ITS Targetkan Jadi Panutan se-Indonesia

ITS Targetkan Jadi Panutan se-Indonesia

Setelah sebelumnya menyandang status sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Layanan Umum (PTN-BLU), kini Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berganti status menjadi PTN Berbadan Hukum (PTN-BH). Perubahan status ini secara resmi ditetapkan melalui Kick Off ITS PTN-BH yang dilakukan di Grha Sepuluh Nopember ITS, Rabu (8/3) sore.

Kick Off ditandai dengan penekanan tombol bersama Sekjen Kemenristekdikti Prof Ainun Na’im PhD MBA mewakili Menristekdikti, Dirjen Kelembagaan Iptek Dikti Dr Ir Patdono Suwignjo MEng Sc, Rektor ITS Prof Ir Joni Hermana MSc ES PhD, Ketua Senat Akademik ITS Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD, Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) ITS Prof Dr Mohammad Nuh DEA, dan Ketua Umum IKA ITS Dr Dwi Soetjipto.

Meskipun baru menyandang status PTN-BH, Prof Joni memiliki target kampus perjuangan ini nantinya bisa menjadi panutan PTN se-Indonesia. Pria nomor satu di ITS itu menyatakan, sedang fokus pada karya yang dihasilkan ITS agar dapat menghasilkan keuntungan. “Hal komersial ini memang menjadi target kita. Karena kita perlu mencari pendapatan agar dapat terus berkarya,” ujarnya.

Selain itu, Prof Joni mengaku memiliki target publikasi akreditasi internasional hingga 1.000. Meningkat 300 dari hasil publikasi sebelumnya. Ada beberapa bidang yang mencakup publikasi tersebut, di antaranya kemaritiman, energi, pemukiman dan lingkungan, informasi komunikasi dan teknologi, serta nano teknologi. “Harapannya ITS bisa menjadi nomor satu di Indonesia, dan melakukan yang terbaik untuk Indonesia. Saya ingin ITS bisa menjadi panutan di Indonesia,” ujarnya.

Sementara Ketua Senat Akademik ITS Priyo Suprobo menjelaskan, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan setelah satu tahun lamanya ITS mengalami transisi dari PTN-BLU menjadi PTN-BH. Yaitu budaya kerja, menurutnya, budaya kerja PTN-BH tentu berbeda dengan budaya kerja PTN-BLU.

“Hal ini sangat perlu diperhatikan, karena budaya kerja dapat memengaruhi kegiatan manajemen. Dan harapannya, agar kegiatan manajemen kedepannya menjadi lebih baik lagi,” tuturnya.

Selain itu, rencana rektor juga perlu diperhatikan. Mulai kebermanfaatan ITS menyelesaikan masalah di Indonesia hingga kegiatan internasionalisasi yang digencarkan. “Dua hal ini tidak kalah penting untuk mendapat perhatian khusus. Menurut saya, intropeksi juga perlu terus dilakukan agar dapat mencapai dua nilai tersebut,” ucap mantan Rektor ITS 2011 – 2015 ini bersemangat.

Hal senada juga diungkapkan Patdono Suwignjo bahwa ada beberapa kompetensi yang harus dibangun. “Antara lain dengan menghasilkan tenaga terampil dan pendidikan tinggi, memiliki akses, mampu berinovasi, kelas kompetitif, dan perbaikan tata kelola,” papar dosen Teknik Industri ITS ini.

Pada kesempatan sama dilakukan Diskusi Panel tentang ITS PTN-BH dipandu presenter TV swasta dari Jakarta, Brigita Manohara. Panelis yang dihadirkan pun para pimpinan dan narasumber yang bersama-sama melakukan penekanan tombol kick off ITS PTN-BH.

Selain itu, juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman kerjasama (MoU) dengan enam pihak luar. Antara lain Pemkab Karangasem Bali, PT Kangean Energy Indonesia, PT Perkebunan Nusantara X, PT Adihulung Saranasegara Indonesia, PT Dumas Tanjung Perak Shipyard, dan Politeknik Wilmar Bisnis Indonesia (WBI). (yul)

Bagikan artikel ini