Inovasi Pelajar di Ajang Internasional

Inovasi Pelajar di Ajang Internasional

Lima siswa peraih medali dari Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) dan Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2017 akan unjuk kebolehan di ajang Young Inventors Challenge (YIC) September 2018 mendatang di Kuala Lumpur, Malaysia.

Kelima siswa tersebut akan menunjukkan karya inovasi bertema Invention To Serve. Mereka adalah Muhammad Naufal Hakim dan Nuha Maulana Ahsan (SMAN 5 Yogyakarta), Okti Nurhidayah (SMAN 1 Sampang, Cilacap, Jawa Tengah), Mochammad Abdurrozaq Hidayat serta Rifando Heri Suryawan (SMAN 3 Semarang, Jawa Tengah).

Invention To Serve yang akan mereka tampilkan di ajang Young Inventors Challenge (YIC) adalah karya inovatif yang memiliki manfaat untuk melayani kepentingan manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan sehingga dapat membuat perubahan positif bagi manusia, lingkungan, dan atau budaya setempat.

Oleh karena itu, jebolan pemenang FIKSI dan OPSI 2017 juga akan kembali memperlihatkan karya inovasinya saat mengikuti FIKSI dan OPSI 2018, sehingga ada tiga kelompok karya inovasi yang akan mereka tunjukkan dalam YIC.

Pertama, karya inovasi tersebut adalah Aplikasi Tuka Tuku yang diciptakan oleh Muhammad Naufal Hakim dan Nuha Maulana Ahsan dari SMAN 5 Yogyakarta. Aplikasi ini dibuat untuk memudahkan masyarakat melakukan jual beli secara daring (online) khusus untuk toko kelontong agar bisa bersaing dengan waralaba.

Kemudian, karya inovasi berikutnya adalah Teko Penawar Racun yang dibuat oleh Okti Nurhidayah (SMAN 1 Sampang, Cilacap). Teko ini dapat digunakan sebagai penjernih air dan penawar zat-zat berbahaya yang terkandung dalam air agar aman dikonsumsi tanpa dimasak.

Ketiga, karya inovasi yang akan ditunjukkan dalam YIC adalah Sheat, yakni aplikasi panduan memilih makanan sehat dan bergizi berbasis Augmented Reality (AR), yang diciptakan oleh Mochammad Abdurrozaq Hidayat serta Rifando Heri Suryawan dari SMAN 3 Semarang.

Aplikasi ini dapat menunjukkan secara rinci kandungan gizi yang terdapat dalam makanan yang akan dikonsumsi, sehingga konsumen akan lebih mudah memilih makanan sehat.

Untuk lebih mempertajam kemampuan dalam ajang YIC, para peserta diberi pembinaan langsung oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan menghadirkan para pembina dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Pembinaan dilakukan selama lima hari di Park 5, Cilandak, Jakarta, pada 11- 15 Maret lalu.

Selama masa pembinaan, para siswa dilatih menyusun proposal penelitian dalam bahasa Inggris sesuai syarat ajang YIC. Mereka juga akan diberikan referensi buku-buku bacaan untuk memperdalam penelitian yang akan dilombakan. Tak ada usaha yang sia-sia. Terus berkarya dan mengharumkan nama Indonesia. (sak)

Bagikan artikel ini