Inovasi Mahasiswa Atasi Karies Gigi

Inovasi Mahasiswa Atasi Karies Gigi

Surabaya sebagai salah satu kota besar di Indonesia ternyata masih memiliki permasalahan di bidang kesehatan gigi dan mulut.

Informasi dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya, didapatkan data tentang 10 penyakit gigi terbanyak tahun 2017 dengan kasus tertinggi yakni periodontitis kronis dengan kehilangan jaringan periodontal ringan/sedang.

Permasalahan gigi itu diikuti oleh nekrosis pulpa, karies email/karies dentin, peristensi gigi sulung, gingvitis akibat plak mikroba, pulpitis irreversible, abces periodontal, abces periapikal, yang terakhir gangguan perkembangan dan erupsi gigi.

Sejatinya telah ada Program Kesehatan Gigi dan Mulut di kota pahlawan yang dilaksanakan oleh Dinkes Kota Surabaya sejak 2016. Program ini bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk kegiatan peningkatan kesehatan gigi dan mulut yang meliputi pencegahan, pengobatan, dan pemulihan kesehatan gigi dan mulut.

Kegiatan program kesehatan gigi dan mulut yang dilaksanakan oleh 63 Puskesmas di Kota Surabaya telah dilaksanakan dengan beragam cara, seperti sosialisasi pencegahan karies gigi pada ibu hamil dan anak, serta pemicuan karies gigi dengan sasaran murid TK dan SD.

Sayangnya, pada program yang disebutkan terakhir, yakni program pemicuan bebas karies, belum memiliki standar dan pedoman spesifik tentang apa yang dapat dilakukan. Sehingga, pelaksanaan program dari satu puskesmas dengan puskesmas lain seringkali berbeda cara bahkan tujuannya.

Ditemui di kantor Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat (8/6) FKG Universitas Airlangga, Drg Gilang R Sabdho Wening MKes sebagai salah satu dosen promosi kesehatan gigi, memaparkan problematika ini.

“Sebetulnya pemerintah melalui Kementerian Kesehatan sudah sangat jelas dalam memberi arah, yakni melalui Permenkes Nomor 89 Tahun 2015 Tentang Upaya Kesehatan Gigi Dan Mulut. Di dalamnya jelas tertulis bahwa upaya promotif sangat diperlukan dalam menyongsong Indonesia Bebas Karies 2030,” terang drg Gilang.

Sebagai redaksionalnya, di dalam peraturan tersebut juga dinyatakan bahwa yang menjadi sasaran utama untuk dilakukan program promotif tersebut antara lain pada kelompok ibu hamil, anak dan remaja, dan lanjut usia.

Menyikapi hal tersebut, FKG Universitas Airlangga melalui program pendidikan profesi mahasiswanya melakukan banyak riset dan berhasil menghasilkan produk inovatif yang mendukung pemicuan pada kelompok-kelompok sasaran tersebut.

“Pada jenjang pendidikan profesi di Departeman IKGM ini, mahasiswa memang dirangsang untuk peka pada permasalahan sosial-kesehatan, khususnya gigi dan mulut. Lalu, dikemas dalam konsep penelitian yang berujung pada pemberdayaan masyarakat dan produk inovatif penyertanya,” imbuh Gilang yang juga menjadi salah satu dosen pembimbing para mahasiswa profesi IKGM.

Salah satu hasil inovasi mahasiswa adalah dengan peluncuran buku pedoman praktis pemicuan bebas karies yang sudah disosialisasikan dan diimplementasikan di wilayah Puskesmas Tenggilis Kota Surabaya pada periode Maret-April 2018 lalu.

“Konsep dari buku modul panduan ini adalah membangun komunikasi antar orangtua-anak-guru, untuk dapat saling mengawasi dan mencatat perkembangan kesehatan gigi anak,” ungkap Moch Egiarta, ketua pelaksana program.

“Di samping itu, kami bersama staf puskesmas dan guru bekerjasama untuk berlatih bagaimana memeriksa gigi anak secara sederhana, sekaligus bagaimana melaporkannya dalam bentuk catatan di modul ini,” tambah Egiarta yang saat ini juga sedang menjalani fase koas / dokter gigi muda di RSGM Unair.

Pada event yang berlangsung di salah satu SDN di wilayah Tenggilis, disepakati berdasarkan hasil riset kebutuhan kesehatan gigi, bahwa memang diperlukan sebuah pedoman spesifik dalam menyelenggarakan upaya pemicuan bebas karies.

“Memang baik sekali inovasi yang diberikan oleh para mahasiswa FKG Unair ini. Sebagai salah satu alumnusnya, saya ikut bangga. Karena program pemicuan bebas karies ini memang seharusnya dilaksanakan secara detil dan komprehensif seperti yang tercantum pada buku. Ternyata, bahkan jam sarapan saja, berpengaruh pada munculnya karies gigi,” testimoni drg. Razak Yuri Pratama, dokter gigi Puskesmas Tenggilis saat ditemui di tempat kerjanya.

“Saya berharap kebaikan dari inovasi ini bisa disebarluaskan kemanfaatannya melalui Dinas Kesehatan Kota Surabaya, atau bahkan Kementerian Kesehatan,” Harap Razak. (ita)

Bagikan artikel ini