InaHRS, Tingkatkan Kualitas Diagnosa Irama Jantung

InaHRS, Tingkatkan Kualitas Diagnosa Irama Jantung

Indonesia Heart Rhythm (InaHRS) kembali menggelar pertemuan ilmiah tahunan keempat. Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan para ahli kesehatan terkait diagnosa penyakit jantung.

Saat ini, sebanyak 17,3 juta orang di seluruh dunia meninggal dunia setiap tahun akibat penyakit kardiovaskular. Dari angkat tersebut, lebih 7 juta jiwa mengalami kematian akibat henti jantung mendadak. Salah satu penyebabnya adalah Aritmia atau gangguan irama jantung.

Angka yang fantastis itulah yang mendorong Bayer Indonesia mendukung InaHRS untuk mengadakan pertemuan ilmiah tahunan, yang akan berlangsung dua hari, 7-8 Oktober 2016. Pertemuan ini merupakan upaya untuk meningkatkan pengetahuan para ahli kesehatan terkait diagnosa Aritmia.

“Bayer sangat berkomitmen mendukung dokter melalui pertemuan ilmiah, kerjasama institusi internasional dalam bidang penelitian berkelanjutan, dan studi klinis yang bisa membantu dokter memberikan diagnosa dan terapi, sehingga mampu memberikan pengobatan tepat dan mendapat kualitas kesehatan yang baik,” kata Ashraf Al Ouf, Presiden Direktur Bayer Indonesia, saat konferensi pers The 4th Annual Scientific Meeting Indonesia Heart Rhythm Society, Jumat (7/10).

Sesuai misi Bayer yaitu Science for Better Life, upaya InaHRS meningkatkan kompetensi diagnosa aritmia melalui pertemuan ilmiah, dianggap mampu untuk mengurangi tingkat kematian akibat henti jantung mendadak.

Bayer mengeluarkan dana sebesar Rp 41,3 triliun untuk R&D pada 2015. Kedepan, Bayer akan terus berupaya menghadirkan produk inovatif untuk kebutuhan medis yang belum terpenuhi.

“Diharapkan produk-produk kami dapat memberi manfaat yang lebih besar untuk pasien di seluruh dunia dan khususnya di Indonesia,” tambah Ashraf.

Menurut Studi Observasional Multinational Monitoring of Trend and Determinant in Cardiovascular Disease -MONICA, penderita kardiovaksular di wilayah Asia Pasifik pada 2050, diperkirakan akan mencapai setengah dari populasi dunia yaitu 580 juta jiwa. Hal ini dipicu oleh pertambahan usia 60 tahun ke atas yang meningkat dari 12 persen menjadi 24 persen.

“Pada tahun 2015 telah terjadi sekitar 8,2 juta kasus kematian akibat penyakit kardiovaskular. Angka ini meningkat 21 persen dari 6,8 juta pada 2005,” ungkap Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Dr dr Ismoyo Sunu SpJP(K).

Ketua InaHRS Dr dr Yoga Yuniadi SpJP(K) menjelaskan bahwa InaHRS yang merupakan kelompok kerja dari PERKI memiliki anggota 22 orang yang kesemuanya adalah ahli penyakit jantung yang mendalami aritmia. Mereka tersebar di beberapa kota Indonesia.

“Masih sedikitnya dokter ahli aritmia diimbangi dengan berbagai program InaHRS untuk meningkatkan kompetensi dokter ahli jantung dan dokter umum dalam tatalaksana aritmia,” kata Yoga.

Program yang dijalankan InaHRS, dijelaskan Yoga, antara lain menyelenggarakan crash program pelatihan pemasangan alat pacu jantung bagi para ahli jantung di seluruh Indonesia, membuat aritmia networking untuk empowering para dokter umum di daerah , saat menghadapi persoalan aritmia dapat terhubung dengan ahli aritmia secara online dan gratis.

InaHRS juga secara rutin mengadakan pertemuan ilmiah tahunan untuk mendiskusikan dan memberikan update terbaru penanganan aritmia pada peserta yang terdiri dari dokter umum, dokter spesialis jantung dan dokter spesialis lain.

Untuk pertemuan ilmiah InaHRS 2016 yang diadakan di Hotel Westin Jakarta dengan tema Enhanced Diagnosis, Reduced Sudden Cardiac Death, mengangkat pemikiran pentingnya meningkatkan kemampuan diagnosis aritmia untuk mencegah kejadian kematian mendadak.

Ketua penyelenggara Dr Faris Basalamah SpJP mengatakan ada 700 peserta yang mengikuti 10 workshop dan 42 sesi simposium ini. Ada sekitar 120 naskah abstrak penelitian yang dipresentasikan secara oral dan poster.

Hadir juga beberapa industri farmasi dan alat kesehatan dari dalam dan luar negeri yang memamerkan inovasi-inovasi terbaru penanganan terbaru aritmia.

“Yang paling utama, di tahun ini, akan ada live demo implantasi alat pacu jantung tanpa kabel langsung yang berukuran kecil dari RS Jantung Harapan Kita yang ditransmisikan ke Hotel Westin,” kata Faris. (sak)

Bagikan artikel ini