LTSHE Membuat Asmat Makin Membaik

LTSHE Membuat Asmat Makin Membaik

Sebulan terakhir, Kabupaten Asmat Provinsi Papua menjadi ramai dikunjungi para petugas kesehatan dan relawan karena Wilayah Asmat ditetapkan sebagai daerah Kejadian Luar Biasa (KLB) gizi buruk dan penyakit campak.

Namun sejak 16 Februari lalu Kondisi Luar Biasa sudah dicabut dan berangsur-angsur semua masalah kesehatan ditangani dengan baik.

Kementerian ESDM melalui Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Ir Rida Mulyana mengatakan terdapat program Lampu Terang Surya Hemat Energi (LTSHE) Untuk Kabupaten Asmat. Namun pembagian ini bukan karena adanya KLB gizi buruk tersebut, tapi memang sudah diprogramkan sebelumnya.

“Bahwa program pembagian lampu gratis ini bukan karena adanya KLB tersebut, namun kami sudah memprogramkan lama untuk saudara-saudara kita yang belum menikmati listrik sama sekali,” tegas Rida Mulyana.

Kabupaten Asmat mendapatkan alokasi sebanyak 922 unit LTSHE yang berada di 8 (delapan) kecamatan/distrik di 15 (lima belas) Desa, yaitu Kecamatan Fayit terdapat 2 desa sebanyak 145 Unit, Kecamatan Betcbamu terdapat 1 desa sebanyak 93 unit, Kecamatan Pulau Tiga terdapat 2 desa sebanyak 75 unit.

Juga di Kecamatan Kopay terdapat 1 desa sebanyak 62 unit, Kecamatan Pulau Aswi terdapat 1 desa sebanyak 56 unit, Kecamatan Suru-Suru terdapat 2 desa sebanyak 75 unit, Kecamatan Suator terdapat 1 desa sebanyak 103 unit, dan Kecamatan Kolf Braza terdapat 5 desa sebanyak 313 unit.

Bupati Asmat Elisa Kambu menyampaikan rasa terima kasih kepada pemerintah pusat dan Presiden Jokowi. “Adanya lampu LTSHE ini masyarakat merasa senang karena adanya terang di Kampung-kampung Asmat, dengan adanya lampu ini kondisi masyarakat akan semakin membaik”.

Namun masih terdapat kekhawatiran Bapak Bupati karena kondisi masyarakat yang tidak paham teknologi ini. “Saya mengharapkan pemerintah juga memberikan PLTS (Pusat Listrik Tenaga Surya), karena akan lebih mudah mengelolanya karena terpusat” jelas Elisa Kambu.

Kekhawatiran Bapak Bupati dijawab Rida bahwa yang dibeli adalah terangnya. “Yang dibeli adalah terangnya selama 3 (tiga) tahun bukan produknya, jika ada masalah silahkan sampaikan ke penyedia atau kami, penyedia akan memperbaikinya” tegas Rida.

Bahwa usulan tersebut akan jadi masukan dalam penyusunan program penerangan dikawasan 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal). “Kalo emang butuhnya PLTS silahkan sediakan lahannya dan diajukan proposal. Kami bangun PLTS seperti itu di tempat lain. Kita sudah bangun 500an unit PLTS di Indonesia,” ungkap Rida. (sak)

Bagikan artikel ini