LZY Visual ITS Raih Juara di Rumania

LZY Visual ITS Raih Juara di Rumania

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembali mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Enam mahasiswa yang tergabung dalam tim LZY Visual dalam ajang Video-Maping Internasional, Light Up Festival Romania di Iasi, Rumania, akhir pekan lalu.

Tim ITS yang berhasil menyabet juara ketiga dalam kompetisi bergengsi tingkat internasional itu terdiri Esa Perkasa Novesada, Mohammad Edo Barudy, Akbar Maulana S, Haris Wiratina, Tedi Mursalat, dan Dwi Prasetyo. Keenamnya merupakan mahasiswa Desain Visual Komunikasi yang berda di bawah Departemen Desain Produk Industri (Despro).

Kompetisi yang dihelat perusahaan IULIUS ini merupakan suatu kompetisi video mapping skala internasional. Video mapping ini merupakan teknologi proyeksi yang menggunakan bangunan sebagai layar display untuk video.

Pada kompetisi ini peserta harus melakukan pemetaan visual interaktif dengan objek bangunan yang digunakan dalam lomba ini yaitu Palace of Culture di Iasi.

“Juli lalu, kami sudah mengirimkan video demo berdurasi 30 detik berjudul Mysterious Egg,” jelas Esa Perkasa Novesada, ketua tim LZY Visual seperti dilaporkan ITS Online, Selasa (31/10).

Video demo itulah kunci penting yang menghantarkan tim LZY Visual lolos ke babak final. Bersanding dengan lima tim lain yang berasal dari tuan rumah Rumania, Ukraina, Jerman, serta Prancis.

Tidak hanya video demo, lanjutnya, para peserta juga diharuskan mencantumkan deskripsi singkat serta konsep yang diajukan dalam skenario video-mapping tersebut.

“Babak penyisihan ini cukup ketat. Beberapa poin yang dinilai adalah konten, kreativitas, teknik visualisasi, serta pesan yang dibawa. Kami berusaha memenangkan hati juri dengan membawa ciri khas Indonesia,” ujar mahasiswa yang akrab disapa Esa ini.

Ditanya mengenai detail konsep, Esa menuturkan bahwa semua terinspirasi dari kehidupan sehari-hari. Mengangkat judul Mysterious Egg, video Esa bersama timnya mencoba menarasikan tentang kemampuan tiap pribadi manusia dalam mengendalikan dan mengubah dunia. “Kata telur di sini menggambarkan titik mula perjalanan seorang insan manusia,” tuturnya.

Pada hakekatnya, lanjut Esa, semua manusia dilahirkan dalam keadaan yang suci, terlambang dengan kemilau cahaya berwarna putih. Namun pada akhirnya semua bergantung pada energi positif dan negatif yang memengaruhinya.

“Apabila manusia dipengaruhi energi positif maka dunia akan indah dan damai dibuatnya. Begitu pula sebaliknya, jika lebih banyak energi negatif yang mempengaruhi, maka hanya kerusakan dan kehancuran yang ada,” papar Esa lagi.

Dari hal itulah kemudian muncul cahaya baru bernama kecerdasan. Tim yang juga menggondol emas dalam ajang Pimnas 28 ini mencoba menjabarkan bahwa kecerdasan di sini tidak hanya kecerdasan otak, namun juga kecerdasan spiritual.

Akumulasi dari semua energi positif itu nantinya akan menumbuhkan rasa empati pada dunia dan lingkungan. Kemudian dari empati tersebut hadirlah peradaban yang berkebudayaan dan berkarakter.

“Pada kesempatan ini budaya yang kami bawakan adalah kesenian Barong Bali, topeng Malangan, batik, serta kapal selam ikonik Pasopati 410 dari Surabaya,” aku mahasiswa angkatan 2013 ini penuh antusias. Cahaya, pengetahuan, dan empati. Tiga pesan itulah yang coba dirangkum oleh Esa dan tim dalam video yang berdurasi lima menit tersebut.

Seminggu sebelum keberangkatan ke Rumania, tim LZY juga telah berhasil meraih juara 1 nasional di ajang Ultigraph 2017. Hasil dari juara di ajang nasional ini dijadikan bahan evaluasi dan pembelajaran hingga akhirnya mereka dapat juara tiga tingkat internasional di Rumania.

Di malam final, video karya para finalis kemudian disiarkan dan disaksikan secara langung oleh 15 juta penonton serta live streaming di acara televisi Rumania. “Sangat bangga, semua ini untuk Indonesia,” tutup Esa. (sak)

Bagikan artikel ini