Karena Ponsel, Dapat Sahabat dari Jepang

Karena Ponsel, Dapat Sahabat dari Jepang

Menjalin sebuah persahabatan itu tidak mengenal akan jarak. Pernyataaan itu sangat pas menggambarkan persahabatan antara pria asal Indonesia Syahri Rochmat dengan mahasiswa dari Jepang Shota Noda.

Persahabatan mereka tidak pernah direncanakan. Hanya gara-gara sebuah ponsel persahabatan kedua orang yang berjarak 5.800 kilometer itu terjalin. Persahabatan mereka berawal dari Syahri Rochmat yang menemukan sebuah dompet saat dirinya sedang memeriksa gerbong kereta api yang baru dikirim dari Jepang.

Dalam dompet tersebut, Rochmat panggilan akrabnya menemukan satu ponsel dan sebuah kartu mahasiswa dengan berbahasa Jepang. Rochmat adalah sebuah pegawai maintenance PT KAI Commuter Jabodetabek (PT KCJ) yang bertugas untuk memeriksa gerbong kereta api yang baru didatangkan dari Jepang.

Pada Desember 2015, Rochmat berkesempatan untuk memeriksa kereta Nanbu Line yang dikirim dari Jepang. Rochmat langsung membawa pulang dompet yang ditemukannya. Sebelumnya, Rochmat telah beberapa kali menemukan ponsel saat dirinya memeriksa gerbong kereta dari Jepang.

Namun, sayangnya ponsel yang ditemukannya tidak disertai kartu indetitas. Sehingga, Rochmat hanya menyimpan ponsel yang beberapa kali ditemukannya. Akan tetapi, pada kali ini Rochmat menemukan ponsel yang disertai dengan kartu indetitas. Sehingga, niat tulus dan sifat kejujuran yang dimiliki Rochmat yang membuat dirinya tergugah untuk mengembalikan ponsel dan kartu indetitas tersebut.

“Setelah menemukan ponsel, saya tidak pernah terpikir untuk menjualnya. Saya hanya berpikir bagaimana cara saya untuk mengembalikan ponsel dan kartu indetitas itu,” ujar Rochmat seperti dikutip Kompas di Jakarta, Rabu (19/10).

Pada Januari 2016, Rochmat mempunyai ide untuk mengembalikan ponsel dan kartu indetitas tersebut, yakni dengan memposting foto kedua barang tersebut di sosial media Twitter. Namun, usaha tersebut tidak membuahkan hasil, karena dirinya tidak menemukan pemilik kedua barang tersebut, walaupun banyak orang Jepang berkomentar dalam postingan Twitter milik Rochmat.

Saat itu, Rochmat tidak patah arang untuk mencari pemilik kedua barang tersebut. Rochmat teringat memilik teman asli Jepang yang pernah bekerja di Indonesia. Sehingga Rochmat meminta bantuan temannya dengan memberikan kartu indetitas yang berbahasa Jepang.

Berkat bantuan temannya, Rochmat pun mendapatkan informasi bahwa pemilik kedua barang tersebut merupakan mahasiswa Universitas Yokohama, Jepang. Setelah mendapat informasi tersebut, Rochmat langsung menelpon pihak universitas tersebut.

Saat ditelepon, pihak universitas mengakui bahwa kartu indentitas tersebut milik salah satu mahasiswanya yang bernama Shota Noda. Namun, pihak universitas meminta kepada Rochmat untuk membuang kedua barang yang ditemukannya.

Akan tetapi, Rochmat tidak mau membuang kedua barang tersebut. Rochmat kembali mencari ide lain untuk menemukan pemilik kedua barang tersebut. Sehingga, tercetuslah ide untuk mencari lewat sosial media Facebook.

“Saya langsung cari di Facebook. Dengan mencari nama Shota Noda dan mencocokan foto dari kartu indetitas dengan foto profil. Setelah menemukan satu Facebook yang fotonya dilihat mirip saya langsung menuliskan pesan ke Facebook dengan nama Shota Noda,” ungkap dia.

Pada saat itu juga, Shota Noda langsung menjawab pesan yang dituliskan Rochmat. Shota Noda membenarkan bahwa kedua barang yang ditemukan Rochmat adalah barang miliknya.

Hati Rochmat merasa lega setelah menemukan pemilik kedua barang tersebut. Selama Januari sampai Mei 2016 mereka berdua saling membalas pesan masing-masing.

Pada bulan Juni 2016, Noda menawarkan ide kepada Rochmat. Noda menawarkan, agar kedua barang tersebut dititipkan ke temannya yang sedang berada di Indonesia. Tawaran tersebut lebih terjangkau dibandingkan mengirim lewat pos yang biaya mahal. Rochmat pun langsung menyetujui tawaran tersebut.

Kemudian, Rochmat membuat perjanjian pertemuan dengan teman Noda di Stasiun Manggarai pada jam pulang kerja. Namun, sayangnya Rochmat yang sudah menunggu sampai malam tidak berhasil bertemu dengan temannya Noda.

“Saya pun langsung tulis pesan ke Noda. Saya nanya mau bagaimana mengembalikan barang itu. Apakah mau diserahkan ke polisi, tetapi saya bilang itu percuma pasti tidak bakal sampai ke Jepang,” tutur dia.

Akhirnya pada Juli 2016, Noda pun mengabarkan kepada Rochmat bahwa dirinya akan ke Indonesia. Rochmat sangat gembira mendengar rencana Shota Noda tersebut.

Rochmat pun langsung membuat perjanjian pertemuan dengan yang lagi-lagi di Stasiun Manggarai.

“Pada hari ketemuan saya langsung menghampiri orang yang saya nilai mirip Noda dan ternyata benar orang yang saya Sapa itu Noda. Saya pun langsung memberikan kedua barang tersebut. Dan saya lihat wajah Noda terharu karena tidak percaya barangnya yang telah lama hilang kembali lagi,” imbuh dia.

Setelah melakukan pertemuan Rochmat mengajak Noda untuk makan di daerah Tebet. Karena keterbatasan bahasa, Rochmat dan Noda berkomunikasi dengan bantuan dari Google translate.

Jalinan persahabatan keduanya terus berlanjut ketika Rochmat berkesempatan mengunjungi Tokyo pada Agustus 2016 lalu dan Noda mengajaknya berkeliling kota.

Di Tokyo Rochmat dan Noda sempat diwawancarai oleh media setempat untuk menceritakan persahabatan yang tidak terduga itu. Hingga saat ini, Rochmat mengungkapkan masih sering berkomunikasi dengan Noda. Rochmat berpesan kepada semua masyarakat agar menjalin pertemanan tidak memandang dari apapun. “Tetapi harus dari niat yang tulus untuk berteman. Kalau kita ingin jujur lakukanlah dari hal yang kecil,” pungkas dia. (ist)

Bagikan artikel ini