Merapi Lebih Dekat: Dulu dan Kini

Merapi Lebih Dekat: Dulu dan Kini

Sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia, saat ini Gunung Merapi sedang mengalami aktivitas yang berada di atas kondisi normalnya.

Pengamatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa saat ini kubah lava Gunung Merapi sedang mengalami pertumbuhan, walau masih terhitung rendah.

Volume kubah lava pertanggal 25 Agustus 2018 lalu, teramati sebesar 32.000 meter kubik (m3) dengan laju pertumbuhan rata-rata 6.000 m3 setiap harinya.

Pada Sabtu (18/8) lalu tim BPPTKG melakukan pengecekan langsung ke puncak dan dipastikan bahwa terdapat kubah lava baru dengan dimensi panjang sekitar 55 dan lebar sekitar 25 m tinggi sekitar 5 m dari permukaan kubah 2010.

Kemunculan kubah lava ini menandakan bahwa fase erupsi magmatik Gunung Merapi telah dimulai dengan erupsi yang cenderung bersifat efusif.

Kini, Merapi sedang berada pada status Waspada.

BPPTKG merilis letusan terakhir Merapi terjadi pada 1 Juni 2018 lalu. Di mana tinggi kolom abu teramati mencapai 1 kilometer di atas puncak.

Selanjutnya terjadi beberapa kali peningkatan kegempaan pada 18 Juli dan 29 Juli 2018, kemudian terjadi guguran sedang pada 1 Agustus 2018, serta gempa hembusan besar pada 11 Agustus 2018.

“Merapi tak pernah ingkar janji” itulah istilah yang kerap digunakan untuk menggambarkan gunung yang ada di perbatasan DIY-Jateng tersebut.

Karena Merapi merupakan gunung dengan karakter dan tipe yang jelas dalam setiap letusannya. Periode letusannya juga bisa ditebak antara 2,5 sampai 4 tahun sekali. Tahapan letusannya pun juga jelas.

Namun, letusan Merapi di tahun 2010 seakan menjadi momentum perubahan. Inilah yang kemudian dirangkum dalam sebuah film dokumenter “Mahaguru Merapi” yang digagas BPPTKG dan dirilis tahun 2014 silam.

Erupsi Merapi 2010
Tahun 2010, Merapi meletus hebat. Penyelidik bumi senior BPPTKG, Subandriyo, mengatakan bahwa gejala meletusnya Gunung Merapi telah muncul pada tahun 2009, ditandai dengan terjadinya gempa vulkanik.

“Tahun 2009 mulai ada gejala yang mengarah ke sana. Terjadi gempa vulkanik terasa. Dan itu berulang. Memasuki 2010 awal, makin nyata kejadian itu, gempanya semakin banyak,” terangnya dalam acara Temu Netizen ke-10 “Mahaguru Merapi” di Yogyakarta (24/8).

Selain itu, terjadi pula perubahan deformasi pada tubuh Gunung Merapi. “Deformasinya, tubuh gunungapi itu mulai mengembang. Bulan Maret (status Gunung Merapi) dinaikkan menjadi Waspada, kemudian terus berkembang terus, makin mengembang. Tanggal 20 Oktober waktu itu aktivitas gempanya sudah sangat tinggi, mencapai ratusan kali sehari, pengembangannya sudah mencapai 10 cm perhari. Tetapi di permukaan belum terlihat tandanya,” ujar Subandriyo.

Status Awas ditetapkan pada 25 Oktober 2010. Erupsi pun dimulai 26 Oktober 2010, dan diikuti letusan-letusan yang lebih eksplosif. Pada 3 November 2010, awan panas mulai muncul. Sehari setelahnya, gempa tremor overscale terjadi terus menerus, serta terjadi peningkatan massa SO2 di udara mencapai lebih dari 100 kiloton.

Puncaknya pada 5 November 2010, kubah lava runtuh dan mengakibatkan awan panas mencapai 15 kilometer dari puncak gunung, meluncur ke arah Kali Gendol. Ketika itu, radius aman ditetapkan sejauh 20 kilometer dari puncak gunung, karena erupsi terus menerus dan peningkatan jumlah SO2 di udara. Sehari kemudian, gempa tremor masih berlangsung, massa SO2 mencapai puncaknya, yakni 250-300 kiloton.

Setelah letusan besar itu, kondisi Gunung Merapi berangsur pulih. BPPTKG mencatat penurunan aktivitas dan intensitas erupsi pada 13 November 2010. Radius bahaya pun dikurangi, terutama di Klaten dan Boyolali (10 km), Magelang (15 km), namun radius bahaya di Kabupaten Sleman tetap 20 km.

Pasca erupsi tahun 2010, terbentuk kawah yang membuka ke arah tenggara/selatan membawa implikasi pada ancaman erupsi ke depan akan lebih dominan ke arah selatan. BPPTKG pun menyatakan bahwa sektor selatan Merapi merupakan wilayah dengan indeks risiko tertinggi.

Gunung Merapi diperkirakan telah meletus sejak 3.000 tahun yang lalu. Terhitung pada periode 3.000 hingga 250 tahun yang lalu, Gunung Merapi telah meletus sebanyak 33 kali, di mana tujuh letusan di antaranya adalah letusan besar.

BPPTKG mencatat, memasuki periode Merapi modern, telah terjadi beberapa kali letusan besar yaitu abad ke-19, pada tahun 1822, 1849, dan 1872, serta pada abad ke-20 yaitu tahun 1930-1931.

Berkembang pesatnya media digital terlebih media sosial telah memudahkan sosialisasi dan upaya mitigasi yang dilakukan dalam memantau aktivitas Merapi secara real-time, khususnya melalui akun twitter @bpptkg, juga aplikasi MAGMA Indonesia.

BPPTKG sendiri merupakan bagian dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM. Teknologi dan berbagai penelitian yang dilakukan oleh PVMBG telah berhasil memantau aktifitas gunungapi sehingga kerugian jiwa dan harta dapat diminimalisir.

Bahkan, Lembaga International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth’s Interior (IAVCEI)memberikan penghargaan mitigasi resiko bencana gunungapi terbaik di dunia kepada PVMBG atas kinerja dalam Pemantauan dan Manajemen Krisis Gunungapi.

Penghargaan ini akan diberikan bertepatan dengan penyelenggaraan Cities on Volcanoes yang akan berlangsung pada 2-7 September 2018, di Napoli, Italia. (ist/esdm.go.id)

Bagikan artikel ini