Hidroponik Tulungagung Laris Manis

Hidroponik Tulungagung Laris Manis

Sekelompok pemuda, sebagian besar sarjana membentuk komunitas petani sayur hidroponik, didorong keprihatinan atas mahal dan langkanya harga sayur di Tulungagung karena harus mendatangkan dari Kota Batu.

Hasilnya menakjubkan, sayur mereka dihargai tinggi dan selalu habis terjual. Bahkan konsumen seperti indent dengan memberi nama mereka ditumbuhan sayur yang belum dipanen.

Kelompok tani (Poktan) ini juga melempar produk sayuran tersebut ke supermarket tetapi tidak bisa maksimal, hanya bertujuan untuk menunjukkan eksistensi produk tersebut.

Karena keterbatasan produksi sehingga permintaan dari Kediri dan Jombang ditolak, karena sayur sudah terbeli di tempat produksi yaitu di halaman rumah para aktivis hidroponik tersebut.

Dari satu komunitas, dalam setahun saat ini sudah berkembang menjadi 259 komunitas yang terhubung dan berkomunikasi melalui media sosial Facebook, WhatsApps maupun Telegram dan sekali-sekali melakukan kopdar alias kopi darat.

Bertempat di Desa Sobontoro Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Poktan Komunitas Hidroponik Tulungagung (KHTA) mengundang anggota DPR RI Eva Sundari untuk diskusi pengembangan industri sayur hidroponik, Jumat (3/3) lalu.

“Kami ingin mempunyai green house yang besar, bukan saja untuk meningkatkan produksi tapi juga bisa menjadi pusat untuk memfasilitasi pengetahuan, alat produksi, termasuk untuk pemasaran produk dari para anggota,” ujar Yudi selaku Ketua KHTA.

Pusat ini kelak bisa sekaligus menjadi rekreasi edukasi, pusat informasi dari A hingga Z tentang pertanian hidroponik, khususnya sayur. Termasuk untuk rekreasi petik sayur dan beli alat, bahan dan bibit untuk menanam.

Mendapat ‘pengaduan’ tersebut, Eva Sundari memberi saran agar Pokta KHTA mendirikan koperasi. Sebab syarat-syaratnya sudah ada, yaitu watak gotong-royong, jumlah anggota dan kesamaan tujuan dari para anggota KHTA. Terbentuknya organisasi tersebut menjadi modal untuk memperjuangkan kepentingan anggota.

“Karena perspektifnya edukasi, maka jangan teknis, semua harus diakarkan dan dimuarakan pada kemandirian ekonomi, khususnya kedaulatan pangan,” kata Eva Sundari mengingatkan.

Dari diskusi, salah satu anggota melakukan hal yang sama di Lombok dan NTT, yaitu membentuk komunitas petani sayur hidroponik karena situasi yang sama yaitu kebutuhan sayur harus diimpor dari Batu.

Respon kelompok muda disana juga positif, yaitu membentuk komunitas-komunitas sebagaimana dilakukan di Tulungagung dan berproduksi walau skalanya juga masih terbatas.

Sebelum mengakhiri diskusi, kelompok mendapat komitmen dari Kepala Dinas Koperasi & UMKM Tulungagung, Partono yang menyanggupi untuk memberikan bantuan teknis untuk pembentukan koperasi. Sedangkan Eva Sundari akan mengupayakan bantuan konsultan mendampingi pembuatan business plan (rencana kerja) dari koperasi petani sayur hidroponik tersebut. (sak)

Bagikan artikel ini