ITB Pasang Pemantau Gempa di Lombok

ITB Pasang Pemantau Gempa di Lombok

Institut Teknologi Bandung (ITB) memasang seismometer di sejumlah titik di Lombok. Pemasangan seismometer ini untuk memantau gempa di Lombok.

Tim ITB datang ke Lombok selang satu hari setelah gempa Lombok 29 Juli 2018. Mereka sengaja datang untuk memasang alat pemantau gempa pasca gempa magnitude 6,4 di Lombok Utara. Hingga gempa susulan 5 Agustus 2018, tim ITB masih berada di sana.

“Sampai dengan kemarin sudah 13 Seismometer yang terpasang,” ujar Prof Nanang T Puspito, Ketua Kelompok Keahlian (KK) Geofisika Global dalam keterangan persnya, Rabu (08/08).

Menurutnya, dari 13 seismometer, sebanyak 7 buahnya merupakan hasil kerjasama ITB dan Earth Observatorium of Singapore (EOS). Pemasangan seismometer ini tersebar di Kota Mataram, Lombok Tengah, Lombok Barat, Lombok Timur dan Lombok Utara.

Tim ITB mengharapkan rekaman gempa susulan termasuk gempa pada 5 Agustus 2018 yang diperkirakan sebagai gempa utama dapat menjadi pemahaman baru terkait sumber dan mekanisme kejadian Gempa Lombok 2018.

Kegiatan monitoring gempa susulan Gempa Lombok ini akan dilakukan selama satu bulan. Untuk keseluruhan program bantuan, satgas ITB akan bekerjasama dengan LPPM Universitas Mataram dan pihak-pihak lain yang terkait.

Tim ITB mengharapkan selama satu bulan, tujuh seismometer yang ditempatkan dapat merekam gempa-gempa susulan untuk kepentingan analisis potensi gempa ke depan.

Selain membuat tim untuk pemasangan seismometer, ITB juga membentuk tim Satgas untuk bencana Lombok. Tim ini bertugas menyusun rencana dan aksi bantuan untuk bencana alam Lombok.

Dalam jangka pendek tim satgas ITB ini akan mengirimkan tim untuk melakukan assessment kelayakan bangunan publik, membantu dalam pengiriman bantuan pokok makanan, obat-obatan, selimut dan lain-lain.

Selanjutnya tim akan melaksanakan program penyediaan fasilitas air minum. Selain itu juga tim ITB akan mempelajari potensi bencana ke depan serta menganalisa gempa susulan dan longsoran.

Sementara untuk jangka menengah (tahap rehabilitasi-rekonstruksi), ITB akan memperkenalkan teknologi bangunan dengan struktur bambu yang dikembangkan oleh KK Teknologi Bangunan Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK). Selanjutnya akan dicoba penerapan Teknologi Open BTS yang dikembangkan oleh Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI). (sak)

Bagikan artikel ini