Jonan Apresiasi Smelter dan Ezzy ITS

Jonan Apresiasi Smelter dan Ezzy ITS

Produk-produk teknologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembali menarik minat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Ignasius Jonan untuk hadir meninjau langsung. Kali ini kehadirannya untuk meninjau prototype Smelter dan mobil listrik Ezzy ITS, akhir pekan lalu.

Dalam kunjungan ini, Jonan turut mengapresiasi keterlibatan ITS dalam pengembangan kedaulatan energi di Indonesia melalui inovasi kendaraan listrik yang telah dihasilkan.

Bahkan dalam kunjungannya tersebut, mantan Menteri Perhubungan RI 2014 – 2016 ini menyempatkan diri menjajal keandalan mobil listrik ITS yang sebelumnya pernah dikendarai Presiden Jokowi saat meresmikan Tol Surabaya-Mojokerto, untuk berkeliling di halaman Rektorat ITS.

Sementara itu, dalam skala industri mineral, Jonan juga mengapresiasi produk prototype smelter yang dirancang oleh Departemen Teknik Material ITS.

Namun, pada kesempatan ini, Jonan mewakilkan pada Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) ESDM, FX Sutijastoto untuk meninjau langsung alat Smelter di Departemen Teknik Material ITS.

Smelter ini merupakan alat pemurni utama bahan tambang yang menempati industri hulu dalam pengolahan mineral logam. Karena itu, harga investasi alat smelter ini menjadi selangit.

Hal inilah yang membuat kepemilikan smelter oleh Departemen Teknik Material ITS sangat diapresiasi Jonan. “Saya tertarik untuk bekerja sama dengan ITS dalam mengembangkan teknologi smelter ini,” ungkap pria asal Surabaya ini di sela-sela kunjungan.

Kendati masih merupakan skala kecil, smelter milik Laboratorium Pengolahan Mineral dan Material (LPMM) Departemen Teknik Material ITS ini digadang-gadang akan turut berswadaya membantu penambang kelas menengah ke bawah.

“Seringkali perusahaan tambang skala kecil langsung menjual logam mentah tanpa mengolahnya,” ujar Dr Sungging Pintowantoro ST MT, Kepala LPMM. Hal itu sangat disayangkan karena bertentangan dengan UU Nomor 4 tahun 2009 mengenai Mineral dan Batu Bara.

Dengan adanya pengembangan smelter ini, lanjut Sungging, berarti kemandirian dan kedaulatan energi negeri sudah di depan mata. Buktinya, smelter yang juga mendapat dana hibah Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT) Kemenristekdikti ini rencananya segera dikomersialkan untuk beberapa perusahaan tambang di Luwu Timur, Makassar.

Selain meninjau produk teknologi ITS, kehadiran Menteri Jonan ini juga untuk memberikan Kuliah Umum bertajuk Energi Berkeadilan di Ruang Sidang Utama Rektorat ITS.

Dalam kuliah umumnya, Jonan juga menyinggung tentang pemerataan dan peningkatan rasio elektrifikasi. “Dari target 92,75 persen pada tahun 2017, terealisasi sebesar 95,35 persen,” tutur Jonan.

Hal itu terlaksana berkat kemajuan kontrak pembangkit listrik Energi Baru Terbarukan (EBT). “Sebanyak 70 kontrak ditandatangani sepanjang tahun 2017 kemarin,” lanjut mantan Dirut PT KAI ini.

Terkait hal tersebut, dalam kesempatan ini dilakukan juga penandatanganan pembaruan nota kesepahaman (MoU) antara ITS dengan Balitbang Kementerian ESDM. Beberapa pembaharuan ruang lingkup nota kesepahaman pada Maret 2014 tersebut adalah terkait peningkatan dan pengembangan sumber daya mineral, minyak dan gas bumi, serta energi laut.

“Selain itu disepakati juga mengenai pengolahan dan pemurnian mineral, serta pengembangan transportasi dengan kendaraan listrik,” ungkap Rektor ITS, Prof Ir Joni Hermana MScES PhD yang turut mendampingi Jonan. (ita)

Bagikan artikel ini