Karya Guruh Soekarnoputra di TAFISA 2016

Karya Guruh Soekarnoputra di TAFISA 2016

Pergelaran seni tradisional Indonesia yang dikemas sedemikian rupa oleh seniman Guruh Soekarnoputra menjadi sajian utama dalam pembukaan The Association for International Sport for All (TAFISA) World Sport for All Games atau Pesta Olahraga Masyarakat 2016 di Jakarta, akhir pekan lalu.

Sejak alat musik dol dari Bengkulu dipukul Wapres Jusuf Kalla sebagai tanda resmi dimulainya TAFISA 2016, satu demi satu tarian, nyanyian hingga pertunjukan pencak silat memasuki panggung yang terletak di Pantai Carnaval Ancol Beach City (ABC), Taman Impian Jaya Ancol.

Awalnya, Guruh menampilkan campuran tarian tradisional dari beberapa daerah di Indonesia sebagai pembukaan. Lenggak-lenggok para penari diiringi latar belakang seni grafis hasil olahan para teknisi digital.

Kemudian muncullah penyanyi Lea Simanjuntak dengan suara soprannya, melantunkan lagu tentang keindahan alam Indonesia.

Usai penampilan penyanyi bersuku Batak itu, para penonton acara pembukaan dengan tema ‘Budaya Bertemu Teknologi, di Laut Indonesia Hebat’ kemudian dihibur goyangan Tari Sajojo bersama lagu dengan judul yang sama dibawakan Edo Kondologit.

Setelah itu, ada penampilan pencak silat dan tarian dari Minahasa, Sulawesi Utara dilanjutkan dengan peragaan senam Poco-poco.

Penonton yang basah karena hujan, sebab di lokasi pembukaan tidak beratap, kemudian ‘dihangatkan’ dengan lagu dari paduan suara yang menyanyikan lagu ‘Aku Makin Cinta’ yang dipopulerkan biduan Vina Panduwinata dan ‘I Have a Dream’, lagu terkenal dari kelompok ABBA.

Tidak lama setelah penonton ikut bernyanyi, putra Bung Karno itu menampilkan pertunjukan alat musik khas Bengkulu, Dol. Lalu kemudian diikuti penampilan Krisdayanti, menyanyikan lagu yang dipopulerkannya ‘Mahadaya Cinta’.

Berlanjut lagi dengan penampilan Tari Paraga dari Sulawesi Tenggara. Tarian ini memadupadankan pengendalian bola rotan menggunakan kaki sembari penari melakukan gerak akrobatik satu sama lain.

Pertunjukan Bambu Gila dari Maluku dan Tari Saman suku Gayo Aceh kemudian menjadi penampilan terakhir sebelum acara ditutup dengan Puspa Ragam Indonesia, pertunjukan bersambung (medley) beberapa tarian dan lagu Nusantara.

TAFISA World Sport for All Games 2016 di Jakarta mengambil tema ‘Unity in Diversity’ atau Persatuan dalam Perbedaan. “Ini bentuk persatuan antara Nusantara dan dunia,” ujar Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani. (sak)

Bagikan artikel ini