Gadgetism Dalam Bayangan Kelisanan

Gadgetism Dalam Bayangan Kelisanan

Dunia manusia saat ini sudah tidak lagi dibatasi oleh ruang. Jarak kini hanya tinggalah angka untuk mengukur, bukan lagi sebuah batasan antara satu manusia dengan lainnya. Itu semua karena mudahnya berkomunikasi dan memperoleh informasi di dunia modern ini.

Keberadaan handphone, laptop, tablet yang diperkuat dengan jaringan internet telah menjadi senjata ampuh untuk menghilangkan segala batasan.

Namun, apakah ini sebuah kebaikan yang harus kita syukuri dan terima sepenuhnya? Banyak fenomena sosial seperti penyebaran hoax, hate speech, hingga penistaan bermula dari penggunaan gadget-gadget tadi. Apakah masalah sesungguhnya yang datang bersamaan dengan gaya hidup gadget ini?

Penulis kenamaan Indonesia, Seno Gumira Ajidarma di Institut Teknologi Bandung (ITB) memberikan orasi budayanya dalam rangkaian acara Soemardja Book Fair 2017. Seno Gumira menyampaikan pemikirannya terkait fenomena penggunaan gadget yang ia sebut sebagai gadgetism.

Mengacu pada laporan majalah The Economist edisi 30 Januari 2010 mengenai tinjauan terhadap jaringan sosial masa kini, dapat disarikan beberapa poin penting.

Pertama, jaringan sosial telah menjelma menjadi ruang publik baru yang luas dan orang merasa nyaman untuk menggunakan ruang tersebut.

Kedua, pencapaian jaringan sosial terbesar adalah membawa manusia ke tempat yang sebelumnya dingin dan teknologis. Ketiga, jaringan sosial menjadi media penting bagi penyebaran berita dan pengaruh.

Keempat, jaringan sosial harus membuktikan bahwa keberadaannya layak dipertahankan. Kelima, saat ini dunia baru saja memasuki tahap awal dari keterhubungan satu sama lain.

Menurut Seno Gumira, secara umum poin-poin tersebut juga relevan di Indonesia, tetapi dengan konsekuensi keberadaan jaringan sosial tersebut dapat memberikan kejutan budaya yang dapat memboroskan energi, yang lebih baik energi tersebut digunakan untuk mengentaskan bangsa dari kemiskinan dan kekurangcerdasan.

Lalu demikian, dengan menyadari bahwa salah satu ciri teknologi mutakhir adalah percepatan dan ketergandaan yang luar biasa, maka hal tersebut berpotensi mengubah para penghayat gadgetism menjadi crowds tanpa kesadaran, membuat pemusnahan kekurangcerdasan menjadi urgen.

Dengan menggunakan lima ranah pembentuk budaya global dalam teori globalisasi Arjun Appadurai, Seno Gumira menguraikan gadgetism sebagai berikut. Pertama, daya jangkau meraih gadget memperluas kelompok dan menghancurkan eksklusivitas kelas sehingga berlangsung demokratisasi dalam kesetaraan komunikasi, sekaligus memberi tempat bagi kelompok dominan “non-bacatulis”.

Kedua, dalam ranah teknologi, gadgetism hanya menjadi lingkaran dalam sesama orang Indonesia saja, meski memiliki peluang dihayati secara internasional dan global. Lalu, dalam ranah media, gadget memberi ruang bagi politik identitas, dapat berupa narcissism ataupun pemberian makna dalam penciptaan naratif identitas diri.

Kemudian dalam ranah ideologi, jaringan sosial yang terbentuk telah menjadikan kerinduan untuk selalu berkomunikasi dengan siapapun di luar sana. Terakhir, dalam ranah etnik, gadgetism sebenarnya meng-eka-kan kebhinekaan dalam satu dimensi, meski dalam kerangka sesama penghayat gadgetism.

Gadgetism di Indonesia
Saat ini Indonesia menduduki peringkat 3 dalam konteks pengguna Facebook terbanyak di dunia. Mengingat ber-Facebook adalah membaca (status) dan menulis (status), apakah juga berarti budaya baca-tulis Indonesia peringkat 3? Tentu tidak, dikarenakan baca-tulis dalam media sosial bukanlah representasi keberaksaraan, melainkan hanyalah kelisanan sekunder.

Perbedaan keberaksaraan dan keberlisanan terletak pada prosesnya. Keberaksaraan melibatkan penglihatan yang kemudian memecahbelahkan dan mengindividualisasikan.

Proses individualisasi ini mampu mengembangkan penalaran individual, pemikiran kritis dan independen hingga sikap iilmiah sejati. Sementara dalam kelisanan, yang terjadi adalah proses pemersatuan. Proses ini memiliki kecenderungan dalam menjaga harmonisasi.

Tanpa maksud mengatakan bahwa harmonisasi adalah buruk, tetapi harmonisasi cenderung menjaga kebersamaan sehingga orang cenderung mengikuti yang lain, tidak ingin berbeda. Hal ini dapat menumbuhkan sikap nonkritis karena hanya ikut-ikutan.

Kelisanan sekunder, yang begitu diperkuat oleh gadgetism, menempatkan Indonesia pada situasi penuh paradoks. Sementara keberaksaraan menuntut dan membentuk sikap kritis, keberlisanan justru wajib menjaga kebersamaan dalam sifat antiestetis, antiliterer, dan nonkritis.

Selain itu, dapat dipastikan bahwa perbedaan penyampaian dan penerimaan antara informasi tertulis dan lisan sangatlah besar. Dengan rendahnya budaya baca-tulis yang sebenarnya, akan sangat berbahaya jika budaya literasi palsu melalui gadgetism ini terus dibiarkan.

“Apabila kemudian ‘bahasa menunjukkan bangsa’ alias menjadi representasi cara berpikir bangsa Indonesia, tentu merupakan mimpi buruk yang celakanya adalah nyata,” tutup Seno Gumira Ajidarma. (ist)

Bagikan artikel ini