Lokasi Likuifaksi Palu Dijadikan RTH

Lokasi Likuifaksi Palu Dijadikan RTH

Pemprov Sulawesi Tengah berencana membangun Monumen Bencana Likuifaksi di Wilayah Kelurahan Petobo dan Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah.

Sesuai rekomendasi Badan Geologi, Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM), di lokasi terjadinya bencana likuifaksi tidak lagi dijadikan sebagai lokasi hunian. Tujuannya agar tidak terulang hal yang sama seperti yang saat ini terjadi. Langkah ini merupakan bagian dari mitigasi bencana geologi

“Menurut laporan yang saya terima dari Badan Geologi, daerah ini dahulunya adalah swamp (rawa-rawa) sehingga memungkinkan atau rawan terhadap terjadinya likuifaksi. Dan untuk menghindari agar tidak terjadi hal sama, Badan Geologi akan memetakan wilayah-wilayah yang rawan terjadinya likuifaksi,” ujar Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar saat meninjau lokasi terjadi bencana likuifaksi di Kelurahan Balaroa, Kamis (11/10).

Wilayah terdampak likuifaksi tinggi tidak layak untuk didiami. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah akan menjadikannya sebagai monumen dalam bentuk ruang terbuka hijau.

Hal ini sesuai dengan rekomendasi yang dikeluarkan Badan Geologi bahwa rekonstruksi dan rehabilitasi paska gempa di Sulawesi Tengah hendaknya mengacu pada Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gempa Bumi, Peta KRB Tsunami dan Peta Potensi Likuifaksi yang diterbitkan oleh Badan Geologi.

Wilayah Palu dan sekitarnya menurut Kepala Badan Geologi, Rudy Suhendar merupakan wilayah dengan potensi tinggi untuk terjadinya likuifaksi. Tiga wilayah yang mengalami kejadian bencana likuifaksi, pertama Kelurahan Petobo, kedua Balaroa, dan ketiga Kelurahan Jono Oge di Kabupaten Sigi.

Dari ketiga wilayah itu, dua lokasi direkomendasikan untuk tidak didiami yakni Kelurahan Petobo dan Balaroa, karena kedua lokasi ini mengalami bencana likuifaksi yang masif sedangkan Jono Oge tidak.

“Informasi dari Pemerintah Daerah, bahwa wilayah yang terkena bencana likuifaksi tidak akan dihuni dan akan dijadikan semacam memorial fact, karena dua wilayah ini sudah tidak stabil lagi untuk didirikan bangunan dan dua wilayah ini berdasarkan Peta Likufaksi tahun 2012 merupakan wilayah dengan potensi terjadinya likuifaksi tertinggi,” ujar Rudy.

Kepala Dinas ESDM Provinsi Sulawesi Tengah, Yanmart Nainggolan mengatakan saat sedang menunggu hasil kerja dari tim Badan Geologi yang sedang memetakan lokasi-lokasi mana yang stabil, mana yang tidak.

“Hasil kerja Badan Geologi tersebut akan dimasukkan dalam Peta Tata Ruang yang menjadi pedoman dalam melaksanakan tata ruang mana lokasi red area, yellow area dan lokasi green area,” jelas Yanmart. (sak)

Bagikan artikel ini