Khofifah, Antara Kopi dan Kain Tenun

Khofifah, Antara Kopi dan Kain Tenun

Siapa yang tidak mengerti Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa. Ketua Muslimat NU ini ternyata hobi menikmati kopi dan suka dengan kain tenun yang menjadi kain asli Indonesia.

Tidak ada jenis kopi khusus yang disukai Mensos. Arabica maupun Robusta sama-sama disukai. Hanya, menurutnya, kopi yang dicampur kapulaga itu memiliki cita rasa tersendiri yang cukup menggoda. “Kopi kalau ada yang diramu dengan kapulaga itu lebih keren. Banyak loh jenis kopi di Jatim ini yang enak,” ujar Khofifah saat ditemui media belum lama ini.

Menurutnya, untuk mendapatkan aroma dan cita rasa kopi, lebih baik tidak dikasih gula. Minum kopi diberi gula, aroma bisa hilang seketika. Karena campuran antara kopi dengan gula, rasanya bisa berubah menjadi asem. “Sampean itu minum kopi apa gula. Bukan manis sebenarnya justru asem. Berubah. Kan kita ingin menikmati rasa kopinya,” jelasnya.

Selain kopi, wanita asli Surabaya ini juga gemar mengoleksi batik dan kain tenun. Setiap kali mengunjungi suatu daerah, kemudian melihat ada potensi kain tradisionalnya yang bagus.

Khofifah mengaku sering kali membelinya. Salah satu koleksinya adalah kain batik asal Sampang. Serta, kain tenun dari Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Setiap berkunjung ke dua daerah ini, pasti mengunjungi para perajin batik maupun tenun di kampung perajin.

“Saya paling suka itu batik dari Madura. Kalau tenun, ya dari NTB. Kelebihan batik Madura ini adalah batik tulis. Bagaimanapun motifnya pasti batik tulis,” urainya. Dia pun membandingkan batik Madura dengan Pekalongan atau Solo yang saat ini sudah banyak memakai cap.

Kain tenun ini, yang sempat mengejutkan oleh Khofifah adalah kain tenun asal Lamongan. Dia tidak menduga kota di pesisir utara Jatim tersebut memiliki tenun yang mirip dengan kain milik Kendari, Sulawesi Utara. “Biasanya saya menjahit kain yang diperoleh ini dibantu oleh ahlinya, biar bagus hasilnya,” urainya.

Soal kain tenun ini, Khofifah punya cerita sendiri. Pernah sewaktu dia menjabat sebagai anggota DPR RI pada 1994 silam, mengunjungi Sumatera Barat. Ketika itu dirinya melihat produksi kain tenun Silungkang menurun.

Koordinasi pun lantas dilakukan dengan anggota DPR RI lainnya untuk mempersiapkan angaran pengembangan industri tenun Silungkang. “Tahun lalu saya ke sana lagi. Pertumbuhannya sudah luar biasa. Bahkan kalau saya amati bisa menjadi model update tenun,” tandasnya. (rdr)

Bagikan artikel ini