Lutvyi: Pernah Gagal Akhirnya Wakili Unair

Lutvyi: Pernah Gagal Akhirnya Wakili Unair

Pernah gagal dalam seleksi Mahasiswa Berprestasi (Mawapres), tidak jadi penghalang bagi Lutvy Arsanti mencapai harapannya. Dua kali gagal dalam ajang seleksi, mahasiswa jurusan D3 Bahasa Inggris Fakultas Vokasi Unair ini berkesempatan mewakili Unair dalam ajang tingkat Nasional.

Mahasiswa yang akrab disapa Lutvy ini mengungkapkan langkahnya ingin menjadi Mawapres bermula saat ikut PPKMB di awal mahasiswa baru. Mahasiswa yang mulanya tak memiliki minat berorganisasi akhirnya mulai menjajaki dan mencoba ikut ajang latihan kepemimpinan sebagai satu syarat menjadi Mawapres.

“Awalnya penasaran saat ada pemateri mengenai Mawapres waktu PPKMB. Saya mulai pahami persyaratannya apa saja yang diperlukan, salah satunya harus aktif organisasi yang mulanya hal yang kurang saya minati,” jelasnya melalui Humas Unair.

Tekat menjadi Mawapres tak dilaluinya dengan mudah, berbagai tantangan dihadapi. Terlebih saat berkesempatan maju ke tingkat nasional kali ini harus diterima saat tengah menyelesaikan tugas akhir sebagai syarat meraih gelar Ahli Madya. Ia mengaku, sempat ada keinginan menolak tawaran melanjutkan langkah ke ajang nasional.

“Awalnya setelah dapat kabar dari ya mau mundur, karena takut bentrok dengan TA,” imbuh mahasiswa yang hobi menulis dan mendengarkan musik ini.

Rasa ingin mundur perempuan kelahiran Mojokerto, 8 Agustus 1995 bukan tanpa sebab. Pasalnya, selepas lulus dari D3 Bahasa Inggris, ia berencana alih jenis ke program Strata 1. “Karena setelah lulus Diploma saya mau lanjut ke S1, jadi butuh persiapan matang juga,” tegasnya.

Dibalik berbagai hal yang memberatkan langkah maju ke tingkat nasional, peraih IPK 3.72 ini memiliki trik dan cara membagi berbagai tugasnya. Selain lihai mengatur waktu, Lutvy juga memiliki motivasi bahwa kesempatan itu tidak datang kedua kalinya. “Kesempatan itu hanya sekali, ya harus dimaksimalkan,” tegasnya.

Tak hanya motivasi dan kecerdasan dalam manajemen waktu, baginya mental juga perlu dipersiapkan. Berbekal cerita seniornya yang memiliki pengalaman sama, tidak sedikit dari mereka yang memilih mundur dari Mawapres demi tugas akhir. “Berbekal pengalaman tersebut, penting untuk menyiapkan semua hal sejak dini, semua memang tidak bisa dadakan, termasuk untuk menjadi seorang Mawapres,” pungkasnya.(sak)

Bagikan artikel ini