Geliat Ampyang, Kacang Cino Gulo Jowo

Geliat Ampyang, Kacang Cino Gulo Jowo

Paduan budaya lokal dan asing telah tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Indonesia sejak dulu. Dalam kurun waktu itu, terjadi asimilasi dan akulturasi yang selain menjaga keutuhan budaya lokal, juga memunculkan budaya baru yang cantik dan unik.

Proses yang dibarengi dengan semangat toleransi ini melatarbelakangi Hari Yong Condro, fotografer senior Surabaya, menggabungkan empat seniman Surabaya dari berbagai profesi, arsitek, crafter, graphic designer, dan interior designer, menggelar pameran seni bertajuk ‘Ampyang, Kacang Cino Gulo Jowo’, di Galeri House of Sampoerna, 27 Mei hingga 18 Juni 2016.

Tema Ampyang diambil dari nama jajanan khas Surabaya yang terbuat dari Kacang Cina dan Gula Jawa (Gula Kacang). Nama ini kemudian jadi sebutan anak hasil pernikahan campuran antara Tionghoa dan Jawa.

Inilah yang kemudian menjadi inspirasi bagi empat seniman untuk menghasilkan beragam karya seni dengan gaya goresan dan media yang berbeda. Lukisan tinta cina, sketsa lingkungan (urban sketching), lukis cat air dan lukis scribble (coretan).

Penggambaran akulturasi budaya yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari tampak dalam 20 karya yang ditampilkan. Aloysius Erwin, arsitek dan dosen, mengangkat bangunan cagar budaya dan kota tua dalam aliran urban sketching. Sedangkan BG Fabiola Natasha yang berlatarbelakang seorang graphic designer, menggunakan tinta cina sebagai media untuk memvisualisasikan beberapa dolanan rakyat dan kesenian Indonesia pada kertas phi zhi.

Tidak kalah menawan karya dari Nani Wijaya, yang kesehariannya adalah seorang crafter, menuangkan pemikiran akulturasi dalam media cat air diatas kayu, kertas dan polycarbonate. Dalam karyanya, Nani membawa pesan tentang tokoh Gesang dan bakmi. Lalu pakar scribble dan dosen interior design, Rachmad Priyandoko, memilih menggunakan kawat, kap mobil, mika dan papan whiteboard untuk mengimajinasikan punakawan.

“Akulturasi sesungguhnya selesai dan terus berlangsung lewat karya-karya empat perupa ini. Apa yang dituangkan empat perupa ini bukan lagi sekadar ajakan memahami akulturasi dalam seni, karena kita terus menjadi human being yang berkembang secara jiwa dan raga,” jelas Heti Palestina Yunani, perupa sekaligus pemerhati seni Surabaya.

Ditambahkan, proses akulturasi dalam diri mereka juga ia anggap selesai karena sejatinya tak ada lagi yang asing dalam diri mereka untuk disatukan dalam kehidupan. “Keempatnya sudah memiliki kebudayaan itu secara ‘ampyang’ alias paduan lekat antara kacang cino gulo Jowo, dari proses panjang sebelumnya, begitu juga kita sekarang bersama-sama” ujarnya.(dwj/foto: istimewa)

Bagikan artikel ini