Jatim Perkuat Industri Agro UMKM

Jatim Perkuat Industri Agro UMKM

Pemprov Jatim berkomitmen terus memperkuat industri agro berbasis UMKM. Hal ini penting dilakukan karena 36 persen penduduk di Jatim adalah petani, sedangkan kontribusi terhadap PDRB dari sektor pertanian baru 14 persen. Diperlukan pengembangan industri di sektor agro agar petani mendapatkan nilai tambah.

“Saat ini petani tidak memungkinkan memperluas lahan. Maka petani harus bisa mengolah hasil pertanian menjadi makanan olahan. Sebagai contoh, pisang, kentang, ketela harus diolah menjadi makanan olahan seperti keripik. Makanan olahan ini harus diproduksi petani sendiri bukan perusahaan besar,” ungkap Gubernur Jatim Dr H Soekarwo usai Upacara Peringatan Hari Jadi ke-71 Provinsi Jawa Timur 2016 di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Rabu (12/10).

Ia mengatakan, pemerintah terus mendorong petani memiliki alat-alat industrialisasi. Untuk menjalankan industrialisasi harus ada suku bunga rendah. Pemprov dan DPRD harus satu frekuensi membantu masyarakat menyelesaikan kesejahteraan di sektor pertanian. Untuk itu, tahun 2017, Pemprov Jatim meminta Rp 200 miliar untuk loan agreement, membantu pembiayaan industri pertanian dengan suku bunga rendah.

Menurutnya, industri pertanian saja tidak cukup, tetapi juga dibutuhkan non industri seperti industri kreatif. Seperti pengembangan produk Tanggulangin diupayakan bisa masuk pasar nasional dan internasional.

Pakde Karwo sapaan lekat Gubernur Jatim terus mengajak masyarakat menjadikan UMKM sebagai penggerak ekonomi Jatim. Senada dengan Tema Peringatan Hari Jadi ke-71 Provinsi Jawa Timur 2016 adalah ‘Dengan Semangat Kerja Nyata, Mari Kita Mantapkan Jawa Timur sebagai Provinsi Industri Berbasis UMKM’.

Untuk itu, dibutuhkan ruang dan langkah konkret untuk meningkatkan kapasitas UMKM seperti meningkatkan kualitas produk dan packaging, serta pembiayaan pasar agar produk UMKM bisa masuk pasar internasional.

“Kalau proses industri dan pembiayaan murah dan pasarnya bisa dibantu maka kompetisi kita akan lebih baik daripada provinsi lain. Karena biaya pembiyaannya bisa lebih murah,” jelasnya.

Dalam sambutannya, Pakde Karwo menyampaikan, suasana aman dan nyaman di Jatim tak terlepas dari stabilitas politik. Stabilitas politik akan memberikan sentimen positif terhadap kinerja ekonomi.

Hal ini dapat dilihat dari kinerja ekonomi Jatim mampu tumbuh cepat 5,44 persen pada tahun 2015 dan pada semester I 2016 mampu tumbuh 5,55 persen. Pertumbuhan tersebut mampu menghasilkan PDRB Rp 1.689,8 triliun pada 2015 dan pada semester I 2016 Rp 903,1 triliun.

“Ini merupakan kontribusi nyata dari konsumsi rakyat Jatim yang mencapai 60 persen lebih dan sebagian besar dihasilkan dari kontribusi segmen UMKM yang mencapai 54,98 persen. Inilah kekuatan fundamental ekonoi kita saat ini, yang tumbuh dari kekuatan pelaku yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Jatim baik di pedesaan maupun perkotaan,” ujar Pakde Karwo.

Dijelaskannya, ruang politik yang stabil dan kondusif ini pula harus dijadikan momentum untuk memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dalam hal ini, Jatim sudah menjadi petarung unggul di tahun pertama era pasar bebas ASEAN 2016 ini.

Hal tersebut ditandai dengan surplusnya perdagangan Jatim-ASEAN pada semester I Tahun 2016 yang mencapai 1.160,53 juta USD. “Yang membanggakan baru pada periode 2016, perdagangan Jatim surplus dengan Singapura mencapai 112,89 juta USD,” katanya.

Sedangkan dalam hal dimensi sosial dan budaya, Pemprov Jatim telah mengantisipasi terjadinya konflik sosial di Jatim, yakni dengan bersinergi dan berkoordinasi dengan jajaran terkait dengan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Forum Pembauran Kebangsaan (FPK), serta Komunitas Inteligen Daerah (Kominda Jatim).

Upaya ini diharapkan mampu menyelesaikan masalah secara kekeluargaan dan dideteksi lebih dini. Melalui sinergitas tersebut, Tahun 2015 sampai dengan 2016, Pemprov Jatim mendapat apresiasi dan penghargaan dari Mendagri sebagai provinsi terbaik dalam sinergitas dan keterpaduan penanganan konflik sosial di daerah.

“Penghargaan ini bukan untuk saya atau untuk Pemprov Jatim, namun untuk seluruh Jawa Timur. Oleh karena itu selaku Gubernur saya menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya atas pencapaian ini. Dengan stabilitas politik yang aman, akan menjadikan Jatim sebagai daerah yang menarik untuk aktivitas ekonomi dan nantinya mampu mewujudkan kesejahteraan dan keadilan yang lebih baik,” ungkapnya. (sak)

Bagikan artikel ini