Kreasi Patchwork dan Quilting di Malang

Kreasi Patchwork dan Quilting di Malang

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) memfasilitasi pembentukan ekosistem pusat kreatif Patchwork & Quilting di Kota Malang, Jawa Timur. Pembentukan ekosistem dimulai dengan penyelenggaraan lokakarya atau workshop patchwork dan quilting yang terselenggara dalam tiga tahap.

Setiap tahapan workshop berlangsung tiap bulan selama tiga hari, yaitu Agustus, September, dan Oktober. Bulan ini merupakan workshop ketiga dari seluruh rangkaian kegiatan yang berakhir Kamis (6/10) di Hotel Aria Gajayana, Malang.

Patchwork atau “pieced work” merupakan bentuk sulam yang dihasilkan dari menjahit potongan-potongan kain menjadi sebuah produk yang biasanya menggunakan kain perca sebagai bahan utama.

Sedangkan quilting adalah proses membuat selimut dengan menyusun dan menggabungkan kain perca warna-warni, termasuk menyisipkan dakron di antara lembaran kain lalu dijahit rapi.

Workshop dan pelatihan-pelatihan akan merangsang dan menciptakan para pebisnis baru sekaligus meningkatkan keahlian sumber daya manusia. Kemunculan para pebisnis di industri seni kriya kain lantas akan membentuk satu ekosistem.

Harapannya, ekosistem yang sudah terbangun dengan baik akan tumbuh matang menjadi sebuah industri dari hulu ke hilir. “Program ini dibuat atas dasar masih terbukanya peluang usaha kerajinan kain perca untuk dikembangkan oleh masyarakat Malang,” ucap Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf di Jakarta.

Hobi Menghasilkan

Workshop yang berlangsung sejak 8 Agustus ini diikuti 50 orang peserta dari Komunitas Malang Raya yang sudah bisa menjahit. Pada tahap pertama, di bulan Agustus, mereka mempelajari lima motif dan mempraktikkannya pada kain 6 inci x 6 inci. Kemudian, sebagai pekerjaan rumah (PR), peserta mendapat tugas membuat 5 motif di selimut sebenarnya, yaitu 12 inci x 12 inci.

Di tahap kedua, dengan pola pengajaran sama, para peserta diajari 7 motif berbeda. Tahap terakhir, selama tiga hari, peserta mengaplikasikan 12 motif untuk wall hanging.

“Kami belajar pola dasar patchwork dan quilting di workshop ini. Favorit saya adalah motif spool yang berbentuk gulungan benang lucu,” ucap Lusiana Limono, salah satu peserta workshop.

Wanita yang dalam keseharian menyalurkan bakatnya di bidang kriya, kerajinan tekstil, rajutan, dan batik ini, menyatakan bersemangat dan senang mengikuti workshop. Awalnya hanya melihat buku. Ikut workshop, Lusiana bisa belajar lebih dalam lagi dan menyalurkan minatnya.

Lusiana menambahkan, ia ingin mendalami patchwork dan quilting supaya bisa membuat produk siap jual. “Saya ingin, yang tadinya hobi jadi bisa menghasilkan. Dengan terselenggaranya acara ini, orang yang tertarik pada bidang yang sama bisa berkumpul sehingga tercipta ekosistem. Kami saling bertukar informasi dan bertukar ide kreatif. Rencananya, kami akan bertemu secara rutin,” tegas Lusiana.

Pesan Lusiana, siapa saja yang ikut workshop patchwork dan quilts Bekraf, sebaiknya mengikuti dari awal sampai akhir dengan tekun. Jangan berhenti di tengah jalan dan jangan takut tertusuk jarum.

Puluhan Juta
Deputi III Bidang Infrastruktur Bekraf Hari Santosa Sungkari mengatakan, melalui program fasilitasi yang diisi dengan pelatihan dan pendampingan ini diharapkan akan mendorong munculnya tangan-tangan kreatif.

“Sehingga, kain perca yang selama ini dianggap kurang bermanfaat bisa dikreasikan menjadi berbagai barang bernilai seni, menarik, serta bernilai ekonomis,” ucap Deputi III Bidang Infrastruktur Bekraf Hari Santosa Sungkari.

Direktur Fasilitasi Infrastruktur Fisik Bekraf, Selliane Halia Ishak menambahkan, melalui pelatihan dan pendampingan, para peserta yang terlibat diharapkan mampu menangkap potensi kerajinan patchwork dan quilting sangat besar dan bagus. Bahkan, hasil kreasi kain perca ini harganya ada yang menyentuh angka puluhan juta rupiah.

“Sebanyak 50 orang yang berasal dari Komunitas Malang Raya ini memiliki motivasi dan semangat yang sangat tinggi mengikuti program ini dan telah terbukti selama tiga bulan ini mampu menghasilkan kreasi yang luar biasa,” jelas Selliane.

Lebih jauh Selliane menjelaskan, semua peserta terbukti memiliki semangat dan potensi bagus untuk berkembang. Oleh karena itu, hingga akhir program nanti, mereka akan terus dibina sehingga benar-benar mahir.

“Alhasil, selama tiga bulan program ini berjalan, para peserta telah menghasilkan kreasi yang sudah bagus, ke depan tinggal menyalurkannya saja ke pasar yang saat ini untuk di Indonesia masih terbuka sangat luas dan bagus,” terang Selliane.

Dengan ekosistem yang baik dan matang, Selliane berharap industri kreatif dari hulu sampai hilir. Jika itu bisa terjadi, ke depannya tentu akan sangat bagus untuk pengembangan ekonomi kreatif di Kota Malang dan sekitarnya secara khusus dan di Indonesia secara menyeluruh. (sak)

Bagikan artikel ini