik Dewi Shinta yang menceritakan tekanan yang dialami Dewi Shinta melalui pemilihan warna merah keunguan.

Sedangkan untuk kostum Rama, dipilih warna biru untuk memberikan kesan elegan, baik, jujur, dan pemimpin yang dingin.

Kostum yang terakhir, yaitu kostum Rahwana sang antagonis, memancarkan rasa mistik, haus akan kekuasaan, dan kemegahan dalam balutan warna gelap seperti hitam, merah tua, dan jubah keemasan.

Dalam proses pembuatan keempat kostum ini Elgana banyak melakukan riset, penggalian ide, pembuatan corak, dan eksplorasi sekitaran Bandung selama 6 bulan lamanya.

Kostum megah yang mengolaborasikan etnis dengan sentuhan futuristik ini tidak hanya indah dilihat, tetapi juga sangat memerhatikan kenyamanan penggunanya.

Elgana mendesain keempat kostum ini dengan baik sehingga kostum-kostum tersebut sangat mudah digunakan dan menggunakan bahan inner seperti katun untuk menghindari ketidaknyamanan pemakainya. Bahkan dalam proses produksinya, kostum-kostum tersebut menggunakan teknik yang sangat mudah sehingga tahap produksi tidak memakan waktu lama, sekitar 2 minggu.

Melalui karya ini Elgana berharap dapat mengubah visual ramayana yang terkesan kolot dan monoton dengan suasana yang baru sehingga meningkatkan minat anak muda terhadap budaya bangsa.

Elgana percaya bahwa terdapat banyak pelajaran yang bisa dipetik dalam kisah-kisah serupa Epos Ramayana untuk diterapkan pada hari ini dan di masa depan nanti.

Karya ini selanjutnya akan didaftarkan dalam lomba seperti karya lainnya dari Elgana yang pernah menjadi finalis 20 Besar pada Indonesia Fashion Week 2018. Adapun karya tersebut merupakan karya yang mengangkat tenun toraja yang terkesan kolot dan konvensional menjadi fashion item anak muda yang simple dan elegan. (sak)

Bagikan artikel ini