Ini Rasanya Lomba Masak di Istana

Ini Rasanya Lomba Masak di Istana

Kekayaan kuliner nusantara terus digali untuk memperkuat pariwisata Indonesia. Terlebih kuliner laut yang menjadi kekayaan Indonesia. Hal ini yang tercermin dalam Lomba Masak Ikan Nusantara (LMIN) 2018, yang telah menyelesaikan babak final, pekan lalu.

Digelar di halaman Istana Negara, 10 peserta berjuang mempersembahkan olahan ikan terbaiknya. Yang membuat lomba ini seru adalah kehadiran Presiden Joko Widodo bersama Ibu Negara Irina. Keduanya bahkan menyaksikan langsung perlombaan tersebut.

Layaknya juri, Presiden beserta Ibu Negara melihat proses masak para peserta. Satu persatu peserta didatangi. Yang pasti, kehadiran Presiden bukan hanya membuat seru. Tetapi juga membuat bangga para peserta.

Sambil berjalan, Presiden yang mengenakan setelan jas lengkap dengan peci hitam sempat berbincang singkat dengan para peserta. Salah satunya adalah Juara I LMIN 2018 Putri Ayu Martha Tilaar asal Kota Mataram.

“Kalau ini masakan apa?” tanya Presiden. “Ini sate Tanjung, Pak,” jawab Putri.

Selain Putri hadir juga juara lainnya, yaitu juara II Sintje Toumahouw asal Kota Ambon, juara III Wolter Mamuli asal Kota Bitung, dan juara favorit Nursila asal Kota Pontianak.

Sementara para finalis lainnya adalah Agsyela Siahaya asal Kota Ambon, Ali Muchsin asal Kabupaten Lamongan, Baiq Anita Damayanti asal Kota Mataram, Dede Rizal Pratama asal Kota Bandar Lampung, Mulia Santi asal Kota Bandar Lampung, dan Refny Grace asal Kota Bitung.

Di hadapan Kepala Negara, para juara dan finalis ini memasak resep andalannya, sama seperti yang mereka hidangkan saat berlomba.

Menurut Deputi V bidang Politik, Hukum, Keamanan dan Hak Asasi Manusia di Kantor Staf Presiden Jaleswari Pramodhawardani, lomba tersebut merupakan hasil kerja sama sejumlah lembaga terkait untuk memperkaya khasanah kuliner Indonesia.

“Ini merupakan hasil kerjasama seluruh stakeholder. Antara lain Kantor Staf Kepresidenan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pariwisata dan Kementerian Sekretariat Negara. Diharapkan dengan lomba ini masyarakat akan semakin gemar makan ikan, sekaligus memperkaya khasanah kuliner Indonesia,” kata Jaleswari usai mendampingi Presiden melihat acara memasak ikan.

Terpisah, Asisten Deputi Pemasaran I Regional II Kementerian Pariwisata, Sumarni mengatakan, lomba ini merupakan salah satu langkah strategis untuk mendongkrak pariwisata. Pasalnya sektor pariwisata tentunya tidak bisa dilepaskan dari yang namanya sektor kuliner.

“Kuliner dan pariwisata memang sejatinya sangat berkaitan dengan erat, karena pada dasarnya kuliner dan pariwisata memiliki simbiosis mutualisme. Di mana apabila sektor pariwisata suatu daerah atau negara tersebut, maju berkembang dengan pesat maka secara otomatis potensi kekayaan kulinernya pun bisa ikut maju dan berkembang lebih lagi,” ujar Sumarni.

Kepala Bidang Pemasaran Area I Wawan Gunawan juga mengatakan hal yang sama. Menurutnya promosi pariwisata Indonesia tak hanya lewat keindahan alamnya saja, tapi juga lewat kuliner.

“Kementerian Pariwisata punya strategi yang telah dijalankan untuk memperkenalkan kuliner lokal, sembari mempromosikan pariwisata ke ranah mancanegara. Untuk itulah Kemenpar ikut mendukung perhelatan LMIN 2018 ini,” kata Wawan Gunawan.

Menteri Pariwisata Arief Yahya pun sumringah dengan dilaksanakannya LMIN 2018. Pasalnya industri kuliner menjadi salah satu industri paling berpengaruh bagi pariwisata di Indonesia.

“Kuliner itu sangat mempengaruhi pariwisata. Sebesar 60 persen pariwisata itu ditunjang oleh cultural industry atau industri kreatif. Misal keuntungan negara kita US$ 10 miliar, maka US$ 6 miliar dari industri kreatif. Dengan semakin mendorong industri kuliner, maka perkembang industri pariwisata Indonesia akan semakin cepat lagi,” kata Arief. (sak)

Bagikan artikel ini