Kekayaan Tradisi, Sumber Tiada Habis

Kekayaan Tradisi, Sumber Tiada Habis

Sebagai negara besar yang menaungi lebih dari 700 suku dimana masing-masing etnis memiliki kultur, budaya dan kesenian tradisi yang spesifik seharusnya menjadi lahan subur bagi pegiat film.

Menggali kekayaan tradisi sebagai sumber garapan menjanjikan para kreator Indonesia bisa memperoleh ruang kompetisi di kelas dunia.

Pemikiran tersebut akan disuguhkan pada para peserta seminar ‘Merayakan Seni Tradisi dalam Film Nasional’ di Hotel Garden Palace, jalan Yos Sudarso, dalam mewarnai Hari Film Nasional, akhir pekan lalu.

Malam harinya digelar pementasan ludruk di Gedung Kebudayaan Balai Pemuda Surabaya oleh Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara menyajikan lakon ‘Guruku Tersayang’, disutradarai oleh Meimura yang mengadaptasi naskah teater ‘Bui’ karya Akhudiat. Format pertunjukkannya, memadukan seni ludruk dengan media film.

Program perayaan Hari Film Nasional 2018 ini dibesut bareng-bareng antara Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara bersama Docnet (Documentary Networking), BanyuCindih Creative Banyuwangi serta Rumah Imaji Surabaya.

Sebagai ponsori adalah Pusat Pengembangan Perfilman Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Sementara tempat pertunjukkan ludruk film difasilitasi oleh Pemerintah Kota Surabaya.

Sebanyak 250 undangan diberikan pada komunitas film, mahasiswa dan siswa sekolah kejuruan. “Melalui momen ini kami ingin memberi referensi kreatif dan dinamis tentang perancangan dan pelaksanaan produksi film seni tradisi bagi komunitas dan pegiat film dokumenter Jawa Timur,” tutur narasumber Vicky Hendri Kurniawan menambahan bahwa seni tradisi merupakan sumber garapan film yang tiada habis.

Sebagai pegiat film, Vicky telah menandai prestasinya sebagai sutradara film dokumenter yang beberapa karyanya berhasil mengail penghargaan.

Satu diantaranya adalah film “Tledhek”, mendapat penghargaan khusus-penyutradaraan terbaik Denpasar Film Festival 2016 serta 5 Film Dokumenter Terbaik Apresiasi Film Indonesia 2016.

Pada acara yang dimoderatori Yuslifar ‘Ujang’ M Junus, juga menghadirkan narasumber lainnya, Heru Purwanto yang menggunakan nama popular, Heirosay.

Dari fotografer dia beralih ke sinematografi dan telah melahirkan banyak karya, diantaranya ‘The People of Ludruk’ (2016). Karyanya ‘Menunggu’ berhasil meraih sinematografi terbaik pada Festival Film Jawa Timur 2012.

Berdasar pengalamannya menggarap banyak film dokumenter berlatar seni tradisi, Heirosay akan menggugah paramuda untuk memproduksi film bertema seni tradisi. Di sisi seminar juga ditayangkan karya-karya film berbasis seni tradisi yang diolah filmmaker Jawa Timur. (ist)

Bagikan artikel ini