ITB Angkat Pamor Pisang Tongka Langit

ITB Angkat Pamor Pisang Tongka Langit

Pisang merupakan salah satu tanaman khas Indonesia. Salah satu jenis pisang yang unik adalah pisang Tongka Langit atau Fe’i. Pisang jenis ini dinamakan sedemikian rupa karena memiliki tandan yang mengarah ke atas.

Tongka Langit (Musa troglodyarium) diketahui tersebar mulai dari Maluku ke arah timur, yakni pulau Papua, hingga Kepulauan Solomon, Samoa, dan Fiji di Samudra Pasifik.

Varietas ini terkenal dengan ukurannya yang lebih besar daripada rata-rata. Selain itu, kandungan karotennya yang berkisar 3.000-4.000 IU (unit internasional) membuat daging buah Tongka Langit berwarna jingga.

Karena keunikan-keunikannya, pisang ini menarik perhatian sekelompok peneliti dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, Center for Remote Sensing (CRS) ITB, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura (Puslitbanghorti), PT Inovasi Mandiri Pratama (Inovamap), serta PT Exsol Innovindo.

Para ahli bekerja sama melakukan analisis pisang Tongka Langit dalam perspektif Biogeografi dan Biodiversitas. Senin (18/12) lalu seperti dirilis Humas ITB, mereka berkumpul melakukan presentasi dan Diskusi Kelompok Terarah atau yang biasa disebut FGD. Para ahli memaparkan pengetahuan dan luaran yang dapat dihasilkan.

Analisis Luas Berdampak Holistik
Terdapat banyak luaran dari analisis pisang Tongka Langit ini. Dengan menjunjung semangat big data, setiap hasil analisis baik secara biologis maupun geospasial akan disimpan dan dapat diakses publik.

Usaha ini menyumbangkan kontribusi bagi dunia ilmu pengetahuan, terutama terkait sumber daya genetik pisang.

Prof Ir Ketut Wikantika MEng PhD dari ITB menyatakan bahwa akan dilakukan pemetaan dan penyusunan basis data hortikultura dari tiga perspektif, yakni teknologi inderaja dan Sains Informasi Geodesi (SIG), multi-omics, serta biogeografi dan biodiversitas.

Secara berturut-turut, perspektif tersebut adalah bidang keahlian dari CRS ITB, SITH ITB, serta Puslitbanghorti.

Pemetaan dengan teknologi inderaja dan Sains Informasi Geodesi dilakukan dengan pencitraan tiga dimensi terhadap pohon pisang atau lahan yang ditelaah. Kemudian dengan metode pattern recognition (pengenalan pola), ciri-ciri pohon pisang yang unik dapat dilabeli.

Misal, pohon pisang dengan tandan yang menghadap ke atas adalah pohon pisang Tongka Langit. Label dan citra ini kemudian dapat digunakan untuk sebagai panduan pengenalan pola berikutnya.

Pemetaan secara tiga dimensi ini dapat dilakukan mulai dengan cara yang low-cost, yakni menggunakan kamera DSLR atau ponsel, hingga penggunaan teknologi yang lebih mahal, seperti kamera drone, bahkan Terrestrial Laser Scanning (TLS).

Teknologi pemetaan ini telah dicoba oleh dengan PT Exsol Innovindo (untuk metode TLS) dan Inovamap (drone) sebelum sesi FGD.

Analisis Spektra dan DNA
Metode lainnya adalah dengan melakukan multi-spectral analysis dan hyper-spectral analysis. Metode analisis spektra ini membaca spektra cahaya Matahari yang dipantulkan oleh tanaman pisang.

Jika digabung dengan pengetahuan biologis mengenai pisang, maka spektra dapat dilabeli. Misal, spektra yang dipantulkan oleh pohon pisang yang sakit tidak secerah spektra yang dipantulkan oleh pohon pisang yang sehat.

Maka, hal ini juga dapat menjadi panduan dalam pengukuran berikutnya, sehingga pertumbuhan serta kondisi fisis pada pohon pisang dapat dipantau dengan teknologi terkini. Metode multi-spectral analysis ini sempat dipraktikkan M Firman Ghazali MT sebelum sesi FGD.

Dr Fenny Martha Dwivany menyatakan bahwa SITH ITB telah cukup berkompetensi dalam melakukan analisis multi-omics. Analisis multi-omics adalah analisis mendalam pada DNA, yakni turun pada tingkat RNA, hingga tingkat molekul.

Penelitian multi-omics pada pisang sejauh ini telah menghasilkan data deretan DNA pisang untuk berbagai spesies. Data RNA yang tersedia hanya ada untuk pisang jenis Cavendish.
Namun, data hingga tingkat molekul belum tersedia. Di sisi inilah peneliti beserta mahasiswa-mahasiswa SITH ITB memberi kontribusi. Data yang diperoleh nantinya dapat digunakan oleh kalangan peneliti pisang.

Keuntungan Masyarakat Lokal
Kerja sama dengan Puslitbanghorti membuat peneliti-peneliti ITB mempertimbangkan aspek ekonomis dari pisang Tongka Langit. Puslitbanghorti telah berpengalaman dalam memberikan pelatihan dan penyebaran bibit kepada masyarakat.

Berbekal temuan unik pisang Tongka Langit di kaki Gunung Galunggung, tim ini berkesempatan untuk mengembangkan daerah mukiman terdekat, sehingga kekuatan ekonomi di daerah tersebut meningkat.

Menurut Prof Ketut, terdapat tiga desa di kaki Gunung Galunggung yang ditumbuhi oleh pisang Tongka Langit. Salah satunya adalah Desa Padakembang, yang memiliki topografi yang memanjang serta berlembah, sehingga dinilai paling berpotensi untuk dikembangkan.

Beliau memaparkan roadmap rencana MoU pemetaan dan penyusunan data besar hortikultura dengan pendekatan antardisiplin dalam bidang biogeografi dan biodiversitas, termasuk pengelolaan sumber daya genetik hortikultura.

Prof Ketut mengusulkan agar dilakukan FGD karakterisasi Desa Padakembang pada tahun 2017. Kemudian, pemetaan wilayah desa, penyusunan perpustakaan spektra, pembangunan sistem informasi desa, serta pengembangan kapasitas masyarakat desa pada 2018.

Pada akhirnya, sudah ada produk hasil olahan pisang Tongka Langit, Integrated Smart Village, dan model portal big data di tahun 2020. (sak)

Bagikan artikel ini