Ini Sumber Alternatif Pangan Bergizi

Ini Sumber Alternatif Pangan Bergizi

Kebutuhan alternatif pangan fungsional telah menjadi perhatian pemerintah saat ini. Pangan fungsional ini pun diharapkan dapat memanfaatkan sumber pangan lokal yang sudah ada di negeri ini.

Salah satunya adalah dengan mengoptimalkan pemanfaatan jamur pangan dan pisang sebagai bahan pangan alternatif. Lalu, mengapa perlu memaksimalkan jamur dan pisang sebagai pangan alternatif?

Jamur pangan merupakan salah satu sumber daya hayati yang berkembang pesat menjadi komoditas pangan. Tengok saja khusus untuk jamur, data Kementerian Pertanian RI menunjukkan bahwa luas kebun jamur di Indonesia meningkat signifikan dari waktu ke waktu.

“Kecenderungan peningkatan luas tanam budidaya jamur disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kandungan gizi yang tinggi, teknologi budidaya jamur yang ramah lingkungan, kondisi alam yang mendukung, nilai ekonomi yang tinggi, dan peluang pasar yang luas,” terang Iwan Saskiawan, pekan lalu.

Iwan menyampaikannya sebagai Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI dalam Media Briefing “Pangan Fungsional: Jamur dan Pisang” dalam rangkaian kegiatan Widyakarya Pangan Nasional dan Gizi (WNPG) XI, di Media Center LIPI Jakarta.

Dia memaparkan bahwa jamur adalah bahan pangan fungsional, baik yang bersifat sebagai nutraceutical (jamur segar) maupun nutriceutical (bahan olahan/ekstrasi jamur).

Selain itu, jamur pangan juga mulai dikembangkan sebagai komoditas sayuran organik yang tidak menggunakan pupuk dan pestisida kimia sehingga menjaga kelestarian lingkungan.

Di sisi lain, limbah yang berasal dari media tanam jamur pangan dapat diolah dan dijadikan sebagai pupuk organik untuk menjaga kesuburan tanah.

Sedangkan berkaitan dengan kandungan gizi dalam jamur, Iwan menjelaskan, misalnya seperti jarum tiram putih, protein yang terkandung di dalamnya rata-rata 3,5-4 persen dari berat basah, berarti dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan asparagus dan kubis.

Jika dihitung berat kering, kandungan proteinnya 19-35 persen dan itu juga lebih tinggi dari beras yang hanya 7,3 persen, gandum 13,2 persen, dan susu sapi 25,2 persen.

Jamur tiram putih, menurutnya, juga mengandung lemak sebanyak 72 persen. Di dalam jamur itu, terdapat asam lemak tidak jenuh, sehingga aman dikonsumsi bagi penderita kelebihan kolesterol (hiperkolesterol) maupun gangguan metabolisme lipid lainnya.

“Lalu, sekitar 28 persen asam lemak jenuh serta adanya semacam polisakarida kitin di dalamnya dapat menimbulkan rasa khas yang enak,” ungkap Iwan, dikutip Humas LIPI.

Ryan Haryo Setyawan, anggota Tim Penelitian Jamur dari Pusat Penelitian Biologi LIPI menambahkan, kandungan protein yang dimiliki jamur tiram putih dapat dijadikan sebagai sumber protein murah pengganti daging atau sebagai Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI).

Jamur tiram putih juga mengandung beberapa senyawa aktif yang bersifat sebagai imunomodulator untuk menjaga daya tahan tubuh dari serangan penyakit.

Dikatakan Ryan, kandungan gizi yang ada di jamur tersebut sangat baik untuk membantu perkembangan anak balita tumbuh sehat. “Penelitian kami saat ini salah satunya berusaha menciptakan bubur bayi instan yang enak dan bergizi,” tuturnya.

Kembangkan Pisang
Di lain hal selain pengembangan jamur, sumber pangan fungsional lain yang perlu dikembangkan adalah pisang. Yuyu Suryasari Poerba, Peneliti Pusat Penelitian Biologi, menjelaskan bahwa jenis pisang yang berpotensi menjadi pangan fungsional sekitar 15 varietas pisang M. acuminata dan ratusan kultivar lokal pisang yang tersebar dari Aceh hingga Papua.

“LIPI telah memulai penelitian pisang sejak tahun 2008 hingga sekarang. Hasil eksplorasi dan koleksi sumber daya pisang Indonesia disimpan di Kebun Plasma Nutfah (KPN) Pisang di Cibinong Science Center-Botanic Garden (CSC-BG) dalam bentuk kultur jaringan. Koleksi plasma nutfah pisang juga dikonservasi dalam bentuk kultur in-vitro,” ungkapnya.

Dijelaskannya, pengembangan varietas unggul pisang terus-menerus dilakukan dan bertujuan untuk perbaikan ketahanan terhadap penyakit layu Fusarium dan seleksi untuk mendapatkan aksesi yang memiliki keunggulan untuk pangan berkualitas.

“Pisang dapat dijadikan pangan fungsional karena mengandung energi, karbohidrat, kadar pati, kandungan serat pangan dan kandungan gula yang tinggi,” kata Yuyu.

Terkait metode yang digunakan untuk memperbaiki kualitas tanaman pisang, metode ini menggunakan pemuliaan konvensional dan dengan teknologi induksi poliploidi. Induksi poliploidi memungkinkan mendapatkan pisang tetraploid dengan efisien dan efektif untuk menghasilkan pisang hibrid triploid unggul.

“Pisang hibrid triploid menjadi target pemuliaan tanaman pisang karena dari segi agronomis dan hortikulturis merupakan pisang dengan keragaman ideal untuk berproduksi tinggi dibandingkan pisang diploid dan/atau pisang tetraploid,” ujar Yuyu.

Dari ratusan hasil penelitian LIPI, 11 jenis pisang diantaranya sudah didaftarkan sebagai varietas baru hasil pemuliaan di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian, Kementerian Pertanian RI.

“Tantangan selanjutnya adalah mendapatkan varietas pisang triploid yang ideal agar memenuhi keinginan konsumen dari segi produksi, penampilan, kualitas buah dan rasa, aroma buah, serta kandungan nutrisi buah,” pungkasnya. (sak)

Bagikan artikel ini