Geliat Pemuda Bangsa Terangi Desa

Geliat Pemuda Bangsa Terangi Desa

Jalanan terjal berliku lebih dari 5 jam dari kota untuk mencapai Desa Kasepuhan Ciptagelar, sebuah desa adat di Kota Sukabumi, Jawa Barat. Tak kurang 170 km jarak perjalanan darat ditempuh dari Kota Jakarta untuk mencapai desa tersebut.

Namun, sulitnya perjalanan terbayar dengan keindahan alam Kasepuhan Ciptagelar, gambaran sebuah desa tradisional nan hijau di kaki Gunung Halimun berlatar derasnya aliran sungai.

Sayangnya, keindahan Kasepuhan Ciptagelar hanya dapat dinikmati saat siang hari, karena saat malam tiba desa ini sangat gelap gulita karena minimnya penerangan disana. Melihat hal tersebut, lahir proyek “Micro Hydro for Indonesia”.

Inisiatif sosial ini digagas Gamma A Thohir, pemuda berusia 17 tahun dengan dukungan Yayasan Adaro Bangun Negeri, untuk menerangi lebih dari 75 rumah tangga di Kasepuhan Ciptagelar melalui pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) berkapasitas 40 kiloWatt (kW).

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar, yang hadir dalam Pemaparan Proyek “Micro Hydro for Indonesia” Kasepuhan Ciptagelar di Pasific Place Jakarta, Kamis (5/10) mengapresiasi program pemanfaatan listrik seperti yang diinisiasi dan dikembangkan di desa tersebut.

Dia berharap, keberhasilan program tersebut menjadi inspirasi bagi anak-anak muda di seluruh Indonesia dalam berkontribusi aktif bagi masyarakat.

“Pemerintah mendukung penuh inisiatif dan kreativitas anak muda seperti yang telah dilakukan oleh Gamma. Proyek ‘Micro Hydro for Indonesia’ ini tidak hanya sekadar untuk kepuasan personal, tapi juga mampu menggerakkan anak muda untuk melakukan inisiatif-inisiatif lainnya melalui kontribusi yang positif,” terang Arcandra.

Harianto, Si Pembuat Turbin dari Makassar
Dari bagian Timur Indonesia, ialah Harianto, pemuda penerima Penghargaan Inovasi Energi kategori Prakarsa (Perorangan) dari Kementerian ESDM yang disampaikan langsung oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan pada Malam Penganugerahan Penghargaan Subroto di Jakarta Theater Ballroom, (27/9) lalu. Inisiatif untuk berkontribusi menerangi desanya telah memberikan manfaat tidak hanya bagi dirinya namun juga masyarakat di sekitarnya.

Harianto adalah seorang pembuat turbin PLTMH untuk menghasilkan listrik di daerah Sulawesi dan Maluku yang belum diakses oleh listrik PLN.

“Saat ini telah terpasang 31 unit PLTMH berkapasitas 1 kW hingga 100 kW, dengan total 1500 kW yang tersebar di Sulawesi dan Maluku. Listrik yang kami hasilkan digunakan untuk menerangi desa dan menggerakkan ekonomi warga desa,” ujar Harianto.

Ia mengaku telah menekuni pembangunan PLTMH tersebut sejak tahun 2008. “Saya memulai sebagai tanggung jawab anak desa yang waktu itu di desa saya belum teraliri listrik. Dengan pengetahuan dan alat seadanya kami mulai membangun kincir di Kampung Ampiri, Desa Bacu-Bacu, Pujatinanting, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan,” ujar Harianto.

“Kami mulai dengan modal Rp 7 juta untuk menerangi 4 rumah dengan menggunakan turbin. Saat ini, dengan turbin crossflow, listrik yang kami hasilkan membutuhkan biaya Rp 10 hingga 17 juta per kW nya. Harga tersebut sangat ditentukan oleh harga material di lokasi,” lanjut Harianto.

Untuk biaya operasionalnya, dengan kapasitas PLTMH sebesar 50 kW, setidaknya dibutuhkan biaya pemeliharaan Rp 2.500.000 setiap bulan yang dialokasikan untuk pelumas dan honor 3 orang teknisi lokal. “Uang ini ditarik dari iuran bulanan warga pengguna listrik sebesar Rp 15.000 hingga Rp 50.000 per bulan,” ungkapnya.

Biaya pembangunan PLTMH sendiri ia dapatkan dari beberapa sumber, antara lain melalui CSR perusahaan BUMN/swasta, swadaya warga, dan kombinasi dari donator dan swadaya warga desa.

Ia juga menyampaikan produknya sangat mudah untuk diduplikasi warga desa, pemeliharaannya pun sangat sederhana sehingga warga dapat membuat dan mengembangkan sendiri di masa mendatang.

Selain Penghargaan Subroto 2017, beberapa penghargaan lain telah diterima Harianto, antara lain Satu Indonesia Award 2012 dari Astra International, Mandiri Young Technopreneur dari Bank Mandiri 2013, Top10 Young Entrepreneurship dari Majalah SWA, dan Tokoh Pemuda Nasional Membangun Daerah dari Pare Pos. (sak/foto:Fajar.co.id)

Bagikan artikel ini