Guru Besar Ujung Tombak Inovasi

Guru Besar Ujung Tombak Inovasi

Universitas Airlangga (Unair) kembali mengukuhkan guru besar baru. Kali ini guru besar yang dikukuhkan berasal dari fakultas yang sama. Prof Dr Suharjono MS Apt, Prof Dr Suko Hardjono MS Apt dan Prof Dr Ahmad Fu’ad MS Apt. Ketiganya merupakan guru besar dari Fakultas Farmasi Unair. Meski dari fakultas yang sama, tiga guru besar tersebut memiliki spesifikasi bidang ilmu yang berbeda.

Ketiganya dikukuhkan oleh Rektor Unair Prof Dr Moh Nasih SE MT Ak CMA di Aula Garuda Mukti pada Kamis (28/12). Dalam sambutannya, Prof Nasih menekankan agar guru besar mampu mengimplementasikan perannya sebagai ujung tombak pengembangan inovasi dan ilmu pengetahuan.

Sebab, tambah Prof Nasih, pengembangan inovasi dan ilmu pengetahuan merupakan salah satu bentuk dari pengimplementasian visi dan misi Unair. “Kami berharap bahwa visi misi Unair ini dapat diimplementasikan oleh ketiga guru besar yang baru dikukuhkan ini,” tegasnya.

Selanjutnya, mengenai ketiga guru besar lulusan Fakultas Farmasi tahun 1980 itu, Prof Nasih kembali menegaskan bahwa guru besar diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih terkait ilmu farmasi. Terlebih, dalam bidang ilmu farmasi, Unair merupakan salah satu kampus yang unggul di Indonesia.

“Pengembangan ilmu farmasi ini merupakan salah satu keunggulan yang dimiliki oleh Unair. Karena itu, guru besar baru ini dapat menunjukkan karya yang berguna bagi masyarakat,” tandasnya.

Gagasan Guru Besar
Sebagai guru besar pertama yang memaparkan orasi, Prof Suharjono menyampaikan orasi yang bekaitan dengan kajian polifarmasi. Menurut dia, Polifarmasi adalah penggunaan obat lebih dari satu jenis secara bersamaan. Hal itu mengacu pada fenomena keberagaman penyakit yang muncul kepada pasien degeneratif. Yakni, penyakit yang mengakibatkan terjadinya kerusakan atau penghacuran terhadap jaringan atau organ tubuh. Misalnya, diabetes, tekanan darah tinggi, gagal jantung, dan osteoporosis.

“Penggunaan lebih dari satu obat ditujukan untuk mengurangi dominasi salah satu obat maupun penyempurnaan obat yang lain. Terutama sebagai upaya mengurangi risiko penderitaan penyakit yang akut,” terang guru besar Fakultas Farmasi Unair aktif ke-20 tersebut.

Selanjutnya, paparan disampaikan oleh Prof Suko Harjono. Guru besar aktif Fakultas Farmasi ke-21 itu membawakan orasi ilmiah yang berjudul ”Peran Kimia Medisinal dalam Pengembangan Obat Antikanker”. Bagi Prof Suko, dalam bidang ilmu farmasi, kimia medisinal sebagai cabang dari ilmu kimia dan biologi, berperan penting dalam menjelaskan mekanisme cara kerja obat.

Kimia medisinal, terang dia, berfungsi untuk pengembangan obat. Yakni, merancang obat baru dengan aktivitas yang lebih baik. Selain itu, efek sampingnya minimal, bekerja lebih selektif, serta masa kerjanya lebih lama.

“Indonesia bisa meningkatkan peran kimia medisinal dalam pengembangan obat karena memiliki banyak kelebihan. Salah satunya, banyak senyawa aktif yang bisa diperoleh dari alam, semi sintesis dan sintesis,” papar Prof Suko.

Terakhir, orasi disampaikan Prof Ahmad Fuad. Melalui orasi yang berjudul “Mengungkap Keanekaragaman Kandungan Kimiawi dan Bioaktivitas Dalam Bahan Obat Alami” guru besar Fakultas Farmasi aktif ke-22 itu menyatakan bahwa Indonesia dianugerahi oleh Allah SWT sebagai negara dengan megadiversitas kedua terbesar di dunia.

Karena itu, tegas Prof Fuad, sudah pasti Indonesia memiliki simpanan bahan alami yang bermanfaat untuk pengobatan penyakit dalam jumlah yang banyak.

“Kekayaan sumber alam yang kita miliki, kemudian didukung oleh kekuatan sumber daya manusia yang mampu mengeksplor bahan alami hingga menjadi produk industri farmasi, akan membuat bangsa ini menjadi bangsa yang sehat dan berdaya guna,” ungkapnya. (ita)

Bagikan artikel ini