Ini Efek Samping Lensa Kontak Lunak

Ini Efek Samping Lensa Kontak Lunak

Pemakaian lensa kontak lunak semakin merebak di masyarakat. Jika dibandingkan dengan kacamata, lensa kontak lunak memiliki beberapa keunggulan, seperti memberi lapang pandang yang luas dan unggul secara kosmetik.

Pemakaian kacamata yang tebal untuk mengatasi mata minus tinggi, menyebabkan penampilan wajah yang tidak diinginkan. Karena itu, kebutuhan lensa kontak untuk mengatasi gangguan penglihatan semakin tinggi.

Tingginya penggunaan lensa kontak lunak juga ditambah dengan kebutuhan lensa kontak berwarna sebagai kosmetik pada mata normal tanpa gangguan penglihatan.

Data menunjukkan lensa kontak lunak masih mendominasi peresepan lensa kontak. Penjualannya pun semakin marak tanpa ada pengaturan oleh Kementerian Kesehatan RI atau Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Hal ini menyebabkan konsumen pengguna lensa kontak lunak terpapar pada risiko efek samping penggunaan lensa kontak lunak. Tidak jarang, infeksi kornea, yang mengakibatkan kebutaan, dialami oleh pengguna lensa kontak lunak.

Efek tersebut salah satunya disebabkan oleh kurangnya oksigen di kornea karena pemakaian lensa kontak lunak menghalangi sampainya oksigen ke kornea. Oleh karena itu, deteksi dini kondisi kekurangan oksigen dengan menggunakan penanda biomolekular menjadi sangat penting.

Terdapat beberapa penanda biologis yang kerap muncul pada kondisi kekurangan oksigen, yaitu Hypoxia Inducible Factor-1a, Lactate Dehydrogenase (LDH), dan Malate Dehydrogenase (MDH).

Berdasarkan latar belakang tersebut, dibutuhkan penelitian yang dapat menganalisis kondisi kekurangan oksigen di kornea dengan ekspresi HIF-1, aktivitas LDH, dan MDH pada air mata. Melalui analisis tersebut, diharapkan dapat ditentukan penanda biomolekular yang paling menggambarkan kondisi kekurangan oksigen, sehingga berpotensi untuk dikembangkan sebagai perangkat deteksi dini.

Penelitian kemudian dilakukan dr Tri Rahayu, SpM(K) FIACLE dan memperoleh hasil bahwa pemakaian lensa kontak lunak dengan daya hantar oksigen yang baik selama 2 bulan tidak menimbulkan keadaan kekurangan oksigen kornea.

Namun pemakaian lensa kontak lunak yang terbuat dari bahan yang daya hantar oksigennya rendah dalam jangka panjang menyebabkan gangguan berupa perubahan klinis kornea yang belum membaik dengan penghentian lensa kontak selama 1 bulan.

Hasil penelitian tersebut kemudian dipresentasikan dengan baik oleh dr Tri Rahayu pada sidang promosi doktornya, beberapa waktu lalu di Ruang Auditorium Lt. 3 Gedung IMERI-FKUI, Salemba. Disertasinya berjudul “Hipoksia Kornea pada Pemakaian Lensa Kontak Lunak Ditinjau dari Ekspresi Hypoxia Inducible Factor-1a, Aktivitas Enzim Laktat Dehidrogenase dan Malat Dehidrogenase Air Mata”.

Dan berhasil dipertahankan di hadapan tim penguji. Bertindak selaku ketua tim penguji Prof Dr dr Sri Widia A Jusman MS dengan anggota tim penguji Dr Melva Louisa SSi Apt MBiomed; dr Radiana Dhewayani A MBiomed PhD dan Prof Dr dr Suhardjo SpM(K) (FK UGM).

Di akhir sidang, Prof dr Saleha Sungkar DAP&E MS SpParK, selaku ketua sidang mengangkat dr Tri Rahayu sebagai Doktor dalam bidang Ilmu Biomedik di FKUI.

Dalam sambutannya promotor dr Tjahjono D Gondhowiardjo SpM(K) PhD dan ko promotor Dr dr Widya Artini SpM(K) dan Dr rer physiol Septelia Inawati Wanandi berharap hasil penelitian ini dapat digunakan untuk pemeriksaan yang cepat dan mudah dalam mendeteksi secara dini keadaan hipoksia kornea akibat pemakaian lensa kontak lunak sehingga dapat dilakukan pencegahan agar tidak terjadi kerusakan kornea lebih lanjut karena hipoksia. (sak)

Bagikan artikel ini