Eva Sundari: Pancasila Kepribadian Bangsa
KOMUNITAS PERISTIWA

Eva Sundari: Pancasila Kepribadian Bangsa

Bertempat di Yonif 511 di Blitar, Eva K Sundari, anggota Komisi XI DPR RI memberikan materi sosialisasi Pancasila di hadapan 300 an pelajar SMP dari Blitar, Tulungagung dan Kediri.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pendidikan Pancasila dan Bela Negara yang berlangsung pada pekan lalu dilaksankan oleh Kemendikbud yang bekerjasama dengan Mabes TNI AD.

“Banyak lembaga ekonomi internasional yang kredibel meramal bahwa di tahun 2045 Indonesia menjadi perekonomian terbesar ke lima di dunia. Ramalan itu harus menjadi mimpi kolektif kita semua. Sehingga, kita harus kerja keras mewujudkannya dengan Nasionalisme Pancasila sebagai sumber energy kita,” kata politisi PDI Perjuangan ini.

Dia melanjutkan bahwa Pancasila sudah terbukti menyelamatkan NKRI dari balkanisasi, ekstrimisme agama dan saatnya membuktikan bahwa Pancasila juga akan mengantar kita menuju pemenang dalam kompetisi kemakmuran.

Ketika sesi tanya jawab dibuka, para pelajar berebut kesempatan dan dengan kritis melempar pertanyaan, memberikan komentar bahkan memberikan pernyataan.

Salah satu pertanyaan misalnya, “Kalau sudah ada Pancasila dan konstitusi yang menjamin kebebasan beragama, mengapa masih ada hambatan bagi umat agama tertentu untuk mendirikan rumah ibadah?”

Satu pelajar putri bahkan bertanya,”Pancasila adalah ideologi dan Dasar Negara bangsa, tapi mengapa masih saja ada orang yang mengingkari dan bahkan ingin menggantikannya?”

Pelajar yang lain bahkan bertanya,”Jika Pancasila telah berhasil mengatasi Komunisme dan Ekstrimisme Agama, bagaimana Pancasila mengatasi ancaman bahaya faham Liberalisme?”

”Agar Pancasila efektif menggelorakan semangat nasionalisme maka Pancasila harus menjadi living ideology, atau ideologi yang hidup dalam sehari-hari. Nasionalisme akan memacu kita untuk menjadi bangsa linuwih, melalui kerja keras, inovasi, kreatifitas, untuk menjadi negara industri, negara produsen bukan konsumen,” jelas Eva Sundari.

Dia menambahkan bahwa Pancasila tidak boleh hanya sebatas hapalan, dan hadir di kesadaran intelektual tapi harus sampai di tingkat afeksi dan psiko-motorik, yang ditandai dengan hilangnya kemiskinan karena semua warga sama-sama bekerja untuk mewujudkan keadilan sosial. (sak)