‘Evolusi Kita’ di House of Sampoerna

‘Evolusi Kita’ di House of Sampoerna

Kemampuan manusia modern dalam mengembangkan teknologi sebagai sarana mempermudah aktivitas sehari-hari merupakan mata rantai warisan yang menghubungkan masa kini dengan masa lalu.

Jutaan abad silam, nenek moyang manusia secara bertahap mengalami perkembangan, tidak hanya dari segi fisik, namun juga kemampuan dalam hal beradaptasi untuk mempertahankan hidup dengan menciptakan beragam benda berdaya guna.

Untuk mendalami evolusi manusia dan perkembangan budayanya, sekaligus memperingati hari Museum Nasional yang jatuh di bulan Oktober, House of Sampoerna bekerjasama dengan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran menggelar pameran museum yang bertajuk “Evolusi Kita” pada tanggal 24 Oktober – 29 November 2018.

Dari sekitar 14 koleksi fosil yang dipamerkan, diharapkan mampu memberikan gambaran mengenai perubahan bentuk fisik manusia purba.

Dimulai dari Homo erectus arkaik dimana memiliki ciri fisik yang kekar dengan gigi geligi yang kuat, dengan volume otak sekitar 850 cc, kemudian berevolusi menjadi Homo erectus tipik, dengan volume otaknya mencapai 1.000 cc. Tengkoraknya lebih ramping, tinggi, gigi geligi kecil, dengan atap tengkorak lebih bundar.

Selanjutnya Homo erectus progresif atau Homo erectus yang paling maju. Mereka terakhir hidup di Jawa sebelum punah pada 100.000 tahun yang lalu. Tengkoraknya paling tinggi dan bundar dibanding dua jenis pendahulunya dengan kapasitas otak 1.100 cc.

Dalam pameran ini terdapat pula koleksi Sangiran 17 atau S17 yaitu temuan fosil Homo erectus yang paling terkenal di dunia karena ditemukan dalam kondisi relatif lengkap sehingga wajah Homo erectus dapat direkonstruksi secara utuh.

Perkembangan manusia selanjutnya setelah Homo erectus adalah Homo sapiens purba yang dapat dilihat dari koleksi fosil Homo wajakensis dengan volume otak sekitar 1.630 cc, rahang tergolong padat dan memiliki gigi yang besar.

Manusia modern yang hidup di masa kini merupakan bagian dari evolusi Homo sapiens purba. Ada pula koleksi unik yang dipamerkan yaitu Homo florensiesis, yang ditemukan di Flores sekitar tahun 2000.

Homo sapiens purba ini memiliki keistimewaan karena tubuhnya yang kerdil dengan tinggi sekitar 1 m, ukuran tengkorak seperti anak kecil dan volume otak sekitar 380 cc.

Selain koleksi fosil, adapula 8 koleksi artefak yang menggambarkan perkembangan budaya manusia purba seperti artefak dari Zaman Paleolithikum berupa kapak perimbas, serpih serta bola batu yang sebagian besar terbuat dari batuan kalsedon dan merupakan teknologi yang dihasilkan oleh Homo erectus.

Begitu pula artefak alat penusuk dari tulang belulang binatang besar yang melengkapi koleksi hasil budaya zaman Paleolothikum. Kapak persegi mewakili kebudayaan dari zaman Mezolithikum dan merupakan teknologi yang digunakan oleh Homo sapiens modern.

Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran merupakan unit pelaksana teknis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang bertugas melaksanakan penelitian, pelestarian dan pemanfaatan Situs Sangiran dan situs-situs sejenis lainnya.

Kekayaan potensi Situs Sangiran diakui oleh dunia karena separuh dari jumlah populasi temuan fosil Homo erectus di dunia berasal dari Situs Sangiran dan situs di sekitarnya.

Situs Sangiran mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO dengan judul ‘The Sangiran Early Man Site’ pada tahun 1996. (ita)

Bagikan artikel ini