Indonesia 10 Besar Arsitektur Terbaik

Indonesia 10 Besar Arsitektur Terbaik

Pemerintah Indonesia melalui Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) berpartisipasi dalam ajang pameran arsitektur bergengsi, Venice Architektur Biannale 2018 yang digelar mulai Sabtu (26/5) kemarin di Venesia. Dalam ajang prestisius itu, Indonesia berhasil masuk ke 10 besar negara dengan pameran tebaik.

“Pavilion Indonesia di Venice Architecture Biennale masuk 10 Top Pavilion negara terbaik versi metropolismag.com,” ucap Triawan melalui media sosial, Minggu (27/5). Sembilan negara lain yang masuk ke dalam 10 besar itu antara lain Irlandia, Brazil, Jepang, Bahrain, Belanda, Skotlandia, Argentina, dan Yunani.

Triawan mengaku amat bangga dengan prestasi tersebut. Apalagi, tema VAB kali ini adalah free space, yang membuat setiap peserta baik dari negara, perusahaan, maupun individual harus mengerahkan kekuatan dan kreativitas mereka semaksimal mungkin.

“Semoga potensi, kemampuan, bakat, dan kreativitas para arsitek Indonesia bisa lebih dikenal lagi dan berdiri sejajar dengan koleganya dari berbagai negara lainnya,” ucap Triawan.

Dalam pameran itu, Bekraf menampilkan karya kurator Ary Indrajanto dan keempat anggota timnya dengan tema “Soenyata: The Poetic of Emptinesss”. Karya-karya yang ditampilkan merupakan arsitektur-arsitektur dari seluruh wilayah Indonesia.

Soenyata memberikan sebuah dialog kekosongan antara manusia dan ruang. Rasa sunyi dari ruang tersebut akan menjadikan manusia sebagai karakter protagonis dan bagian dari keseluruhan desain.

Sehingga, karya ini akan menghilangkan bentuk dan rupa. Seperti wadah kosong, Soenyata akan membiarkan manusia menjadi pemeran utama di dalamnya. Soenyata akan disimpan di ruang seluas 290 meter persegi. Berbentuk kertas putih besar yang melengkung layaknya kurva dengan lubang di antaranya. Memungkinkan pengunjung untuk dapat masuk ke dalam dan merasakan kekosongan di antara balutan kertas putih tersebut. Sebuah karya yang puitis.

Melalui ajang pameran itu, Triawan berharap, arsitektur daerah di Indonesia, bisa lebih dikenal dunia. Apalagi, jumlah pengunjung pameran bergengsi itu, mencapai 10 juta orang.

“Berbekal tradisi arsitektur dari berbagai daerah, para arsitek Indonesia siap memperkaya khasanah arsitek di berbagai kota di dunia. Otomatis akan banyak subsektor lain yang akan terdampak oleh efek multipliernya. Seperti subsektor kriya, batik, dan tenun,” jelasnya. (ist)

Bagikan artikel ini